Mengenal Cancel Culture, Budaya yang Kian Merebak di Media Sosial
Ilustrasi © Unsplash/Markus Winkler

Cancel culture atau budaya pembatalan adalah budaya yang tengah merebak di jagat media sosial saat ini. Budaya ini dianggap berbahaya karena mampu mengungkit kembali masalah yang diperbuat seseorang beberapa tahun silam. Ketika orang-orang sudah tidak pernah membicarakannya lagi, tiba-tiba media sosial menyebarkannya dengan cepat.

Sesaat, kolom komentar dipenuhi kalimat-kalimat penuh tuduhan dan ujaran penuh kebencian. Kasus bullying di masa sekolah yang telah lalu terungkap ketika seorang korban angkat bicara di ruang publik. Hal ini dimungkinkan dengan perkembangan teknologi yang membuat apapun yang tidak mungkin menjadi mungkin, termasuk bagaimana sebuah tindakan di masa lalu mampu mengoyak masa depan dan pekerjaan seseorang saat ini.

Dampak yang diberikan oleh budaya ini nyatanya cukup besar pada tahun 2020. Terhitung 62 persen masyarakat Amerika Serikat merasa takut berpendapat karena merasa bisa kehilangan pekerjaan mereka. Sekelompok orang yang tidak sejalan dengan norma sosial seringkali ditampilkan sebagai sesuatu yang ditakuti. Hal inilah yang kemudian menjadi pemicu dari cancel culture.

Budaya ini tidak terfokus pada korban maupun pelaku yang terlibat langsung dengan kasusnya. Akan tetapi, yang berbahayanya lagi adalah spektator di dalam media sosial itu sendiri. Sekali perbuatan tercela, maka orang itu harus dicela.

Meski tidak ada saksi, cukup korban yang memberikan bukti, seseorang dapat dikenakan sanksi. Kesalahpahaman pun tidak dapat dihindari. Ramai-ramai, spektator tersebut menyerukan kalimat yang sama, “You are cancelled!

Banyaknya orang yang tidak setuju dengan apa yang ia lakukan di masa lalu membuat orang-orang lain terus berdatangan dan bersama-sama ‘memboikot’ dirinya. Bermula dari sebuah utas di media sosial yang mencantumkan inisial namanya, sampai akhirnya nama lengkap, foto diri, serta identitas lain yang terhambur ke jagat maya.

Kini manusia hidup di masa kata “cancelled” yang disebarkan di media sosial dapat ‘mematikan’ kehidupan orang lainnya. Dari tindakan bullying, hate speech, sexual assault, sampai hanya perbedaan pendapat atau keyakinan, orang-orang dapat menyatakan ketidaksetujuannya dan mengajak orang lain untuk sama-sama memboikot orang tersebut. Selamat datang di era budaya pembatalan, atau yang lebih sering kita dengar sebagai cancel culture.

Awal mula cancel culture

Ilustrasi © Unsplash/Wildpixel
Ilustrasi © Unsplash/Wildpixel

Diberitakan pada tahun 2017, terungkap sebuah kabar yang berasal dari seorang produser film asal Amerika Serikat terkenal bernama Harvey Weinstein. Ia telah melakukan tindak pelecehan seksual terhadap rekan kerja perempuannya. Mulai dari asisten, sampai aktris yang akan membintangi filmnya.

Kejadian berulang selama bertahun-tahun, akhirnya terungkap dengan tagar #MeToo atau lebih dikenal sebagai Me Too Movement. Me Too Movement merupakan gerakan yang sudah diperkenalkan sejak 2006 oleh Tarana Burke, dalam usaha meningkatkan kesadaran di antara perempuan penyintas kekerasan seksual. Gerakan ini berbentuk publikasi tuduhan oleh korban terhadap pelaku dengan menggunakan tagar tersebut.

Terhitung 80 perempuan lain akhirnya bersuara terhadap tindak pelecehan yang dilakukan Weinstein pada mereka dengan mempublikasikan ceritanya disertai tagar #MeToo. Hasil akhir gerakan ini adalah hukuman penjara bagi Weinstein selama 23 tahun. Budaya ini kemudian bukan hanya menyeret para pelaku pelecehan seksual, tetapi juga orang-orang yang dianggap rasis atau seksis agar mereka tersadar dari tindakan yang telah mereka perbuat.

Cancel Culture hadir sebagai bagian dari Me Too Movement, salah satu bentuk dari pemboikotan seseorang melalui media sosial yang lebih universal. Mengutip jurnal DRAG THEM: A Brief Etymology of So-Called “Cancel Culture”, canceling adalah sebuah ekspresi untuk menarik perhatian seseorang dari orang lain, sehingga orang-orang tidak lagi ingin memberikan kehadiran, waktu, dan uang mereka. Budaya ini dinilai sebagai budaya yang baik tetapi secara kacau.

Budaya yang berasal dari Amerika Serikat tersebut akhirnya melebarkan sayap dan sampai ke Indonesia, khususnya ke pengguna media sosial yang aktif terhadap berita hangat yang tengah beredar. Berbagai hal dapat beredar dengan cepat di media sosial, seperti kasus kejahatan seksual “fetish kain jarik” yang dilakukan oleh mahasiswa di salah satu kampus di Indonesia. Kasus terbaru datang dari penulis skrip sebuah film layar lebar yang berhasil memenangkan piala Citra, dan masih banyak lagi.

Berbicara maupun berbahasa dapat berbahaya, karena dalam cancel culture, konteks yang salah dapat merusak berbagai pihak. Setiap orang perlu memahami bahwa ‘cancelling people’ dapat disalahgunakan dengan kuat. Cancel culture tidak boleh dianggap sebagai ajang mempermalukan seseorang, bukan juga budaya yang membuat orang dengan opini berbeda ‘dihukum’ secara berlebihan.

Referensi: Discourse, Context & Media | Communication and The Public | Television & New Media | Political Studies