Mengenal Collage Art dan Manfaatnya untuk Diri Kamu
Ilustrasi collage art. | Sumber: Andy Art/Unsplash

Setumpuk majalah yang lama berdebu karena tidak pernah dibaca lagi, tumpukan poster, brosur, atau koran yang usang dan terabaikan di sudut pojok rumah. Ternyata daripada dibiarkan menumpuk dan memenuhi isi rumah, barang-barang ini dapat dimanfaatkan lo Kawan. Pernah mendengar tentang collage art?

Collage yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘kolase’ dikutip dari penjelasan oleh Tate, merupakan sebuah teknik dan karya seni yang dihasilkan dari potongan-potongan kertas, foto, kain dan bahan berbeda lainnya yang kemudian disusun dan ditempel pada permukaan pendukung, misalnya pada kertas atau kanvas. Dikutip dari Master Class, kata collage berasal dari bahasa Perancis “collér” yang berarti “untuk merekatkan”.

Kawan punya kumpulan majalah yang sudah tak terpakai lagi? Lembaran brosur iklan yang malah jadi penyumbang sampah? Coba manfaatkan barang-barang yang sudah tak terpakai di rumah untuk membuat collage art.

Selain melatih kreativitas dan memiliki manfaat untuk kesehatan mental, Kawan dapat turut serta berkontribusi mengurangi limbah barang bekas lo, sebab secara gak langsung Kawan sedang melakukan reuse.

Hanya gunting lalu tempel, collage art miliki manfaat bagi kesehatan?

Ilustrasi collage art dari potongan majalah. | Sumber: Mick Haupt/Unsplash
Ilustrasi collage art dari potongan majalah. | Sumber: Mick Haupt/Unsplash

Sejarah perkembangan collage art sendiri telah ada cukup lama. Berdasarkan penjelasan oleh Creative Well Beings, kolase mulai masuk ke dunia seni rupa di awal abad kedua puluh melalui karya-karya oleh Pablo Picasso dan Georges Braque, yang menggunakan teknik kolase sebagai perpanjangan lukisan mereka.

Kemudian pada akhir abad kedua puluh, kolase masuk ke dalam dunia terapi seni (art therapy). Dengan beberapa teknik kolase paling awal yang digunakan oleh James Moriarty dengan pasien skizofrenia pada tahun 1973, menemukan bahwa kolase menawarkan struktur yang cukup mendukung dan kebebasan yang cukup untuk mengembangkan otonomi.

Bentuk kesenian kolase merupakan salah satu pilihan yang bagus untuk dicoba apabila Kawan ingin mengekspresikan sesuatu tetapi tidak tahu harus mulai darimana. Biasanya seseorang tidak menyukai kegiatan menggambar atau melukis karena merasa ada tekanan atau tuntutan hasil karyanya harus terlihat bagus. Padahal seni adalah sesuatu yang subjektif seperti yang dikutip dari The Aviary Recovery Center, sehingga tidak ada sesuatu yang secara objektif ‘buruk’ di dalam seni.

Dilansir dari Creative Well Being, kolase sangat efektif untuk digunakan pada art therapy, terutama bagi Kawan yang suka takut duluan untuk memulai membuat karya seni, kolase mungkin dapat menjadi pilihan yang tepat karena tidak dibutuhkan kemampuan seni tertentu. Melalui kolase, Kawan dapat berekspresi sebebas-bebasnya lo. Kawan tidak perlu merasa takut karyanya akan dihakimi atau dikritisi.

Kolase juga dapat menjadi salah satu sarana yang efektif bagi Kawan mengkomunikasikan sesuatu yang sulit dikomunikasikan secara verbal. Salah satu contoh kolase adalah “coping collage”, menurut Creative Well Being, kolase dapat membantu mengatasi kesedihan. Sebab saat seseorang melakukan kolase, sama seperti ketika menghadapi proses berkabung, terdapat proses konstruksi, rekonstruksi dan rehabilitasi di dalamnya.

Collage art juga dapat menjadi sarana melepaskan stres. Saat Kawan terlalu fokus pada kolase yang sedang disusun, kegiatan ini dapat memberikan waktu sejenak bagi pikiran kita untuk istirahat dari pikiran-pikiran yang negatif atau kecemasan-kecemasan yang kita miliki. Hasilnya, Kawan dapat lebih rileks. Dikutip dari Health Blogs, hobi kesenian juga dapat meningkatkan dopamin. Kabar baiknya, dopamin dapat mengurangi depresi lo.

Untuk memulai kesenian kolase sangat mudah sekali. Kawan cukup memanfaatkan barang-barang yang ada seperti majalah bekas, kertas sebagai media untuk menempel kolase, lem untuk perekat dan gunting untuk menggunting gambar-gambar dari majalah. Kegiatan ini cukup sederhana dan tidak memakan waktu terlalu banyak.

Referensi: Creative Well Beings | Healthy Blogs | The Aviary Recovery Center | Tate | Master Class