Mengenal Sibaya, Ular Tangga dengan Kearifan Lokal
Ilustrasi permainan ular tangga. | Sumber: Doug Bierend/Unsplash

Kocok dadunya kemudian lemparkan. Satu.. Dua.. Tiga.. yes! Naik tangga! Siapa nih yang dulunya juga suka bermain ular tangga? Mungkin Goodmates udah gak asing sama board game satu ini. Permainannya yang khas dengan gambar kotak-kotak berisi angka dan dihiasi tangga dan ular-ular ini mungkin pernah mewarnai masa kecilmu dulu.

Kamu juga mungkin masih ingat dengan cara bermainnya yang sederhana dan menyenangkan. Biasanya ular tangga dimainkan oleh dua hingga empat orang, kemudian menggunakan dadu untuk menentukan seberapa banyak langkah yang akan diambil oleh bidak masing-masing.

Tidak kalah seru adalah momen ketika kita mendapat tangga atau ular. Apabila mendapat tangga, kita akan lebih cepat naik mendekati garis finish, sedangkan apabila mendapat ular mau tak mau kita dipaksa turun kembali ke bawah. Tapi, sebenarnya dari mana awal ular tangga itu berasal?

Sejarah Ular Tangga

Papan permainan Gyan Chaupar. | Sumber: ancient-origins.net
Papan permainan Gyan Chaupar. | Sumber: ancient-origins.net

Ternyata ular tangga merupakan salah satu permainan tradisional yang berasal dari India, loH! Bukan hanya sebuah permainan, ular tangga memiliki makna yang lebih dalam sebagai pembelajaran kehidupan.

Mengutip dari Ancient Origins, ular tangga awalnya dikenal sebagai Gyan Chaupar yang berarti Permainan Pengetahuan, juga dikenal sebagai Mokshapat dan Moksha Patamu. Meski tidak diketahui pasti siapa penemu atau pembuatnya, diperkirakan permainan ini sudah dimainkan di India sejak awal abad ke-2 Masehi.

Bukan sekadar mengajarkan persaingan serta kemenangan dan kekalahan, permainan ular tangga mengajarkan ajaran agama Hindu mengenai sebab dan akibat. Mengutip penjelasan oleh Live History of India, tangga mewakili kebajikan seperti iman, kedermawanan dan kerendahan hati. Sementara, ular mewakili sifat buruk seperti kemarahan, nafsu dan keserakahan. Kotak terakhir mewakili Tuhan atau surga yang menandakan kita telah mencapai pembebasan.

Tangga memiliki pesan bahwa perbuatan baik akan membawa kita menuju surga, sedang kejahatan membawa kita pada siklus kelahiran kembali. Jumlah tangga yang lebih sedikit dari jumlah ular juga ternyata memiliki makna tersendiri, loh, Goodmates. Ini sebagai sebuah pengingat bahwa jalan menuju kebaikan jauh lebih sulit dilalui daripada jalan menuju dosa.

Menjelang akhir abad ke-19, permainan ini dibawa ke Inggris oleh John Jacques pada 1892 dan disesuaikan dengan ajaran agama Kristen di mana versi Inggris memiliki jumlah ular dan tangga yang sama. Konsep kesetaraan ini menandakan cita-cita budaya saat dosa yang dilakukan seseorang, terdapat kesempatan lain untuk menebusnya. Pada tahun 1943, permainan ini sampai ke Amerika Serikat dan diberi nama Chutes and Ladders oleh Milton Bradley.

Belajar bahasa dan budaya bersama Sibaya

Sibaya, permainan ular tangga dengan kearifan lokal. | Sumber: Universitas Gadjah Mada
Sibaya, permainan ular tangga dengan kearifan lokal. | Sumber: Universitas Gadjah Mada

Indonesia juga baru-baru ini mengadopsi konsep permainan ular tangga yang ditambah dengan kearifan lokal. Mari berkenalan dengan Sibaya, sebuah permainan edukasi yang dirancang oleh Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada.

Mengutip penjelasan oleh Universitas Gadjah Mada, Sibaya merupakan singkatan dari Sinau Basa lan Budaya, produk ini diciptakan sebagai keperluan pembelajaran bahasa dan budaya bagi anak-anak usia sekolah dasar. Di dalam permainannya, Sibaya memuat kurang lebih seratus kartu pertanyaan berisi penguasaan bahasa, tingkat tutur, kesusastraan, kesenian, serta adat sopan santun.

Sibaya hadir dengan buku panduan bermain dalam tiga bahasa yaitu Jawa, Indonesia dan Inggris. Produk ini telah tercatat di perlindungan ciptaan. Kini anak-anak dapat belajar bahasa dan kebudayaan Jawa dengan lebih menyenangkan.

Referensi: Times of India | Live History of India | Ancient Origins | The Forgotten Toy Shop | Universitas Gadjah Mada