Mengenal Emisi Euro, Dalang di Balik Bersihnya Udara Eropa
Emisi Euro Pada Kendaraan | Golansia

Hingga saat ini polusi udara masih menjadi masalah serius di berbagai negara. Salah satu penyebabnya adalah muncul asap-asap pembakaran yang berasal dari pabrik, kendaraan, dan lainnya.

Adanya polusi udara ini memberikan dampak buruk bagi makhluk hidup yang notabe diwajibkan untuk menghirup udara segar dan bersih agar paru-paru dan juga aliran darah menjadi sehat. Sebab udara segar hanya dapat dihirup saat beberapa jam saja, yaitu pada saat kendaraan tidak berlalu-lalang, dan juga pabrik tidak melakukan pembakaran.

Namun nampaknya permasalahan polusi udara saat ini bukan jadi hal besar bagi sebagian negara di Benua Eropa. Sejak dulu Pemerintah belahan negara Benua Eropa telah menyadari bahayanya polusi udara yang menjadi musuh lingkungan. Sehingga mereka bergerak untuk membentuk solusi mengurangi polusi udara, salah satunya adalah dengan mengeluarkan Standar Emisi Euro.

Mengenal Standar Emisi Euro 

Standar Emisi Euro | Plug.id
Standar Emisi Euro | Plug.id

Pada tahun 1992, pemerintah sudah mulai mengeluarkan program bernama Standar Emisi Euro I yang dimana merupakan uji emisi yang dilakukan pada kendaraan yang menjadi salah satu faktor terbesar terbentuknya pencemaran udara.

Mengutip dari Jurnal Unair milik Andreanto, latar belakang munculnya Standar Emisi Euro adalah pesatnya pertumbuhan transportasi kala itu membuat BBM semakin dibutuhkan, dan tentu hal tersebut akan berdampak pada perkembangan emisi polutan dan mempertinggi kadar pencemaran udara. 

Dilansir dari situs resmi ESDM, Standar Emisi Euro I diterapkan dengan memperkenalkan konverter katalis dan bensin tanpa timbal untuk mobil dengan standar sebagai berikut:

Batas Emisi Euro 1 (Bensin) CO: 2,72g/km HC + Nox: 0,97 g/km

Batas Emisi Euro 1 (Diesel) CO: 2,72g/km HC + Nox: 0,97 g/km PM: 9.14 g/km

*Catatan: Nox = Nitrogen Oksida

Tidak hanya satu standar, namun pemerintah di Eropa telah mengeluarkan berbagai standar di tahun-tahun tertentu seperti Standar Emisi Euro II (1996), Euro III (2000), Euro IV (2005), dan terakhir Euro VI (2014) yang dimana Euro VI menjadi pedoman bagi beberapa negara dan salah satunya adalah Indonesia.

Dilansir dari situs Jakarta Smart City, spesifikasi Standar Emisi Euro VI adalah 0,006 g/km sebagai ambang batas emisi Nitrogen Oksida (Nox) dari kendaraan berbahan bakar bensin.

Keberadaan Standar Emisi Euro yang terus di kembangkan terus menerus tentu memiliki tujuan yaitu untuk memperkecil bahan pencemar yang mengandung Nitrogen Oksida dan beberapa bahan lainnya yang ada di dalam kendaraan. 

Dilansir dari Kompas, penerapan Standar Emisi Euro pun harus diikuti dengan bahan bakar yang bermutu. Salah satu contoh adalah penerapan Standar Emisi Euro I yang menggunakan bensin tanpa timbal, dan terus meningkat seiring dengan meningginya standar yang ada. Hal tersebut tentu akan mendukung kualitas pembakaran mesin agar meminimalisir efek buruk udara.

Dampak Diberlakukan Standar Emisi Euro

Dampak Standar Emisi Euro | Unsplash - Adrian Balasoiu
Dampak Standar Emisi Euro | Unsplash - Adrian Balasoiu

Pemberlakuan Standar Emisi Euro mendapatkan dampak yang positif bagi negara di Eropa itu sendiri. Dilansir dari CNN Indonesia, Society of Motor Manufacturers & Traders (SMMT) menyatakan bahwa adanya pengaruh signifikan pada pengurangan emisi.

Hal tersebut telah dilihat sejak 1993, tingkat emisi karbon monoksida berkurang 82 persen untuk mobil berbahan diesel dan 63 persen untuk bensin. Sementara pada tahun 2001, emisi nitrogen oksida turun 84 persen dan hidrokarbon turun 50 persen dalam mobil berbahan bakar bensin.

Referensi: Jurnal Unair Penerapan Emisi Euro |  ESDM | Jakarta Smart City |  Kompas | CNN Indonesia