Membangun Manusia Aktual Melalui Transformasi Digital
Photo by Giu Vicente on Unsplash

Transformasi digital menjadi kata kunci yang kembali menghangat di tengah diskursus publik. Selain karena menjadi salah satu fokus dalam presidensi G20 Indonesia, transformasi digital juga menjadi jembatan penghubung menuju dunia baru bernama Metaverse.

Jauh sebelum itu, kemunculan revolusi industri 4.0 pun turut mendekatkan ide tersebut terhadap kehidupan masyarakat. Bahkan, Bob Davis dari Forbes Councils menyebut transformasi digital sebagai sebuah keharusan, efek dari perubahan yang tidak bisa terhindarkan.

Walaupun publik telah lama terpapar dengan istilah transformasi digital, minimnya literasi teknologi membuat banyak pihak salah kaprah memahaminya. Hal inilah yang sering kita jumpai, bagaimana keberadaan infrastruktur teknologi seolah menjadi hal yang paling penting dalam proses transformasi digital tersebut.

Memang, teknologi menjadi hal yang penting. Namun, bukan berarti menjadi satu-satunya hal yang utama. Hal ini pun sempat terulas oleh Westerman, seorang Professor Harvard University.

Betapa masyarakat hanya menganggap transformasi digital sebatas benda-benda rumit tak kasat mata seperti kecerdasan buatan, komputasi awan, internet of things, dan semacamnya. Padahal, di sana juga terdapat nilai, kecepatan, cara pandang, hingga budaya.

Baca juga: E-money dan E-wallet, Apa Perbedaannya?

Transformasi digital adalah muara dari digitalisasi yang tersusun atas digitasi. Digitasi inilah yang menjadi akar membangun kemampuan untuk meningkatkan efisiensi, sekaligus proses mencipta nilai dalam diri atau sebuah sistem.

Klaus Schwab, salah seorang pakar revolusi industri 4.0, menyebut bahwa transformasi digital adalah momentum peningkatan produktivitas dan efisiensi yang lebih baik dalam hidup manusia. Kata kuncinya adalah perkara perubahan budaya dan pola pikir.

Praktis, hal tersebut menjustifikasi bahwa ada aspek yang jauh lebih penting untuk siap dari pada sekadar membangun infrastruktur teknologi besar-besaran, yakni kesiapan sumber daya manusianya.

Bagaimanapun, titik semesta dari transformasi digital ada pada manusianya. Semakin cakap pelakunya, semakin digdaya bangsanya. Lantas, apa kabar persiapan kita?

Jurang Disparitas

Ilustrasi transformasi digital | Foto: Unsplash

Keberadaan virus COVID-19 di tengah umat manusia, memaksa terjadinya transformasi kehidupan yang sebelumnya belum pernah terbayangkan. Seperti pembelajaran jarak jauh dengan teknologi digital.

Banyak ahli menganggap pandemi menjadi pendorong untuk mempercepat transformasi digital. Apalagi, menyitir salah satu slogan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, “Teknologi memudahkan kita untuk belajar di mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja.”

Baca juga: Rekomendasi Kegiatan Selama Gap Year, Bikin Kamu Produktif!

Hal tersebut sesuai dengan Neil Selwyn dalam bukunya yang berjudul Education and Technology: Key Issues and Debates. Pertama, teknologi digital dapat menjadi sarana untuk mengatasi ketidaksetaraan “kesempatan” bagi setiap individu untuk mengakses sumber daya berkualitas.

Kedua, melalui pendekatan radikal, teknologi digital mampu menyelesaikan ketidaksetaraan “hasil” yang mengacu kepada kondisi yang adil. Maknanya, melalui pendidikan berbasis teknologi digital, kesenjangan sosial dapat bertransformasi menjadi inklusi sosial.

Faktanya, alih-alih menjadi elemen transformasi pendidikan selama pandemi, penggunaan teknologi digital justru menjadi beban. Fenomena learning-loss yang kerap terjadi menjadi contoh nyata betapa modal belajar teknologi digital kita masih belum sepenuhnya terpenuhi.

Prof. Jan Van Dijk, pengajar sosiologi University of Twente, menyebut setidaknya ada enam modal yang harus terpenuhi untuk mengoptimalkan pembelajaran digital. Mulai dari modal waktu, materi, mental intelektual, sosial, dan modal kultural.

Tentu, hal ini perlu menjadi refleksi bersama, betapa kita masih memiliki masalah yang kompleks dalam pondasi “kualitas manusia” untuk memenuhi ambisi transformasi digital.

Belum lagi ketiadaan privilege berupa kecakapan intelektual, dukungan sosial-ekonomi, hingga infrastruktur yang memadai semakin melebarkan jurang disparitas. Tentunya belum mencerminkan amanat UUD 1945 pasal 31.

Manusia Aktual

Ilustrasi belajar mengerjakan tugas | Foto: Pexels

Menjadi rahasia umum bila daerah hulu dari mesin pencetak sumber daya manusia kita masih carut-marut. Hal tersebut turut berdampak pada irelevansi pengetahuan dan keahlian terhadap kompetensi yang dibutuhkan angkatan kerja, utamanya produk pendidikan tinggi.

Hal tersebut memunculkan benang merah, betapa pendidikan erat kaitannya dengan digitalisasi. Suka atau pun tidak, digitalisasi akan membentuk kebutuhan baru pada angkatan kerja di tahun-tahun yang akan datang.

Baca juga: Menggali Potensi 'What If' pada Transformas Digital

Peran teknologi informasi akan menjadi supporting system dalam membentuk sumber daya manusia E-Readiness di era digital, yang dapat berselancar dalam arus digitalisasi dengan kecakapan komunikasi yang baik. Demikianlah para manusia aktual, yang mampu adaptif dalam setiap lini transformasi digital yang terus berjalan.

Tentu, peran institusi menjadi sangat penting dalam memantik terjadinya education shifting atau perubahan digital guna membentuk manusia aktual. Bagaimanapun, kelengkapan tools maupun kualitas sistem yang disipakan untuk transformasi digital, belum cukup untuk mendukung proses perubahan.

Kita masih butuh intervensi institusi melalui kebijakan. Setidaknya ada tiga mekanisme pendekatan yang perlu untuk diperhatikan. Pertama, pendekatan mekanisme yang meliputi aturan dan kebijakan institusi. Lalu mimetic, meliputi standar pembelajaran dan normatif yang mencakup standar acuan dalam industri.

Tidak berhenti di situ, pendidikan tinggi juga perlu terus melakukan sinergi agar memenuhi kebutuhan industri. Meliputi proses komprehensif dari kebijakan, manajemen operasional, sistem pembelajaran, hingga standarisasi lulusan.

Berbagai macam inisiatif tersebut tentunya diperlukan untuk membangun ekosistem berbasis kompetensi yang siap bersaing selama proses transformasi digital.

Pada akhirnya, akan terancang dan siap dengan baik, momentum transformasi digital dapat meningkatkan efisiensi serta memantik lebih banyak inovasi sebagai penerapan teknologi digital. Guna membuka sumber-sumber aliran ekonomi baru yang mampu menggerakkan masyarakat dan negara menuju sejahtera.

Tentu saja dengan lebih mempersiapkan ekosistem pendidikan berbasis kompetensi digital, guna menumbuhkan manusia aktual yang senantiasa relevan dengan zaman. Seperti kata Yuval Noah Harari, ketakutan terbesar umat manusia adalah irelevansi.

Harapannya, dengan momen presidensi G20 Indonesia, turut membawa angin segar dalam agenda transformasi digital kita agar lebih inklusif dan berkeadaban.