Melihat Mesin Zerocov, Game Changer Masa Kini
Desinfektan © Unsplash/Towfiqu Barbhuiya

Perkembangan teknologi sudah semakin canggih dan orang semakin pintar beradaptasi. Pandemi COVID-19 bukan lagi penghalang untuk beraktivitas. Disinfektan manual yang harus disemprot tiap kali ada bagian dari benda di sekitar kita yang kotor, bukan lagi menjadi pilihan utama manusia. Ada sesuatu bernama mesin zerocov.

Kini, berbagai macam penemuan yang dianggap mampu menghalau virus COVID-19 sudah bermunculan. Mulai dari alat sinar ultraviolet yang cahayanya mampu membunuh virus di makanan, sampai penyemprot disinfektan otomatis. Varian terbaru dari penemuan teknologi anti Covid ini adalah mesin bernama Zerocov.

Mesin Zerocov yang merupakan kepanjangan dari Zero Covid adalah alat sanitasi udara yang merupakan produk anak bangsa. Seperti namanya, alat sanitasi udara ini bisa membuat udara tidak memiliki kandungan virus, alias nol Covid.

Menurut laman Kominfo, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, mesin Zerocov mampu menjadi game changer yang akan mempercepat upaya pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, sehingga membuka peluang usaha dan menciptakan lapangan pekerjaan.

Sejarah penemuan mesin zerocov

Mesin Zerocov © Kominfo
Mesin Zerocov © Kominfo

Mesin Zerocov merupakan temuan dari Wirawan Darmana, inventor sekaligus pemilik dari peternakan ayam di Ciawi, Jawa Barat. Ia mengembangkan alat ini dengan berawal dari sistem desinfektan dan sinar ultraviolet demi melindungi ayamnya saat krisis flu burung melanda di tahun 2004.

Barulah pada 2020, Wirawan mengembangkan alat tersebut dengan bekerja bersama peneliti dari Pusat Riset Elektronika dan Telekomunikasi dan Loka Penelitian Teknologi Bersih, Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Teknik BRIN.

Kini, mesin Zerocov tidak hanya membasmi COVID-19, tetapi juga mampu menjadi alat sanitasi udara yang bisa membasmi segala jenis virus, kuman, bakteri, baik di udara ataupun permukaan benda.

Hal ini dikarenakan mesin ini merupakan hasil kombinasi dari tiga temuan, yakni desinfektan, sinar ultraviolet, dan ion negatif yang ampuh dalam membunuh virus, kuman, dan bakteri. Mesin ini juga bukan hanya menjaga udara dan benda dari virus sebagai upaya pertahanan, tetapi juga secara aktif menyerang dan membasmi mikroorganisme.

Bukan hanya mesin zerocov, ada juga puvicon

Mesin Puvicon © Unsplash/Fakultas Teknik Universitas Indonesia
Mesin Puvicon © Unsplash/Fakultas Teknik Universitas Indonesia

Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) juga dikenal sebagai pengembang alat purifikasi udara dengan metode plasma dingin atau non-termal guna melawan COVID-19 yang diberi nama Puvicon. Dilansir dari laman resmi Universitas Indonesia, molekul udara dan uap air yang diionisasi dan dihamburkan kembali ke udara secara konveksi paksa. Pada ruangan tertutup, teknologi ini terbukti mampu menghilangkan 99 persen virus dan lebih dari 90 persen bakteri di udara hanya dalam waktu 10 menit.

Diketahui bahwa teknologi ini juga mencegah tumbuhnya jamur di makanan, lemari pakaian, dan sepatu. Puvicon juga dapat menghilangkan debu, tungau debu mati, dan serbuk sari udara lainnya. Lebih dari itu, teknologi ini juga mampu membersihkan sekaligus melembabkan kulit manusia.

Purwarupa dari temuan ini sudah dibuat, mulai dari DSF-01 hingga DSF-04 dengan rencana pengembangan secara komersial pada tipe DSF-02 dan tipe terbaru DSF-02X. Lebih dari 600 unit yang telah diproduksi disalurkan dalam bentuk donasi ke berbagai rumah sakit, masjid dan pesantren, serta dijual secara komersial dengan harga jual yang cukup terjangkau. Mesin Puvicon juga dibuat dalam model yang berbeda-beda, menyesuaikan dengan kebutuhan masing-masing tempat yang disalurkan.

Mesin zerocov dan mesin temuan lain yang mampu membasmi COVID-19 ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dan manfaat besar bagi sektor-sektor yang terdampak pandemi. Selanjutnya, mari kita bergerak untuk terus berinovasi, beradaptasi, serta berkolaborasi agar dapat lebih siap untuk menyambut 2022 dengan semangat yang sama. Demi kebaikan dan kesehatan kita semua.

Referensi: UI | Kominfo | Kompas