Menilik Angka Kecukupan Gizi (AKG) dalam Kemasan
Sumber Makanan yang Sehat © Unsplash/Vitalii Pavlyshynets

Tubuh membutuhkan asupan gizi yang cukup untuk mempertahankan daya tahan tubuh dari penyakit. Di masa pandemi COVID-19, tentunya ketahanan tubuh yang tinggi menjadi hal yang vital bagi semua orang. Jenis makanan tertentu yang memiliki gizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh ini menjadi langka karena banyak diperebutkan.

Selain menangkal penyakit, kandungan gizi yang cukup yang dapat didapatkan dari makanan yang bergizi juga dapat menjaga proporsi tubuh yang ideal. Hal ini membuat banyak orang berlomba-lomba untuk diet dengan membatasi makanan, tetapi tetap memperhatikan kandungan gizi yang diterima. Tentunya, tubuh manusia tidak bisa kekurangan gizi dalam setiap harinya. 

Dilansir dari Halodoc, orang-orang yang tengah melakukan diet tetap menyesuaikan dengan gizi yang diperlukan untuk diet mereka itu sendiri. Untuk itu, perlu bagi kita untuk mulai kritis terhadap kandungan gizi dari apa yang kita konsumsi. Semua hal yang kita ingin ketahui dan butuhkan tertera dalam bagian Angka Kecukupan Gizi (AKG) di dalam label kemasan.

Contoh kandungan gizi

Dilansir dari Hello Sehat, Angka Kecukupan Gizi (AKG) pada informasi nilai gizi merujuk pada kebutuhan energi harian rata-rata manusia, yaitu sebesar 2000 kkal. Nilai ini menunjukkan jumlah zat gizi dalam satuan berat, seperti miligram (mg) atau gram (gr) atau disajikan dalam bentuk persentase (%) AKG seperti yang biasa tertera di kemasan makanan. Untuk itu, sebelum membeli suatu produk makanan, ada baiknya bagi kita untuk mencermati kemasannya.

Di dalam kemasan suatu produk, tertera Angka Kecukupan Gizi (AKG) dengan nama-nama yang biasanya asing untuk kita baca. Untuk itu, jangan ragu untuk menghabiskan waktu dengan mengenali serta membandingkan kandungan gizi yang dimiliki satu produk. Hal ini memang menyulitkan karena produk makanan dan minuman yang kita konsumsi pastinya memiliki beragam zat gizi, tetapi kenapa tidak dilakukan untuk kesehatan kita sendiri?

Beberapa hal yang penting untuk diingat adalah beberapa kandungan gizi dalam suatu produk makanan atau minuman yang harus diperhatikan untuk dibatasi. Contoh kandungan gizi tersebut adalah lemak jenuh, lemak trans, gula tambahan, dan garam atau natrium. Keempat kandungan gizi ini adalah kebutuhan dasar yang biasanya sudah terpenuhi dengan makanan kita sehari-hari, sehingga kita tidak memerlukan gizi tambahan dari produk makanan yang lainnya, terlebih di atas 5% AKG.

Gizi yang harus dibatasi tersebut juga terkadang muncul dengan nama asing yang sering kita artikan sebagai sumber gizi yang lainnya. Misalnya, gula juga dapat berbentuk wujud aspartam dan corn syrup. Hal ini membuat kita harus lebih teliti lagi dalam mengecek nilai gizi dalam kemasan makanan dan minuman yang kita konsumsi.

Di samping itu, ada pula beberapa kandungan gizi yang seringkali kadarnya kurang untuk diasup oleh tubuh manusia. Hal ini membuat kandungan gizi ini harus dipenuhi, dan bisa kita ketahui dengan mengecek AKG dalam suatu kemasan produk. Gizi tersebut adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral.

Karbohidrat dapat menjadi sumber tenaga utama dalam tubuh manusia, begitu juga dengan vitamin yang penting untuk sistem imun. Gizi-gizi ini harus mencapai kadar yang dibutuhkan oleh tubuh, dan kita bisa mencari kandungan gizi tersebut sekitar 20% AKG atau lebih yang bisa kita cek dalam label kemasan.

Apa jadinya bila manusia kelebihan suatu gizi?

Ilustrasi © Unsplash/Diana Polekhina
Ilustrasi © Unsplash/Diana Polekhina

Menurut buku Nutrition and Food: Gizi untuk Keluarga, asupan suatu gizi yang berlebihan dapat memberikan efek samping yang buruk untuk kesehatan tubuh. Tidak peduli gizi tersebut adalah gizi yang baik atau bukan, segala sesuatu yang berlebihan pasti akan berdampak tidak baik. Mulai dari obesitas, diabetes, sampai timbulnya penyakit-penyakit lain, seperti jantung, hipertensi, hingga kanker.

Tentunya, kita sebagai individu yang ingin terus hidup sehat harus terus memperhatikan asupan gizi yang diberikan kepada tubuh kita. Jangan sampai kekurangan, ataupun kelebihan. Salam sehat!

Referensi: Hello Sehat | Kompas | Halodoc | Medicina