Mengubah Karakter Anak dengan Komunitas Harapan Semarang
Komunitas Harapan Semarang | Facebook

Tanpa disadari, karakter merupakan aspek yang akan terus melekat pada manusia. Karakter tersebut akan terus terbentuk setiap harinya, menjadi gambaran yang melekat pada setiap insan. Karakter itu sendiri mulai terbentuk sejak kecil.

Mengutip dari Kompas, Kemendikbud menyebutkan ada tiga aspek yang dapat membentuk kepribadian anak, yaitu keluarga atau rumah (Pengaruh sebesar 60 persen), satuan pendidikan (Pengaruh sebesar 25-30 persen), dan masyarakat (Pengaruh sebesar 10-15 persen).

Walaupun keluarga memberikan pengaruh terbesar pada tumbuh kembang karakter anak, tetapi sayangnya tidak semua orang tua memahami adanya pengaruh besar tersebut. Membiarkan anak tanpa adanya pantauan dapat memberikan dampak yang kurang baik.

Anak yang belum bisa membedakan mana yang baik atau tidak pun akan merasa kehilangan arah, dan akan mencoba apapun yang ada di depannya. Maka dari itu, tidak sedikit anak-anak nakal terbentuk di tanah air tercinta ini. Hal tersebut membentuk adanya Komunitas Harapan Semarang.

 Berawal dari rasa miris

Komunitas Harapan Semarang | Jawa Pos
Komunitas Harapan Semarang | Jawa Pos

Ini dia salah satu komunitas yang berlokasi di Kota Semarang, Jawa Tengah. Kita kenalan dengan Komunitas Harapan Semarang. Komunitas ini datang bak pahlawan untuk menolong para anak-anak jalanan mendapatkan pendidikan yang setara dengan anak-anak lainnya.

Tak hanya itu, komunitas ini juga membawa misi untuk memperbaiki karakter anak. Agung Setia Budi selaku pendiri dari Komunitas Harapan Semarang merupakan dalang dari komunitas mulia ini.

Dikutip dari Jawa Post, mirisnya lingkungan sekitar yang dipenuhi oleh hal-hal negatif seperti miras dan pergaulan tak senonoh membuat Agung 'nekat' untuk membentuk Komunitas Harapan.

Menurutnya, lingkungan yang dihadapinya saat ini tidak cocok bagi kondisi mental dan juga pembentukan karakter anak. Tak jarang juga ditemukan anak-anak di sana begitu fasih mengucapkan kata kasar yang tentunya tidak baik. Dia juga tidak ingin anak-anak di lingkungannya mendapatkan kehidupan yang seperti itu.

Pada awal pembentukan, konsep sekolah informal yang dibentuk oleh Agung masih sangat umum. Namun, semua berakhir kala salah seorang mahasiswi yang dilansir oleh blog pribadi Komunitas Harapan Semarang bernama Pranamya Dewanti datang.

Rekontruksi sistem pengajar terus terjadi menyesuaikan dengan kebutuhan. Hal tersebut beriringan dengan semakin banyak 'Relawan Nekatz' yang dengan senang hati memberikan tenaga dan pikiran untuk mengajar anak-anak di sana.

Mencetak prestasi

Komunitas Harapan | MEDIAINI
Komunitas Harapan | MEDIAINI

Perjuangan Agung beserta Relawan Nekatz nyatanya membuahkan hasil yang gemilang. Hal tersebut disebutkan oleh Odi sebagai koordinator Komunitas Harapan. Komunitas yang melangsungkan kegiatan belajar mengajar pada Kamis, Jumat, dan Sabtu ini memberikan wadah bagi para anak-anak jalanan dan juga putus sekolah untuk mengembangkan diri. 

Sebelum adanya Odi sebagai koordinator Komunitas Harapan, konsep pembelajaran yang dilakukan hanyalah sebatas belajar mengajar biasa. Setelahnya, saat ini anak-anak bisa mengasah kemampuan dalam berbagai bidang, seperti menyanyi, menari, kerajinan tangan, menggambar, dan lain-lain.

Berkat kesabaran, jatuh bangun, dan semangat komunitas yang membara, anak-anak dari Komunitas Harapan berhasil mencetak prestasi seperti pemenang lomba kerajinan tangan dalam rangka Peringatan Anak Sedunia tahun 2017 lalu.

Kemampuan mereka pun lantas diperlihatkan kepada warga Semarang, seperti mengikuti lomba menyanyi di Universitas Dipenogoro dan juga menampilkan pertunjukan tari di Simpang Lima.

Adanya harapan

Founder Komunitas Harapan | Google
Founder Komunitas Harapan | Google

Komunitas Harapan, sesuai dengan namanya Agung berharap komunitas ini dapat menjadi wadah bagi para anak-anak agar menjadi pribadi yang pintar dan juga santun kepada orang tua. Walaupun kenyataan pahit harus ditelan habis-habis.

Komunitas ini harus kehilangan Agung pada tahun 2014 lalu. Meski begitu, perjuangan tetap harus berjalan. Istri Agung yang sempat menyerah pun pada akhirnya membulatkan tekad untuk terus menjalankan Komunitas Harapan hingga saat ini.

Mulia sekali, ya, Agung dan Relawan Nekatz ini, Goodmates? Jika kamu ingin menjadi salah satunya, kamu bisa segera mengunjungi laman sosial media Instagram mereka di @harapansmg.

Referensi: Kompas | Jawa Pos | Komunitas Harapan Semarang | Bangsa Online