Mengkonsumsi Teh Setelah  Makan, Apakah Boleh?
Ilustrasi sajian teh | Foto: Pexels

#FutureSkillsGNFI

Sejarah Teh di Indonesia

Teh sudah lama digandrungi masyarakat Indonesia. Pada tahun 1684 teh memiliki sejarah panjang di Indonesia diawali dengan masuknya tanaman teh (Camellia sinensis) yang berupa biji Jepang. Seorang dokter, pengajar, ahli botani sekaligus saudagar di VOC bernama Andreas Cleyer yang berkebangsaan Jerman membawa teh ke Jakarta (Batavia).

Kebiasaan Masyarakat Indonesia Mengonsumsi Teh

Sampai sekarang masyarakat Indonesia tidak bisa lepas dari teh karena teh dapat diminum kapanpun, mulai dari seduhan teh panas di pagi hari sampai sajian es teh di siang yang terik untuk melepas rasa dahaga. Tak jarang masyarakat Indonesia mengkonsumsi teh tepat setelah menyantap suatu hidangan pokok. Apakah kamu salah satunya?

Kandungan Tanin dalam Teh

Teh mengandung banyak kandungan dengan segudang manfaat. Salah satu yang terkandung dalam teh adalah zat tanin. Tanin merupakan kelompok senyawa dalam makanan yang masuk dalam golongan besar senyawa polifenol. Zat ini secara alami terkandung dalam bermacam bagian tumbuhan, seperti biji, buah, daun, bahkan kulit batang. Senyawa tanin pada tumbuhan umumnya berfungsi dalam upaya perlindungan diri melawan hama. Dalam hal ini teh merupakan sumber tanin.

Lalu, Apa Kaitannya dengan Konsumsi Teh Setelah Makan?

Banyak sekali manfaat yang akan kita dapatkan setelah mengkonsumsi teh dengan porsi dan waktu yang tepat. Namun, kebiasaan minum teh tepat setelah makan tanpa kita ketahui dapat memberikan dampak buruk terhadap kesehatan kita jika terus menerus dilakukan. Masalah kesehatan yang timbul bisa jadi ringan bahkan bisa menjadi serius.

Seperti yang telah dijelaskan diatas, teh mengandung senyawa tanin. Senyawa ini akan menghambat penyerapan micronutrient seperti zat seng, kalsium, magnesium, dan terutama zat besi.

Tidak hanya itu, zat tanin juga akan mengikat dan mengendapkan protein sehingga tidak bisa dicerna oleh organ pencernaan. Sangat disayangkan kita makan untuk memperoleh nutrisi alih-alih nutrisinya terikat oleh zat tanin dan tidak bisa diserap oleh tubuh.

Zat besi mempunyai fungsi vital dalam tubuh, zat besi merupakan mineral penting untuk fungsi hemoglobin dalam pengangkutan oksigen dalam darah. Dengan terikatnya zat besi oleh senyawa tanin dalam teh, maka tubuh akan mengalami kekurangan zat besi yang bisa menyebabkan anemia yang ditandai dengan kelelahan, pusing, dan nyeri dada.

Sebuah jurnal membuktikan adanya keterkaitan antara kebiasaan minum teh dengan gangguan kesehatan anemia. Dalam jurnal penelitian dengan jenis Analitik Observasional dan metode cross sectional kepada 38 responden ibu hamil trimester III yang diselenggarakan di Puskesmas Pallangga Gowa pada tahun 2018 didapatkan kesimpulan terdapat 16 ibu hamil yang mengkonsumsi teh setelah makan dan ada 13 ibu hamil yang mengalami anemia, sedangkan responden yang tidak mengkonsumsi teh terdapat 22 orang dan yang mengalami anemia sebanyak 9 orang.

Kapan Waktu Tepat untuk Mengonsumsi Teh?

Meminum teh setelah makan sebetulnya tidak sepenuhnya dilarang, tetapi sebaiknya kamu dapat memberi jeda antara waktu makan dan meminum teh untuk menghindari terhambatnya penyerapan zat besi.

Yang perlu diingat, setiap orang memiliki waktu pengosongan lambung dari makanan padat yang bervariasi antara individu dan dipengaruhi juga oleh komponen makanan yang dimakan, yang telah dilaporkan berkisar antara 45 – 108 menit. Sehingga, dianjurkan bagi yang ingin meminum teh setelah makan untuk memberi jeda sekitar 1 hingga 2 jam.

 

Referensi: FKM UI | FISIPOL UGM | Halodoc