Menjalani Hari Anti Cemas dengan Menerapkan Stoisisme
Berpikir Tenang dan Rasional | Foto: Jill Wellington/Pexels

#FutureSkillsGNFI

Dalam menjalani hidup sehari-hari mungkin kamu pernah berhadapan dengan situasi tidak menyenangkan, seperti bertemu dengan orang menyebalkan atau bahkan menghadapi kesialan. Hal itu bisa jadi sangat mengganggu aktivitas kamu.

Apakah hal-hal tidak menyenangkan itu membuatmu sering merasa cemas? Mungkin kamu perlu berkenalan dengan stoisisme, filosofi yang mengajarkan tentang pengendalian diri (Self Mastery). Para Filsuf yang memperkenalkan stoisisme meyakini bahwa kebahagiaan datang ketika kita bisa menjaga pikiran tetap tenang dan rasional.

Membahas tentang berpikir rasional, mungkin kita sering mendengar anjuran untuk selalu berpikir positif di segala situasi. Namun, tetap berpikir positif memang baik. Mungkin kamu juga mempercayainya, tetapi juga perlu perlu sadar bahwa hidup ini tidak selalu berjalan baik.

Misalnya, dalam mencapai suatu tujuan. Kalau kamu hanya memikirkan hal-hal baiknya saja, bukankah kamu akan bertemu dengan ekspektasi terlalu tinggi? Hal itu justru membuatmu bisa patah oleh ekspektasi itu sendiri.

Sebaliknya kalau kamu selalu berpikir negatif, kamu akan sulit untuk memulai sesuatu. Bagaimana tidak, setiap akan memulainya kamu selalu melihat sisi buruknya saja. Akhirnya, pengalaman baru itu urung kamu dapatkan.

Baca juga: Jelajah Ibu Kota Islandia di Bulan Ramadan

Dikotomi Kendali

Foto oleh Los Muertos Crew/Pexels
Foto oleh Los Muertos Crew/Pexels

Dalam stoisisme terkenal istilah dikotomi kendali. Dikotomi kendali merupakan sebuah prinsip saat dalam hidup ini ada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan ada yang tidak bisa.

Ya, ada hal-hal seperti pikiran, tujuan, dan tindakan kita yang bisa kita kendalikan. Sebaliknya ada opini, tindakan, dan pikiran orang lain yang tidak bisa kita kendalikan.

Menariknya, tidak semua hal dalam diri kita bisa kendalikan. Kekayaan, kesehatan, bahkan karier kita tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan.

Mari memposisikan dirimu menghadiri sebuah acara keluarga. Kamu mungkin menantikan acara ini setelah dua tahun pandemi yang tidak memungkinkan bertemu keluarga besar.

Sialnya, dalam acara tersebut kamu harus bertemu dengan saudara jauh yang menjengkelkan bahkan kamu melabelinya 'Si Julid' dalam pikiranmu. Kemudian kamu cemas membayangkan akan diserang pertanyaan menyebalkan, “Kamu kok gendutan, ya?”.

Baca juga: Kebiasaan Produktif Ramadan di Tengah Pandemi COVID-19

Cobalah renungkan, apakah pertanyaan itu benar-benar sebuah serangan? Apakah benar 'Si Julid' sengaja membuatmu sakit hati dan tidakkah semua yang kamu khawatirkan hanya berada dalam pikiranmu?

Mengingat kembali bahwa dalam dikotomi kendali ada hal yang bisa kita kendalikan dan tidak. Pikiran buruk dan pelabelan 'Si Julid' hanya ada di dalam pikiran diri sendiri. Saat pikiran sendiri adalah hal yang bisa kita kendalikan. Sebaliknya opini 'Si Julid' dan perkataan menjengkelkannya di masa lalu adalah hal yang tidak bisa kita kendalikan.

Premeditatio Malorum

Foto oleh Liza Summer/Pexels
Foto oleh Liza Summer/Pexels

Ada satu lagi ajaran Stoikisme yang bisa kita terapkan dalam situasi tidak menyenangkan ini, premeditatio malorum. Dalam premeditatio malorum kita akan melatih diri membayangkan masalah, kegagalan, atau skenario terburuk yang mungkin terjadi. Tujuannya agar kita bisa memikirkan cara menghindari itu terjadi dan mengurangi dampak yang kita timbulkan.

Situasi membayangkan bertemu 'Si Julid' dan segala kemungkinan buruk terjadi sudah tepat. Selanjutnya perlu kamu lakukan adalah mengurangi segala kekhawatiran terhadap opini 'Si Julid'.

Perlu kamu sadari bahwa kekhawatiran hanya akan menimbulkan kecemasan. Pada akhirnya kecemasan melumpuhkan pikiran untuk berpikir rasional.

Baca juga: Ramadan Produktif dengan Membangun Kebiasaan Baru

Bila kamu pikirkan lagi setidaknya ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, 'Si Julid' akan sibuk mengobrol dengan saudaramu yang lain sehingga kamu aman dari pertanyaan yang menyakitkan. Kedua, 'Si Julid' benar-benar mempertanyakan bentuk tubuhmu. Iya, benar pertanyaan itu terasa menyakitkan bagi kamu yang sudah diet ketat namun angka di timbangan memang belum berubah.

Saatnya berpikir rasional. Mungkin 'Si Julid' tidak bermaksud menyakitimu. Mungkin 'Si Julid' belum tahu kalau bentuk tubuh ideal bukan lagi menjadi standar kecantikan yang orang puja-puja. Fokuslah mengendalikan apa yang memang bisa kamu kendalikan.

Bentuk tubuh memang pemberian Tuhan. Namun, ada upaya introspeksi diri yang bisa kamu lakukan. Misalnya mengevaluasi upaya diet yang selama ini dilakukan. Apakah sudah kamu lakukan dengan konsisten dan benar?

Fokus pada opini orang lain hanya akan membuat lelah, tapi fokus pada pikiran dan tindakan akan membuat kita tetap tenang dan berpikir rasional. Pada tulisan ini pun kita sudah mencoba membayangkan.

Seringkali kecemasan datang karena kita sibuk membayangkan pikiran-pikiran negatif tanpa mengontrolnya dengan baik. Hal itu membuat kita sering menguasai emosi negatif yang berujung pada kecemasan.

Pada dasarnya, dunia ini terhuni oleh orang-orang beragam yang satu dua di antaranya memang menjengkelkan. Oleh sebab itu, kendalikan saja apa-apa yang bisa kamu kendalikan.

Referensi: Conversation | IDN Times | Republika