Marine Debris, Isu Lingkungan yang Tak Pernah Beres
Marine Debris | Foto : yogedras31/Pixabay

#FutureSkillsGNFI

Pesisir adalah daerah penting bagi produktivitas biologi, geokimia, serta aktivias manusia. Derah ini adalah penyedia sarana rekresasi, makanan, transportasi, serta mewakili bagian dari perekonomian dunia dalam pemanfaatan sumber daya alamnya.

Akan tetapi, hal tersebut berbarengan langsung dengan aktivitas manusia di dalamnya sehingga meninggalkan dampak yang berpotensi mengganggu kesehatan pesisir laut, salah satunya marine debris.

Menurut Greenpeace (2006), sampah laut atau marine debris adalah semua material berbentuk padatan yang tidak dijumpai secara alami (produk kegiatan manusia) di wilayah perairan, yakni samudra, lautan, pantai.

Sampah memberikan ancaman secara langsung terhadap kondisi dan produktivitas wilayah perairan karena dapat terbawa oleh arus laut dan angin dari satu tempat ke tempat lainnya. Bahkan, menempuh jarak yang sangat jauh dari sumbernya. Maka, perlu adanya aksi spesifik tertentu untuk mencegah dan meminimalisir efek negatifnya.

Indonesia adalah negara kepulauan yang 70% wilayahnya adalah lautan. Namun sayangnya, Indonesia pun negara penyumbang sampah plastik di lautan terbanyak kedua setelah China, yaitu 0,48-1,29 juta metrik ton dari total 4,8-12,7 juta metrik ton per tahun sampah plastik di lautan dunia (Jason Gooljar).

Limbah plastik berdampak buruk bagi lingkungan karena sifatnya memang susah diuraikan oleh tanah secara alamiah, meskipun sudah tertimbun beratus tahun lamanya.  Berbagai penelitian menyebutkan, plastik baru teurai oleh tanah setidaknya setelah tertimbun selama 200 hingga 400 tahun. Bahkan, penelitian lain menyebutkan bahwa limbah plastik bisa terurai oleh tanah dalam kurun 1.000 tahun lamanya.

Proses lamanya inilah kemudian berdampak buruk bagi lingkungan, seperti munculnya zat kimia yang mencemari tanah sehingga berkurang tingkat manfaat dan kesuburannya. Selain itu, limbah plastik dapat membunuh hewan pengurai tanah seperti cacing sehingga wajar saja apabila tingkat kesuburan tanah berkurang.

Kini, limbah plastik telah mencemari lautan dunia karena sifatnya yang sulit untuk terurai dan sifat tambahan lainnya yang terbukti memiliki efek toksik pada makhluk hidup. Pertumbuhan ekonomi diikuti perubahan pola konsumsi dan produksi menyebabkan pesatnya peningkatan limbah plastik di dunia.

Berdasarkan penelitian milik Sekretariat Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati pada 2016, sampah lautan telah membahayakan lebih dari 800 spesies. Dari 800 spesies itu, 40% terdiri dari mamalia laut dan 44% spesies burung laut.

Konferensi Laut PBB di New York 2017 menyebut, limbah plastik di lautan membunuh 1 juta burung laut, 100 ribu mamalia laut, kura-kura laut, dan ikan-ikan yang tak terhitung jumlahnya, setiap tahun.

Selain sampah plastik, sampah di lautan terdiri dari peralatan perikanan yang ditinggalkan begitu saja, biasa disebut 'jaring hantu' atau 'peralatan hantu'. Jumlahnya 640 ribu ton atau 10% dari sampah laut. Sampah jaring menjebak kura-kura, burung, dan mamalia laut.

Marine Debris |Foto : Pixabay
Marine Debris | Foto: Pixabay

Dampak Sampah Laut

Secara umum, sampah laut berdampak sektor perekonomian dan pariwisata, mengganggu kehidupan biota laut, ekosistem pesisir, dan kesehatan manusia. Banyak biota yang memakan plastik (entangled) dan terjerat plastik (ingestion), merujuk pada laporan.

Jika sampah plastik tidak dikendalikan dan dikelola dengan baik, maka proses pelapukan menjadi mikro dan nano plastik akan merusak ekosistem pesisir dan/atau termakan oleh plankton atau ikan. Selanjutnya, produktivitas perikanan menurun, lalu implikasi mikroplastik bisa masuk ke jejaring makanan (food-chain). Akhirnya, menimbulkan masalah pada kesehatan manusia.

Contoh Kasus Hewan Yang Terancam Gara-Gara Plastik

  1. Paus Sperma di Wakatobi

Kabar ini masih cukup hangat. Paus sperma ditemukan sudah menjadi bangkai di perairan Pulau Kapota, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 19 November 2018. Di perutnya ada berbagai jenis sampah, yakni sampah gelas plastik 750 gr (115 buah), plastik keras 140 gr (19 buah), botol plastik 150 gr (4 buah), kantong plastik 260 gr (25 buah), serpihan kayu 740 gr (6 potong), sandal jepit 270 gr (2 buah), karung nilon 200 gr (1 potong), dan tali rafia 3.260 gr (lebih dari 1.000 potong). Total berat basah sampah mencapai 5,9 kg.

  1. Sedotan Plastik di Hidung Kura-Kura

Video YouTube berisi tayangan ngeri soal penyelamatan kura-kura ini viral. Sedotan plastik sepanjang 12 cm dicabut dari lubang hidung hewan malang itu bersamaan dengan darah yang mengucur.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pun ikut memasang video tersebut di akun Twitternya. Video ini berasal dari peristiwa pada Agustus 2015 pada hewan berjenis 'olive ridley' atau penyu lekang. Hewan di perairan Kosta Rika ini diselamatkan dari sedotan yang mengancam oleh Christine Figgener, biologis kelautan dari Universitas Texas A&M.

  1. Paus Telan 80 Kantung Plastik

Dilansir BBC, seekor paus pilot mengalami sakit dan tak bisa berenang di kawasan Thailand Selatan. Akhirnya, paus itu mati pada 1 Juni 2018. Upaya penyelamatan oleh petugas perairan Thailand tak berhasil menyelamatkan nyawa paus itu. Usut punya usut, ternyata mamalia laut itu telah menelan 80 kantong plastik berbobot 8 kg.

Strategi Penanganan Sampah Laut

Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut mengamanatkan kepada 16 Kementerian/Lembaga untuk mempercepat penanganan sampah laut, salah satunya KKP. Ada 5 strategi dalam Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Laut tersebut, yaitu:

  1. Gerakan Nasional Peningkatan Kesadaran Para Pemangku Kepentingan
  2. Pengelolaan Sampah Yang Bersumber dari Darat
  3. Penanggulangan Sampah Di Pesisir dan Laut
  4. Mekanisme Pendanaan, Penguatan Kelembagaan, Pengawasan, dan Penegakan Hukum
  5. Penelitian dan Pengembangan

 

Referensi: Eprint UMM | KKP.go.id | Indonesia Baik