Mengenal Self-Efficacy, Sebuah Seni Pantang Menyerah
Ilustrasi © Unsplash/Edwin Tan

Kita semua pasti pernah berada di situasi yang membuat kita tidak yakin untuk melakukan sesuatu. Lingkungan yang baru membuat kita menjadi ragu karena tidak adanya rasa percaya diri untuk beradaptasi. Rasanya, keberadaan kita tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan di lingkungan ataupun tugas tersebut.

Perasaan yang muncul tersebut merupakan sebuah bentuk diskualifikasi diri kita sendiri yang tanpa disadari kita lakukan sehari-hari. Self-disqualification adalah sebuah tindakan yang membuat kita mudah untuk berkata tidak, bahkan sebelum kita melakukan sesuatu. Hal ini dikarenakan adanya perasaan tidak bisa atau tidak cocok melakukan segala sesuatu.

Apakah kamu merupakan orang yang tanpa sadar melakukannya? Jika iya, nyatanya belum tentu kita benar-benar tidak bisa atau tidak cocok. Sebagai manusia, memanglah wajar untuk kita kadangkala cenderung memandang rendah diri kita sendiri.

Perasaan rendah diri tersebut biasanya disebabkan oleh belum matangnya persiapan kita dalam menghadapi sesuatu. Namun, hal tersebut bukanlah hal yang boleh kamu lakukan setiap saat. Pola pikir yang mudah menyerah akan membuatmu tidak mampu berkembang menjadi versi diri kamu yang lebih baik lagi.

Ketika merasa tidak mampu atau tidak cocok dalam melakukan sesuatu, seseorang akan lebih mudah kehilangan motivasi dan akhirnya menyerah. Kamu menjadi tidak terbuka pada peluang dan kesempatan yang baru karena selalu menganggap kualitas dirimu selalu kurang. Tentunya, ini adalah hal yang tidak baik.

Selain karena sikap underestimate atau meremehkan kemampuan diri sendiri. Kita juga bisa melakukan diskualifikasi terhadap diri kita sendiri karena mengalami hal yang dinamakan magnification dan minimization.

Menurut seorang psikolog bernama Dave Stuart, magnification dan minimization merupakan bentuk distorsi kognitif yang membuat kita salah dalam mengevaluasi diri kita sendiri atau suatu kejadian. Kita cenderung melakukan magnification atau membesar-besarkan kekurangan dan kesalahan kita, sampai minimization atau menganggap kecil kelebihan kita.

Meskipun begitu, tindakan diskualifikasi diri serta magnification dan minimization ini merupakan tindakan-tindakan yang dapat dicegah dan diminimalisir dampaknya.

Memiliki role model

Ilustrasi © Unsplash/Marco VDM
Ilustrasi © Unsplash/Marco VDM

Memiliki role model atau seseorang yang bisa menginspirasimu merupakan salah satu cara yang dapat kamu lakukan untuk menjadi pribadi yang pantang menyerah. Dengan model yang memiliki prinsip, pencapaian, dan nilai yang positif, tentunya berpengaruh juga ke dalam diri kamu sendiri. Kamu dapat mengambil contoh perjuangan dan cara membangun kesuksesannya untuk menjadi pribadi yang lebih bersemangat mencapai tujuan.

Mulai ambil langkah

Setelah memiliki role model atau seseorang yang bisa menjadi tolak ukur kamu dalam menjalani hidup, kamu sudah dapat memulai untuk menetapkan langkah dan berani untuk berubah. Kegagalan adalah hal yang pasti, untuk itu tugasmu adalah bertahan dan terus berusaha.

Jangan takut untuk mencoba, karena apabila kamu tidak mencoba, kamu tidak akan pernah tahu sesuatu yang perlu kamu perbaiki. Dengan takut mencoba atau mengambil langkah, kamu juga tidak akan pernah tahu tantangan apa yang masih harus kamu latih lagi.

Membangun prinsip yang positif

Seperti pelengkap di akhir usaha, semuanya tidak akan bernilai ketika kamu belum membangun prinsip yang positif. Mengutip jurnal internasional Learning and Individual Differences, self-efficacy atau keyakinan akan kemampuan diri dapat berpengaruh terhadap motivasi dalam mencapai kesuksesan.

Dengan belajar percaya dan yakin pada diri sendiri, kamu bisa berjuang untuk menghadapi tantangan dan kesempatan yang baru. Yuk, belajar untuk tidak pantang menyerah!

Referensi: Bullet proof | Research gate | Psychology tools