Melihat Dampak Pelarangan Penggunaan Plastik untuk Buah dan Sayur di Perancis
Kemasan Plastik © Unsplash/Thomas Demarczyk

Jika membicarakan sebuah langkah besar yang akan berdampak besar pula, keputusan Perancis untuk melarang penggunaan plastik untuk membungkus buah dan sayur adalah tepat. Bagaimana tidak? Langkah ini diprediksi akan mengurangi penggunaan plastik yang mencapai angka satu milyar dalam setahun. Diketahui penggunaan plastik untuk membungkus belanjaan buah dan sayur mencapai

Plastik telah menjadi salah satu penyebab terbesar polusi secara global. Dengan kondisi ini, diperkirakan pada tahun 2040, sampah sebanyak 1,3 miliar ton akan mencemari lingkungan. Apabila digambarkan pada permukaan datar, maka sampah tersebut mampu menutupi 1,5 kali wilayah seluas Inggris.

Hal tersebut dituturkan dalam kajian yang disusun Dr Costas Velis dari Universitas Leeds. Kondisi bumi 20 tahun mendatang akan sungguh memprihatinkan apabila tidak terdapat langkah masif dari pemerintah dan masyarakat. Untuk itu, regulasi pemerintah Inggris terkait pengemasan plastik pasca COP26 seperti angin segar yang bisa diimplementasikan.

Pengemasan plastik ini tertuju pada daun bawang, wortel, tomat, kentang, apel, pir, dan 30 buah dan sayur lainnya yang sudah tidak bisa dijual dengan kemasan plastik, dilansir dari Aljazeera.

Sebagai kebutuhan masyarakat sehari-hari untuk bahan pangan, buah dan sayur tersebut harus dibungkus dengan kemasan yang dapat didaur ulang. Limbah plastik pembungkus buah dan sayur ini tergolong banyak karena plastik ini hanya digunakan sekali pakai, sebelum akhirnya dibuang.

Terlepas dari itu, untuk saat ini masih terdapat buah-buahan yang masih diperbolehkan untuk menggunakan plastik sebagai pengemas, contohnya buah beri dan persik. Buah-buah tersebut termasuk ke golongan buah yang rapuh dan perlu pengemasan khusus dengan plastik.

Selain buah dan sayur yang merupakan kebutuhan primer masyarakat Perancis, peraturan larangan pengemasan plastik ini juga ditujukan pada majalah dan alat-alat publikasi lainnya. Restoran cepat saji juga dilarang untuk memberikan mainan gratis berbahan dasar plastik untuk anak-anak. Lalu, masyarakat akan dianjurkan untuk menggunakan pancuran air minum ketimbang membeli air berkemas botol plastik.

Pemerintah Perancis menyatakan bahwa apabila regulasi ini digalakkan, maka mereka akan berhasil untuk mengurangi 1 milyar penggunaan plastik dalam setahun. Meskipun regulasi ini dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan mengurangi sampah plastik di bumi yang menciptakan polusi global, dampak yang diberikan di kalangan masyarakat ternyata berbeda-beda.

Timbul masyarakat yang pro dan kontra terhadap peraturan baru ini. Tentu saja, pihak yang paling terdampak akan ini adalah pedagang buah dan sayur kecil serta perusahaan pabrik kemasan plastik itu sendiri.

Pengganti kemasan plastik

Kemasan Plastik © Unsplash/Wander Fleur
Kemasan Plastik © Unsplash/Wander Fleur

Pedagang buah yang masih merintis usahanya harus membeli bahan selain plastik yang harganya lebih mahal ketimbang plastik itu sendiri. Hal ini tentunya menyulitkan mereka untuk menekan modal dan pengeluaran. Padahal, sebelum diturunkannya peraturan tentang larangan penggunaan kemasan plastik ini, mereka juga sudah meminimalisir penggunaan plastik dan menggunakan bahan yang lebih ramah lingkungan.

Di sisi lain, perusahaan pabrik kemasan kardus merasakan keuntungan dari diberlakukannya regulasi ini. Permintaan produk mereka meningkat drastis bersamaan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan bahan yang mudah terurai. Kardus yang berbahan dasar kertas tentunya mudah terurai dan bersifat organik sehingga lebih ramah lingkungan dibanding plastik.

Oleh karena itu, peneliti-peneliti plastik dari Universitas Manchester menanggapi berbagai macam langkah yang dapat ditempuh semua negara dalam menghadapi plastik yang semakin hari semakin mengerikan.

Hal ini harus dilakukan agar plastik tidak menyelimuti dunia pada tahun 2040. Mulai dari mengurangi pertumbuhan produksi dan konsumsi plastik, mengganti plastik dengan kertas dan materi terurai, mengurangi ekspor limbah plastik, dan masih banyak lagi.

Referensi: Al Jazeera | BBC | Our World In Data