Menghambat Produktivitas, Kenali Fenomena Cyberslacking
ilustrasi seseorang yang WFH dan melakukan cyberslacking. | Sumber: Yogas Design/Unsplash

Teknologi berperan besar dalam keseharian banyak. Dengan adanya internet, kini bekerja atau bersekolah memungkinkan untuk dilakukan secara jarak jauh melalui rumah. Seperti mengganti kegiatan tatap muka dengan memanfaatkan aplikasi konferensi video.

Namun, seperti dua sisi mata koin, internet juga memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Bagi kamu yang sedang WFH atau bersekolah dengan sistem PJJ (pembelajaran jarak jauh) mungkin gak jarang pernah ter-distract dengan aplikasi-aplikasi lain di gawai atau perangkat digital saat sedang bekerja, bersekolah, atau mengerjakan tugas.

Mulai dari notifikasi media sosial tertentu, pemberitahuan dari aplikasi e-commerce, hingga akhirnya mampir sana mampir sini. Tugas utama belum usai, tetapi banyak waktu telah dihabiskan untuk membuka aplikasi atau situs tertentu yang tidak berkaitan dengan pekerjaan saat itu.

Nah, fenomena ini juga disebut sebagai cyberslacking atau istilah lainnya adalah cyberloafing. Menurut penjelasan oleh Traqq, cyberslacking adalah kondisi ketika seorang individu terganggu oleh teknologi di tempat kerja. Kondisi ini juga dapat diartikan sebagai individu yang konsentrasinya teralihkan saat sedang bekerja.

Aktivitas ini berkaitan dengan penggunaan internet yang tidak berhubungan dengan pekerjaan atau biasanya berkaitan dengan urusan pribadi. Misalnya, seseorang yang bekerja menggunakan perangkat digital mungkin menggunakan waktunya untuk bermain game, berbelanja online, menggunakan media sosial, atau memeriksa pesan teks pribadi.

Alasan seseorang melakukan cyberslacking

ilustrasi seseorang yang bosan. | Sumber: Magnet.me/Unsplash
ilustrasi seseorang yang bosan. | Sumber: Magnet.me/Unsplash

Setiap indvidiu memiliki faktor berbeda untuk melakukan cyberslacking. Merangkum penjelasan oleh situs Cyberloafing in The Workplace, berikut ini beberapa faktor yang biasanya menyebabkan seseorang melakukan cyberslacking.

Kesulitan menjaga work-life balance dapat menjadi salah satu alasan mengapa seseorang melakukan cyberslacking. Seseorang mungkin menggunakan internet untuk alasan pribadi, jika mereka tidak memiliki waktu luang untuk membagi waktu khusus bekerja dan waktu untuk kehidupan pribadi di luar pekerjaan. Individu yang memang kurang profesional juga mungkin melakukan cyberslacking.

Kemudian ketika atasan atau pengajar mendorong karyawan atau siswanya memanfaatkan internet untuk membantu pengerjaan tugas. Mereka cenderung menafsirkannya sebagai dukungan untuk menggunakan internet, dengan tujuan yang berkaitan soal pekerjaan ataupun tidak.

Apakah kamu pernah membuka media sosial atau aplikasi e-commerce saat sedang istirahat sebentar dari mengerjakan sesuatu? Cyberslacking juga mungkin dilakukan oleh individu yang membutuhkan pemulihan energi. Penggunaan internet untuk urusan pribadi mungkin dapat memberikan energi kepada seseorang dan memberikan waktu istirahat sejenak dari intensitas kerja yang tinggi.

Menurut Paul Spector, kebosanan yang melanda pekerja juga dapat mengantarkan mereka melakukan cyberslacking. Misalnya, kebosanan ini dikarenakan terus menerus mengerjakan tugas yang serupa dalam jangka waktu yang lama.

Bagaimana cara menghindari cyberslacking?

ilustrasi timer. | Sumber: Ralph Hutter/Unsplash
ilustrasi timer. | Sumber: Ralph Hutter/Unsplash

Kalau sudah merasakan dampak negatif dari cyberslacking, tenang saja, kamu dapat menghindarinya, kok. Merangkum penjelasan oleh TimeCamp, salah satu caranya dengan menggunakan time tracking.

Sekarang sudah terdapat banyak sekali aplikasi yang memiliki layanan serupa. Sesuai namanya, tidak hanya mencatat situs atau aplikasi apa saja yang paling lama digunakan dalam hitungan durasi, aplikasi ini juga biasanya memberikan layanan untuk mengontrol waktu dan penggunaan aplikasi tertentu.

Misalnya, kamu memberi durasi tertentu untuk penggunaan media sosial Instagram, nah beberapa aplikasi time tracking bisa memberikan reminder jika durasi yang telah kamu tentukan tersebut habis.

Cara lainnya, kamu dapat menggunakan teknik 20-20-20 atau teknik pomodoro. Berikan waktu dengan durasi tertentu untuk bekerja dan sediakan waktu untuk beristirahat sejenak dari pekerjaan. Hal ini juga berguna untuk menghindari perasaan bosan dan burn-out yang disebabkan intensitas kerja yang tinggi.

Referensi: Traqq | TimeCamp | Paul Spector | Cyberloafing in The Workplace