Mari Mengenal dan Pelajari Intellectual Humility
Berkomunikasi di Dunia Kerja © Unsplash/Headway

Dunia kerja menjadi dunia yang penuh dengan tanda tanya bagi sebagian orang. Membicarakan dunia kerja, banyak orang yang menjadikan dunia ini sebagai wadah untuk berkembang dan mencari pengalaman. Hal tersebut terhitung dari mengasah keahlian kita dalam masing-masing bidang, ataupun dalam bergaul dengan orang-orang di sekitar.

Namun, nyatanya banyak juga orang yang tidak menggunakan wadah tersebut untuk berkembang. Pada akhirnya, mereka tidak mampu untuk bersaing dan bertahan di dunia kerja. Hal tersebut dapat terjadi akibat tidak mampunya seseorang untuk beradaptasi dengan situasi.

Berhadapan dengan orang banyak, baik seseorang yang jabatannya lebih tinggi atau lebih rendah dibanding kita, mengharuskan kita untuk memiliki beberapa sikap untuk dapat bertahan. Maka dari itu, kamu memerlukan intellectual humility, terkhusus di dunia kerja.

Intellectual humility merupakan kemampuan seseorang yang berhubungan dengan kepribadian, mencakupi keterbukaan, rasa penasaran, sampai toleransi akan perbedaan. Kata ‘humility’ berhubungan dengan pengertian sikap rendah hati. Rendah hati terkadang disamakan dengan sikap rendah diri, dimana seseorang selalu merasa rendah dan ‘kekurangan’.

Oleh karena itu, kata ‘humility’ ini dilengkapi oleh kata ‘intellectual’. Intellectual merupakan kata yang berhubungan dengan sikap intelek pada pemikiran kritis dan penelitian. Dalam hal ini, intellectual humility memiliki makna bersikap rendah hati tetapi tetap dengan sikap bijaksana dalam menanggapi suatu kondisi.

Tindakan-tindakan yang ditekankan oleh intellectual humility dapat dinilai dari keterbukaan tindakan atau pikiran seseorang, adanya kemauan belajar dari orang lain atau tidak, menerima perbedaan, sampai berkolaborasi dengan pihak lain.

Apabila seseorang melakukan tindakan-tindakan yang berlawanan, maka seseorang mendapatkan sikap yang berlawanan dari intellectual humility, yaitu intellectual arrogance. Sikap arogan adalah sikap yang ditujukan pada orang-orang yang tidak mau mengakui kesalahannya karena merasa tidak bersalah, selalu merasa benar, dan tidak mau mendengarkan orang lain.

Intellectual arrogance ini menjadi sikap yang harus dihindari. Apabila kita sudah terlarut dengan intellectual arrogance, maka proses belajar kita juga akan terhenti. Intellectual arrogance menjadi berbahaya karena seseorang bisa saja tidak melihat sikap arogan di dalam diri mereka. Mereka tidak menyadari itu, karena mereka sudah dibutakan dengan apa yang mereka miliki saat ini.

Cegah dengan menjadi intellectually humble

Working Environment © Unsplash/Scott Graham
Working Environment © Unsplash/Scott Graham

Untuk itu, terdapat beberapa tindakan yang harus kamu sadari untuk menjadi intellectually humble. Misalnya, apakah kamu sulit untuk menerima pendapat atau masukan dari orang lain?

Untuk mengembangkan diri, janganlah menjadi pribadi yang terlalu fokus dengan apa yang diminati sehingga mereka cenderung melupakan pengetahuan atau keahlian yang lainnya. Mereka menjadi tertutup atas pengetahuan yang dibawa orang lain.

Tindakan atau pendapat kita mungkin saja salah, untuk itulah kita memerlukan pendapat atau masukan orang lain, terkhusus dalam diskusi kelompok. Kita harus berani dalam mengakui kesalahan.

Selanjutnya, apakah kamu memberikan tanggapan melalui kata-kata atau ekspresi wajah yang berujung menjatuhkan orang lain? Kita harus menanamkan pemikiran bahwa terdapat kesalahan yang mungkin luput dari pandangan kita, itu menjadi tugas orang lain dalam memberikan masukan kepada kita.

Jangan berpikir bahwa pendapat atau pola pikirmu selalu superior dibandingkan orang lain, sehingga kamu berpikir bahwa kamu tidak memerlukan kritik. Selain itu, jangan menilai orang lain hanya berbasis pada pandanganmu sendiri tanpa pertimbangan eksternal.

Apabila intellectual arrogance terus diberlakukan dan tidak ada tanda-tanda untuk mengubahnya menjadi intellectual humility, seseorang tidak akan mengalami kemajuan. Seperti yang kita ketahui, seseorang dapat mengalami kemajuan apabila ia mendengarkan masukan dari orang lain sehingga ia bisa menjadi lebih baik lagi.

Jika kita berpikir bahwa pola pikir dan tindakan kita adalah yang terbaik, maka akhirnya kita merasa tidak perlu lagi ruang bagi kita untuk berkembang. Perlu digaris bawahi bahwa kita bukan mengalah pada sesuatu yang berlawanan dengan keyakinan kita, tetapi kita hanya perlu lebih membuka pemikiran terhadap kritik yang datang.

Tidak pernah puas dengan pengetahuan ataupun keahlian yang sudah didapatkan, adalah kunci sebuah kemajuan. Manfaatkan dunia kerjamu sekarang sebagai wadah untuk berkembang, dengan tidak menutup pikiran dari segala pengetahuan.

Referensi: Journal of Psychology and Theology | Personality and Social Psychology Bulletin | Kompas