Melihat Eksistensi Organisasi Saat Pandemi
Ilustrasi anggota organisasi | Foto: Fauxels

#FutureSkillsGNFI

Adaptasi dan perubahan telah banyak orang lakukan, termasuk pada semua organisasi untuk menjaga keberadaan dan keberlangsungannya. Setiap organisasi awalnya memiliki keunikan dan value yang ada terhadap sasaran program dan audiensnya. Namun karena keadaan COVID-19, arah gerak organisasi menjadi sempit dan sulit melakukan eksekusi program.

Seberapa sering kamu melihat program kerja organisasi yang monoton? Fenomena macam ini menjamur hampir di seluruh organisasi. Perubahan sangat sulit untuk organisasi lakukan hingga organisasi jatuh ke dalam status quo.

Organisasi tidak punya sebuah keunikan kepada audiensnya. Keadaan ini membuat eksistensi dari organisasi semakin terdegradasi oleh kondisi. Situasi tersebut juga berimplikasi kepada internal organisasi.

Antusiasme untuk mengikuti organisasi semakin menurun karena kurangnya inovasi. Keadaan ini semakin parah dengan terbukanya kesempatan magang dan bekerja oleh program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) dari pemerintah.

Acapkali organisasi hanya membuat program yang sedang hangat di peredaran konten media sosial. Melihat keadaan tersebut, sebagian besar organisasi berbondong-bondong untuk mengikuti jenis konten yang sedang hangat di peredaran tadi.

Kondisi ini memudarkan jati diri dan akhirnya tujuan organisasi menjadi tidak jelas karena mengikuti tren secara mentah-mentah. Terdegradasinya organisasi juga terjadi karena bermain ‘aman’.

Baca juga: Kegiatan Produktif yang Bisa Bikin Mahasiswa Glow Up

Sebagian besar organisasi hanya mengikuti program-program tahun sebelumnya dan hanya mengganti segi pengemasan konten. Padahal, ada banyak konten kreatif lain yang masih dapat kita eksplorasi serta implementasikan dalam tatanan luaran organisasi.

Keadaan ‘aman’ tersebut lambat laun terinternalisasi pada pemikiran setiap staf organisasi hingga menciptakan situasi ‘nyaman’. Fenomena ini menciptakan belenggu pemikiran dari setiap anggota dan membuat batasan-batasan sendiri dalam tiap-tiap pemikiran.

Kemudian, situasi ini menjadi sebuah budaya organisasi dan tidak ingin keluar dari keadaan aman dan nyaman tersebut. Posisi organisasi semakin kritis dengan hadirnya program MBKM dari pemerintah yang menyediakan pengalaman magang kepada seluruh pendaftarnya.

MBKM datang dengan tawaran yang sangat menarik, selain memberikan pengalaman kerja, program ini juga memberikan insentif pada beberapa instansi tertentu. Organisasi harus peka dan bisa merefleksikan tentang kinerja mereka sekarang.

Inovasi menjadi sebuah hal vital untuk terus bersaing dengan seluruh tekanan yang menekan eksistensi organisasi. Adapun beberapa langkah pemikiran fundamental organisasi yang dapat kita terapkan untuk keluar dari keadaan stagnan.

1. Menetapkan Tujuan yang Jelas

Ilustrasi akan fokus pada tujuan | Foto: Pexels

Banyak organisasi yang hanya menerima warisan tujuan dari periode sebelumnya dan tidak melakukan refleksi, serta evaluasi mengenai arah gerak ke depannya. Padahal, menetapkan tujuan jelas dapat membuat akar organisasi menjadi kuat dan arah gerak lebih terukur.

Dengan begitu pula, tujuan dapat terbedah menjadi langkah demi langkah untuk mencapai tujuan yang ada. Tujuan organisasi tersebut menjadi landasan bagi setiap anggota ketika ingin membuat program agar dapat memberikan keunikan organisasi dalam setiap titiknya.

Baca juga: Cara Cermat Atur Keuangan Anti Boros

2. Keluar Bingkai Batasan

Ilustrasi organisasi sedang diskusi | Foto: Pexels

Harus ada seseorang yang bisa menyadarkan mengenai kondisi stagnan dari sebuah organisasi. Di sini, peran kamu untuk menyadarkan seluruh titik organisasi mengenai status quo yang sedang terjadi dan menjadi katalisator perubahan pada setiap departemen atau divisi yang ada.

Memulai sebuah perubahan dapat kamu lakukan lewat diskusi, percakapan sehari-hari, rapat, presentasi, hingga pidato jika kamu sedang memiliki kesempatan. Semua itu bisa mulai dari dirimu dan mulai dari sekarang. Fixing from the inside-out.

Baca juga: Gagal SNMPTN? Berikut Tips Persiapkan UTBK

3. Memperhatikan Perspektif Audiens

Ilustrasi kekompakan | Foto: Fauxels

Pembuatan konten dan program tidak hanya memperhatikan perspektif dari internal organisasi. Namun, melihat sudut pandang audiens dari organisasi sehingga apa yang dapat internal lakukan memiliki tujuan dari segmentasi pasar.

Ketika sudah memetakan dengan komprehensif wilayah pertemuan dari kedua variabel tersebut, program organisasi akan mulai kembali berdampak bagi internal hingga audiens. 

Zaman berkembang dengan kecepatan yang tidak bisa kita perkirakan. Keadaan tersebut merupakan ranah yang tidak dapat kita kendalikan. Sekarang, kita bisa mengendalikan apa yang kita lakukan untuk membawa perubahan kepada organisasi.