Mengapa Produksi Pangan dapat Berdampak Buruk Bagi Lingkungan?
Limbah Makanan © Unsplash/Svetikd

Lingkungan tempat kita hidup dapat terkontaminasi oleh zat-zat yang tidak baik untuk kesehatan. Mulai dari daratan, perairan, sampai udara, semuanya dapat terpolusi.

Udara merupakan aspek penting dalam hidup kita, karena berfungsi untuk pernafasan manusia. Apabila udara di lingkungan mengalami polusi, tentunya akan banyak dampak negatif yang kita rasakan bersama-sama.

Dikutip dari IQAir, kesehatan udara di Indonesia saat ini dinilai 8.1 kali lebih tinggi dari  batas udara sehat yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO). Hal ini menyebabkan Indonesia berada di posisi negara dengan udara yang tidak sehat untuk orang-orang yang sensitif, seperti anak-anak dan lanjut usia. Dengan kondisi kesehatan udara Indonesia yang memprihatinkan ini, langkah aktual dibutuhkan demi melanjutkan kehidupan di masa depan.

Polusi udara merupakan salah satu fokus pencemaran lingkungan yang diperhatikan oleh banyak orang. Masyarakat berbondong-bondong untuk mengurangi risiko dari polusi udara dengan mengurangi intensitas penggunaan kendaraan berbahan bakar tidak ramah lingkungan.

Mulai dari menerapkan hidup sehat dengan bersepeda, sampai menggunakan kendaraan umum untuk bepergian ke satu tempat ke tempat yang lainnya. Belum banyak yang tahu, bahwa terdapat satu permasalahan lagi yang menjadi penyumbang polusi di udara. Tentunya, terlepas dari penggunaan bahan bakar pada kendaraan.

Penyebab terjadinya polusi udara banyak dan bermacam-macam. Ada yang dikarenakan aktivitas alam seperti debu dari letusan gunung berapi, ataupun aktivitas manusia sebagai makhluk hidup yang tinggal di bumi. Sumber penghasil polusi udara terbesar yang berasal dari aktivitas manusia ada dalam berbagai sektor, yakni sektor agrikultur, rumah tangga, industri, transportasi, dan limbah.

Hal-hal kecil seperti urusan pangan manusia juga dapat menentukan sebuah udara terpolusi atau tidak. Bahan makanan yang ada di rumah kita rupanya juga memproduksi zat-zat yang tidak baik bagi udara, saat proses produksinya.

Dengan menyadari, mengetahui, dan mempelajari apa yang menjadi penyebab polusi udara tersebut, pemerintah dapat membuat kebijakan dan masyarakat dapat mengambil langkah yang lebih baik lagi.

Pada artikel ini, akan dibahas bagaimana sektor agrikultur yang menjadi penunjang sektor perekonomian di Indonesia dapat berdampak bagi lingkungan. Lantas, bagaimana usaha kita dalam meminimalisir risikonya?

Langkah untuk menjaga lingkungan

Tumpukan Sampah © Unsplash/Islander11
Ilustrasi tumpukan sampah

Pertama, pembakaran limbah organik dari produksi pangan harus dihentikan. Meskipun metode pembakaran merupakan metode paling efektif dalam mengelola limbah dan dapat mengurangi polusi di daratan juga akibat sampah. Metode pembakaran ini juga yang merupakan penghasil racun dan karbon yang tidak baik bagi udara di tempat pembakaran tersebut.

Kedua, peternak harus belajar dan menyesuaikan diri dengan pengelolaan peternakan hewan dengan baik. Salah satu caranya mengatur pakan hewan ternak dengan efisien sehingga tidak terbuang dan meminimalisir produksi zat-zat beracun, seperti karbon dioksida dan metana.

Dengan mengatur pakan hewan dengan lebih efisien, peternak dapat memaksimalkan kualitas produksi ternak, seperti daging dan susu dengan lebih baik lagi. Begitu juga dengan produksi kotoran ternak yang tidak baik bagi lingkungan karena menghasilkan zat amonia. Kotoran ternak ini dapat didaur untuk manfaat yang lebih besar, sebagai pupuk kompos, misalnya.

Ketiga, mengenai penggunaan pupuk yang mengandung zat berbahaya yang biasa digunakan petani. Sama seperti kotoran ternak, pupuk ini mengandung sejumlah zat berbahaya seperti amonia yang tidak baik untuk udara. Untuk itu, diperlukan penggunaan pupuk berbahan kimia ini dengan dosis yang tepat, sesuai dengan kebutuhan tumbuhan saja. Tidak kurang, maupun tidak lebih.

Nyatanya, untuk mewujudkan tindakan meminimalisir pembakaran limbah organik produksi pangan, bisa dengan mengelola peternakan dengan lebih efisien dan meminimalisir penggunaan pupuk berbahan kimia.

Hal itu digunakan pada lahan pertanian tersebut harus disertai dengan komitmen dan pengawasan dari berbagai pihak. Dengan begitu, dampak dari polusi udara dapat benar-benar dikurangi, bukan dari salah satu dari kelima sektor penghasil polusi terbesar saja.

Mengurangi polusi udara dari sektor agrikultur merupakan satu hal yang penting untuk mulai difokuskan. Ayo, terus tingkatkan kesadaran mengenai sumber pencemaran lingkungan, terkhusus polusi udara!

Referensi: IQAir | Tempo | Academic Press | The Jakarta Post