Mengintai Pascakelulusan, Begini Cara Hadapi Post Graduation Blues
ilustrasi mahasiswa yang baru lulus kuliah. | Sumber: Leon Wu/Unsplash

Kelulusan menjadi salah satu hal yang diidamkan bagi banyak orang. Apabila mengingat perjuangan mengerjakan tugas akhir, banyak malam yang dilewati dengan begadang, semua tenaga, waktu, pikiran, serta perasaan yang dicurahkan hingga sampai kepada titik akhir ini. Rasanya berhasil lulus dari perguruan tinggi menjadi buah manis yang dipetik setelah perjuangan yang panjang.

Setelah lulus dari universitas, umumnya sebagian dari kita akan mencari pekerjaan atau melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Meski umumnya kita akan berbahagia merasakan euforia kelulusan tersebut.

Namun, melansir dari Give A Grad A Go, sebuah survei yang dilakukan oleh City Mental Health Alliance justru menunjukan dampak lain dari pasca kelulusan bagi mahasiswa. Sebanyak 49 persen mahasiswa mengatakan kesehatan mental mereka menurun setelah meninggalkan universitas.

Fenomena ini bisa disebut sebagai post graduation blues atau depresi pasca kelulusan. Mengutip penjelasan oleh Her Campus, post graduation blues tidak secara formal didefinisikan dalam bidang medis tetapi sebagai bentuk dari depresi.

Secara umum post graduation blues dapat diklasifikasikan sebagai perasaan putus asa, sedih dan frustasi. Hal itu sering disebabkan oleh besarnya tekanan yang dirasakan dari kegagalan mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah, pengalaman pindah ke daerah lain, meninggalkan teman dan keluarga, atau memiliki kebingungan tentang identitas dan rencana masa depan.

Fenomena ini juga sering dikaitkan dengan pengalaman quarter life crisis. Meski gejala yang dirasakan masing-masing individu dapat berbeda, terdapat beberapa gejala umum yang dialami seseorang dengan post graduation blues.

Di antaranya perasaan khawatir atau takut tentang masa depan, feeling ‘lost’ dan tidak yakin tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya, dan kurangnya motivasi atau sulit berkonsentrasi.

Apa yang menyebabkan seseorang dapat mengalami post graduation blues? Menurut Dr. Lotes Nelson, konseling kesehatan mental klinis di Southern New Hampshire University dilansir dari situs SNHU, beberapa faktor yang menjadi penyebab post graduation blues adalah transisi yang melibatkan perubahan dalam pengaturan kehidupan sehari-hari individu.

Menghadapi perubahan seringkali tidak mudah dijalani. Diperlukan waktu untuk beradaptasi dengan rutinitas dan pergeseran pola pikir dari siswa menjadi orang dewasa yang bekerja. Belum lagi setelah lulus nanti mungkin akan semakin sulit mencocokan jadwal bersama teman-teman kampus dahulu. Kesulitan dalam menyesuaikan diri dalam kehidupan juga menjadi salah satu faktor pemicunya.

Cara hindari post graduation blues 

coba membicarakannya dengan orang lain atau membuat waktu bersama teman dapat membantu menghadapi post-graduation blues. | Sumber: Priscilla Du Preez/Unsplash
coba membicarakannya dengan orang lain atau membuat waktu bersama teman dapat membantu menghadapi post-graduation blues. | Sumber: Priscilla Du Preez/Unsplash

Berikut merupakan beberapa tips yang dirangkum dari Give A Grad A Go untuk menghadapi post graduation blues. Berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Hal satu ini tak jarang tanpa disadari sering kita lakukan. Melihat teman yang berhasil mewujudkan karir impiannya kadang membuat kita akan bertanya-tanya ‘giliranku kapan ya bisa seperti dia?’.

Ingat bahwa linimasanya bukan linimasamu. Daripada fokus terhadap harapan yang tidak realistis dan tekanan sosial pasca kelulusan, lebih baik untuk fokus mencari tahu apa yang kamu sukai dan apa yang sebenarnya ingin kamu lakukan.

Daripada membandingkan diri dengan orang lain, cobalah untuk bertukar pikir dan berbagi pendapat. Kamu bisa meminta saran dan belajar dari temanmu yang telah berhasil mewujudkan karir impiannya.

Coba berbagi cerita dan pengalaman dengan orang lain dapat membantu kamu melewati post graduation blues. Kamu akan menyadari bahwasanya kamu tidak sendirian dan banyak orang yang juga merasa khawatir dan kebingungan akan masa depan mereka.

Kamu juga dapat memanfaatkan layanan karir yang disediakan pihak universitas. Layanan ini umumnya memiliki banyak sumber daya yang berguna mengenai panduan melamar kerja. Coba cari tahu apakah terdapat layanan sejenis di kampusmu berasal.

Biasanya pada fase melamar kerja, hari-hari menunggu jawaban lamaran terasa tidak terstruktur dan dapat menimbulkan kecemasan. Untuk mengatasinya, cobalah untuk memiliki kegiatan rutin. Misalnya, dalam sehari kamu dapat memberi waktu berapa jam untuk melamar pekerjaan, berapa jam untuk menyusun CV dan berapa jam untuk survei mencari pekerjaan.

Luangkan waktu juga untuk diri sendiri dan keluarga atau teman. Entah menonton film, melakukan olahraga yang kamu sukai, atau hangout bersama teman-teman. Jika terus menerus berkutat pada mencari kerja bisa jadi kamu akan merasa kelelahan fisik dan mental.

Terakhir, berikan dirimu waktu yang cukup untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru. Mustahil dapat mengetahui apa yang ingin kamu lakukan di masa depan hanya dalam semalam.

Jangan buru-buru dan memberi tekanan terlalu besar pada dirimu untuk segera menemukan apa yang ingin kamu lakukan kedepannya. Remember, that small steps are also a progress. Semangat, Goodmates!

Referensi: Give A Grad A Go | Her Campus | Southern New Hampshire University