Membakar Sampah, Pilihan atau Kebiasaan?
Pembakaran Sampah di Douala, Kamerun | Foto: Linetoday

#FutureSkillsGNFI

Sadarkah kamu fenomena membakar sampah masih lazim dijumpai di Indonesia, terutama daerah pinggiran perkotaan dan pedesaan? Tersedianya lahan yang cukup untuk membakar sampah menjadi opsi yang paling dipilih masyarakat selain karena cepat dan praktis, tentunya tidak memerlukan effort yang besar. Umumnya aktivitas ini dimaklumi warga masyarakat karena tentu tidak setiap hari orang membakar sampah dan sampah yang dibakar pun tidak dalam jumlah yang besar sehingga mereka cenderung menerima keadaan tersebut.

Selain itu, pemakluman ini dilakukan demi menghindari konflik dengan warga masyarakat lain. Daripada dibuang ke sungai atau teronggok di pinggir jalan, mungkin lebih baik dibakar saja. Masalah sampah selesai dan semua orang senang.

Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Permasalahan membakar sampah lebih dari asap pembakaran yang mengganggu dan bekas pembakaran yang tidak terurai. Permasalahan ini bisa melebar ke aspek-aspek lain seperti lingkungan, kesehatan, sosial, moral, dan hukum.

Berdasarkan hemat penulis, membakar sampah merupakan aktivitas egois yang tidak memikirkan orang lain. Polusi dari asap yang dihasilkan mengganggu penciuman kita dan bagi orang yang melewati lokasi pembakaran sampah, asap dari pembakaran akan menempel pada pakaian dan itu tidaklah menyenangkan. Meskipun demikian, berdasarkan pengalaman penulis, aktivitas ini masih tetap eksis karena banyak keluhan yang tidak terucap.

Ilustrasi Pembakaran Sampah Terbuka | Grid Health ID (2020)

Di samping itu, tidak melihat pada kuantitas dan seberapa berbahaya limbah yang dibakar, pembakaran tetaplah pembakaran yang menghasilkan emisi karbon dioksida terlebih lagi apabila limbah yang dibakar merupakan limbah berbahaya. Keinginan menjaga lingkungan dengan tidak membiarkan sampah mengotori kawasan merupakan niat baik, namun cara yang dilakukan dengan membakarnya bukan merupakan solusi yang paling efektif.

Emisi karbon hasil pembakaran sampah rumah tangga memang tidak sebesar polusi yang dihasilkan oleh sektor industri dan kendaraan bermotor. Namun, pembakaran sampah yang dilakukan di banyak tempat dan dilakukan setiap hari berpeluang mengganggu komitmen Net-Zero Emissions. Net-Zero Emissions akan dicapai ketika semua emisi GHG (Global Greenhouse Gas) yang dilepaskan dari aktivitas manusia dapat diseimbangkan dengan menghilangkan GHG dari atmosfer dalam proses yang disebut dengan penghilangan karbon (WRI, 2019).

Ilustrasi Pembakaran Sampah | National Geographic ID (2019)

Salah satu cara bagi kita untuk berpartisipasi dalam misi ini yaitu dengan membantu mewujudkan kondisi Net-Zero Emissions dalam kehidupan sehari-hari seperti dengan tidak membakar sampah rumah tangga dan menggunakan produk-produk tidak ramah lingkungan seminimal mungkin. Aktivitas pembakaran sampah dapat dialihkan dengan langkah pencegahan seperti mengurangi konsumsi dan penggunaan produk-produk dengan material plastik atau bahan sulit terurai lainnya. Kemudian kita juga dapat mencegah pembakaran sampah dengan memilih opsi menimbun sampah yang dihasilkan, melakukan daur ulang sampah, atau menyumbangkan sampah sulit terurai pada badan-badan pengelola sampah di lingkungan sekitar

Namun sayangnya tidak semua masyarakat memiliki pola pikir seperti yang kita harapkan. Proses yang dinilai berbelit-belit dan memakan waktu, ketidaktersediaan lahan untuk menimbun sampah, faktor ekonomi yang memaksa orang membeli produk-produk tidak ramah lingkungan, dan kurangnya kesadaran untuk menjaga lingkungan di kalangan masyarakat menjadi faktor yang menghambat terwujudnya lingkungan yang sehat, aman, dan lestari. Pola pikir yang menginginkan kepraktisan tanpa mengindahkan dampaknya inilah yang harus kita luruskan.

Kebakaran Pura Dalem di Desa Labasari Diduga Akibat Pembakaran Sampah | Balipost (2019)

Melihat dari risiko yang mungkin terjadi, aktivitas pembakaran sampah berisiko membahayakan makhluk hidup lain di lokasi pembakaran dan berpotensi menimbulkan kebakaran apabila api pembakaran tidak terkendali. Padahal dampak yang ditimbulkan dari pembakaran sampah tidak bertahan pada jangka pendek saja. Senyawa-senyawa dan partikel-partikel dari asap pembakaran sampah jika terhirup dapat membahayakan kesehatan di masa mendatang. Selain itu akibat jangka panjang lainnya yaitu aktivitas pembakaran sampah dapat memperburuk kondisi bumi sehingga akan memicu pemanasan global secara terus menerus.

Sebenarnya, pemerintah sendiri telah mengatur larangan membakar sampah dalam konstitusi seperti dalam UU No. 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah Pasal 29, Perda Kota Pekanbaru No. 8 tahun 2014 tentang Pengelolaan Sampah Pasal Pasal 66 Ayat (1), dan Perda Kota Bogor No. 9 tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah. Namun sepertinya masih diperlukan upaya mendalam dan menyentuh masyarakat agar mereka ikut serta membantu mewujudkan kondisi lingkungan yang ideal bagi diri mereka sendiri khususnya.

Untuk mengatasi hal ini agar tidak berkelanjutan, masyarakat perlu disadarkan dan dibimbing untuk lebih peduli dengan kesehatan lingkungan dan dirinya. Dengan memperbaiki dan meningkatkan kualitas pelayanan sampah, diharapkan masyarakat dapat tergerak untuk patuh dengan peraturan dan mulai menerapkan hidup sehat bebas sampah secara bijak.

Referensi: Hukumonline.id | Yuridis.id | Justika | Sahabat Nestle | IDN Times | World Resources Institute