Makan Seafood, Siapa Takut?
Hidangan seafood | Pexels/Dana Tentis

Seafood adalah makanan lezat nan bergizi dan hampir semua orang menyukainya. Namun, bagi sebagian orang, mengonsumsi seafood menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan.

Alih-alih menikmati lezatnya, mereka merasakan gatal-gatal, diare, atau bahkan gejala lain yang mengganggu. Sebagian menganggap itu alergi tapi ada juga kejadian keracunan. Apa bedanya?

Antara alergi dan keracunan, terkadang orang tidak bisa membedakan. Banyak yang kemudian menghindari secara total untuk mengkonsumsi seafood. Padahal, seafood merupakan makanan dengan kandungan protein tinggi, mudah dicerna, dan mengandung bahan-bahan lain yang bermanfaat bagi kesehatan.

Apa itu alergi?

Ilustrasi obat alergi | Foto: Pexels/cottonbro

Alergi menjadi suatu penyakit disebabkan reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh terhadap komponen makanan yang dikonsumsi yang umumnya adalah protein. Alergi seafood dapat dibedakan menjadi alergi ikan dan alergi kerang-kerangan. Persentase jumlah penderita alergi ikan lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah penderita alergi kerang-kerangan.

Berdasarkan data survei di luar negeri, penderita alergi ikan sebanyak 7 persen dari populasi, sedangkan alergi kerang-kerangan sebanyak 10 persen. Namun, di Indonesia belum diketahui pasti jumlah penderita alergi seafood ini.

Faktor genetik diketahui menjadi penyebab utama munculnya alergi pada seseorang. Namun, faktor lingkungan juga turut berperan dalam peningkatan jumlah penderita alergi. 

Faktor genetik menyebabkan orang-orang, yang disebut individu atopik memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap komponen-komponen makanan termasuk dari seafood. Sistem kekebalan tubuh mereka memproduksi terlalu banyak antibodi tipe E (IgE) sebagai respon terhadap komponen makanan yang masuk. 

Pada individu normal, komponen dalam makanan akan dianggap sebagai komponen yang tidak berbahaya, sehingga individu tersebut akan baik-baik saja ketika mengonsumsi makanan tersebut. Namun pada individu yang atopik, komponen makanan tersebut dianggap berbahaya sehingga tubuh memproduksi IgE untuk menetralisir komponen tersebut.

Proses netralisasi yang dilakukan oleh IgE justru mengakibatkan keluarnya bahan-bahan kimia termasuk histamin ke pembuluh darah. Histamin kemudian mengalir bersama darah ke mata, perut, hidung atau organ-organ lainnya dan menyebabkan reaksi-reaksi alergi seperti gatal-gatal, meler, bersin, diare atau gejala  lainnya.

Ciri keracunan seafood

Seafood | Foto: Pexels/Chairt Goli

Adapun keracunan seafood umumnya disebabkan oleh kontaminasi ganggang berukuran kecil atau bakteri. Kontaminasi ganggang dapat terjadi pada jenis kerang-kerangan dan ikan. Ganggang ini mengeluarkan racun yang apabila terkonsumsi akan menyebabkan mual, muntah, diare, dan sakit pada bagian perut.

Kontaminasi bakteri juga dapat menyebabkan keracunan. Keracunan akibat kontaminasi bakteri banyak terjadi pada ikan-ikan perenang cepat seperti tuna, tongkol, dan cakalang.

Bakteri tersebut tumbuh secara cepat akibat penanganan ikan yang tidak tepat. Ketika ikan disimpan pada suhu di atas 25 ℃ dalam kurun waktu 6 jam, maka bakteri tersebut akan berkembang biak. Dari hasil penelitian, tidak lebih dari 10 bakteri yang menghasilkan histamin pada ikan. Bakteri-bakteri ini secara alami tumbuh pada usus, insang atau kulit ikan. 

Pada proses penangan pasca panen, bakteri ini terbawa ke daging dan mengubah asam amino bebas histidin menjadi histamin. Migrasi bakteri ini terjadi akibat pecahnya jeroan ikan saat proses pengeluaran jeroan-jeroan atau dari kulit yang terbawa ketika ikan dipotong.

Membedakan alergi dengan keracunan

Ilustrasi alergi | Pexels/Pavel Danilyuk

Gejala alergi dan keracunan seafood memang tidak mudah untuk dibedakan, gejala keduanya sangat mirip. Secara medis, alergi dan keracunan dapat dibedakan dengan mendeteksi adanya antibodi IgE dalam tubuh.

Antibodi IgE ini dapat dideteksi dengan uji tusuk atau uji darah menggunakan makanan yang menyebabkan alergi. Hal ini dimungkinkan karena antibodi IgE dan protein makanan penyebab alergi saling berpasangan, seperti halnya gembok dengan anak kunci. Namun, deteksi secara medis ini hanya dapat dilakukan oleh dokter.  

Oleh karena itu, perbedaan yang dapat mudah diidentifikasi dari alergi dan keracunan makanan adalah pada aspek penyebabnya. Alergi disebabkan oleh komponen utama dalam makanan, sedangkan keracunan disebabkan komponen tambahan yang berasal dari luar makanan tersebut.

Untuk mudah membedakan alergi atau keracunan adalah dengan mengamati gejala-gejala yang timbul sebelumnya. Apabila gejala-gejala tersebut muncul setiap kali mengonsumsi seafood, besar kemungkinan itu adalah alergi. Namun, apabila gejala tersebut dirasakan setelah mengkonsumsi seafood yang tidak segar dan bersih, kemungkinannya adalah keracunan seafood.

Jangan takut, tapi perlu hati-hati

Hidangan seafood | Pexels/Pixabay

Lalu, bagaimana kita menghindari timbulnya gejala alergi atau keracunan? Komponen penyebab alergi dari seafood termasuk bagian yang tidak mudah untuk dihilangkan. Komponen tersebut tahan panas sehingga bagi penderita alergi, untuk menghindari timbulnya gejala alergi adalah dengan tidak mengkonsumsi seafood.

Menghindari seafood memang tidak menyenangkan bagi penderita alergi, karena seafood merupakan makanan yang enak. Namun, hal ini penting untuk dilakukan karena saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan alergi.

Obat-obatnya yang ada, seperti antihistamin hanya berfungsi untuk meredakan gejala alergi. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan terpaparnya tubuh oleh makanan penyebab alergi secara terus menerus dapat menimbulkan gejala yang lebih parah.

Penderita alergi harus berhati-hati ketika makan di luar rumah. Bertanya tentang kandungan makanan yang disediakan dapat menghindarkan dari timbulnya gejala alergi.

Adapun keracunan seafood dapat dengan mudah dihindari. Agar hidangan seafood dapat dinikmati secara aman, perlu penanganan khusus untuk mempertahankan mutu dan keamanannya. Dalam industri seafood dikenal istilah C3Q, cool, careful, clean, dan quick atau yang diterjemahkan menjadi ABCD; ati-ati, bersih, cepat, dan dingin.

Penanganan yang baik dengan menerapkan prinsip C3Q dapat mencegah terbentuknya histamin. Bagi konsumen, memilih ikan segar menjadi pilihan terbaik untuk makan seafood tanpa takut.