Mengenal Lagom, Rahasia Hidup Bahagia Masyarakat Swedia
Lagom | Unsplash - lilzidesigns

Apa yang terbentuk dalam benak Goodmates kala mendengar negara Swedia? Mungkin sebagian akan memikirkan tentang negaranya yang bersih, indah, atau perusahaan furnitur milik Swedia yang sudah beroperasi di sebagian negara, salah satunya Indonesia.

Tetapi apa Goodmates tahu bahwasannya Swedia selalu memasuki peringkat sepuluh besar sebagai negara dengan penduduk yang bahagia? Bahkan dikutip oleh Kompas, di tahun 2021 ini United Nasion (UN) menobatkan Swedia sebagai negara dengan penduduk yang bahagia pada peringkat enam.

Dibalik kehebatan Swedia yang tak pernah absen dari penghargaan 'negara dengan penduduk yang bahagia' itu, terdapat motto yang menjadi pegangan bagi masyarakat Swedia untuk mencapai hidup yang bahagia. Mereka menyebutnya Lagom, untuk lebih jelasnya mari kita berkumpul dan mengenal konsep Lagom sebagai berikut.

Dipegang teguh sebagai pandangan hidup 

Prinsip Lagom | Study in Sweden
Prinsip Lagom | Study in Sweden

'Not too little, not too much. Just right.' Kata sederhana tersebut melambangkan arti dari Lagom sebenarnya. Lebih jelasnya, Lagom disebut sebagai pandangan hidup masyarakat Swedia yang condong kepada hidup sederhana.

Dikutip dari buku Via Apriliani bertajuk 'Sustainable Me', disebutkan bahwasannya Lagom menjadi kekuatan dalam basis mencapai hidup yang optimal dengan cara menerima dan memberi dalam porsi yang pas tanpa mengganggu keseimbangan individu dan dinamika grup.

Sesuai dengan katanya, Lagom sendiri dapat kamu sebutkan sebagai hidup yang sederhana tanpa banyak perkara. Budaya Lagom ini membuat masyarakat Swedia dapat memprioritaskan apa yang terpenting di dalam hidupnya dan merasa tercukupi dengan kebutuhan yang pokok saja.

Mengutamakan keseimbangan

Lagom utamakan Keseimbangan | Unsplash - Axel Antas
Lagom Utamakan Keseimbangan | Unsplash - Axel Antas

Not too little, not too much. Kata tersebut dapat diartikan sebagai keseimbangan yang dianut oleh masyarakat Swedia sebagai salah satu langkah untuk mengobati dan mencegah terjadinya gangguan mental atau mental health.

Dilansir dari Dekoruma, masyarakat Swedia tidak mengenal kata 'work hard, play hard'. Mereka mengutamakan keseimbangan pekerjaan dan kehidupan lainnya atau bisa kita sebut work-life balance yang saat ini pun sedang ramai diperbincangkan.

Mereka juga tidak begitu menyukai adanya lembur atau bekerja di luar jam, sebab lembur bagi mereka lembur adalah kurang efektivitas seseorang dalam menggunakan waktunya. Wah, berbeda sekali dengan Indonesia ya, Goodmates.

Berbagi kebahagiaan

Lagom Tentang Kebahagiaan | Unsplash - Shubhesh Aggarwal
Lagom Tentang Kebahagiaan | Unsplash - Shubhesh Aggarwal 

Lagom tidak hanya berbicara mengenai kehidupan yang sederhana, secukupnya, dan juga keseimbangan. Goodmates ingat bahwasannya Swedia merupakan negara yang memiliki penduduk yang selalu bahagia? Lagom juga merupakan bagian dari itu.

Dilansir dari Helloneu, masyarakat Swedia yang menerapkan prinsip Lagom juga memfokuskan diri untuk bersosialisasi, mereka berusaha untuk tidak menjadi pribadi yang individualis dan mengutamakan kelompok. Salah satu cara mereka untuk memanfaatkan momen tersebut adalah dengan fika paus atau coffee break. 

Bahkan di sana, mereka juga mengutamakan apresiasi satu sama lain, lho. Kalimat sederhana seperti 'kamu sudah melakukan yang terbaik' menjadi salah satu kunci kehidupan mereka yang begitu khidmat dan bahagia.

Bagaimana Goodmates, apakah sudah kenal dengan prinsip Lagom? Tertarik untuk menerapkannya?

Referensi: Kompas | Sustainable Me | Dekoruma | Helloneu