Menimbulkan Kontra, Ada Apa dengan Drama Korea Snowdrop?
Snowdrop | SINDONews

K-drama atau yang biasa disebut dengan drakor kerap memberikan tayangan dengan berbagai genre. Tayangannya tak pernah gagal merebut hati para penggemar, salah satunya Indonesia.

Tak heran bila penggemar k-drama semakin hari semakin banyak. Tidak hanya dari kawula muda, tetapi juga orang dewasa. Bahkan, tak jarang drama-drama yang ditayangkan menjadi trending di berbagai media sosial. 

Salah satu drama yang saat ini kerap menjadi topik hangat di media sosial adalah "Snowdrop". Drama ini diperankan oleh Jisoo dari BLACKPINK dan juga Jung Hae In.

Dikabarkan drama ini menjadi drama pertama yang diperankan oleh Jisoo setelah lama debut bersama BLACKPINK. Tentu para BLINK merasa bersemangat bukan untuk menonton, sekaligus mendukung Jisoo setelah sekian lama tak terjun ke dunia akting?

Tidak hanya itu, "Snowdrop" juga melibatkan pemain pendukung yang tak kalah keren dengan pemeran utama, seperti Yoon Se Ah dan juga Kim Hye Yoon. Keduanya pernah beradu akting dalam drama "Sky Castle" dan berhasil meraih rating tinggi di Korea Selatan.

Snowdrop beserta kontroversinya yang menggelegar

Kontrovesi Snowdrop | JTBC
Kontrovesi Snowdrop | JTBC

Walau dimainkan oleh para aktor dan aktris yang berpengalaman, tetapi drama yang satu ini tidak banyak menerima ulasan positif dari warga Korea Selatan. Bahkan, pada saat diumumkan tanggal perilisan, para warga segera membuat petisi Blue House untuk membatalkan perilisan "Snowdrop".

Tidak main-main, petisi yang dibentuk telah ditandatangani oleh lebih dari seratus ribu warga.  Walau begitu, pihak JTBC sebagai stasiun tv yang menayangkan "Snowdrop" menolak untuk berhenti. Hingga pada 18 Desember 2021, "Snowdrop" merilis episode pertama dan lagi-lagi menuai reaksi negatif dari para netizen. 

Lantas, apa yang membuat "Snowdrop" menjadi drama dengan kontra yang begitu besar? Mari kita ulas informasinya.

Adanya situasi politik yang memanas

Dikutip dari CNN Indonesia, salah satu alasan penolakan "Snowdrop" adalah alur cerita yang mengarah pada masa saat Korea Selatan tengah menghadapi situasi politik yang memanas.  Puncak dari peristiwa tersebut adalah pada 1987, saat gerakan prodemokrasi semakin mencuat untuk melawan rezim otoriter. Namun pada alur cerita, "Snowdrop" dinilai merendahkan para prodemokrasi yang telah berjasa membuat Korea Selatan menjadi republik.

Namun, lagi-lagi JTBC menolak tuduhan tersebut dengan menyatakan bahwa ada kesalahpahaman. Adapun bocoran sinopsis yang membuat cerita menjadi tidak utuh. Jung Hae In yang diceritakan sebagai mata-mata Korea Utara, memicu perdebatan mengenai drama "Snowdrop" yang merendahkan prodemokrasi.

Nama pemeran yang digunakan oleh Jisoo

Jisoo sebagai Young Ro | NME
Jisoo sebagai Young Ro | NME

Pada drama "Snowdrop", Jisoo berperan sebagai Young Cho. Dikutip dari Sindonews, Young Cho merupakan tokoh demokrasi yang berperan besar di Korea Selatan. Sementara suami dari Young Cho adalah pendukung prodemokrasi yang tewas disiksa dengan tuduhan mata-mata.

Tak heran bila warga Korea merasa sensitif dengan nama tersebut. Hingga akhirnya pihak "Snowdrop" mengganti nama Young Cho dengan Young Ro.

Jalan cerita yang dinilai mendewakan NSP

Badan Perencanaan Keamanan Nasional (NSP) menjadi organisasi yang disebutkan di drama "Snowdrop". Bahkan, ada beberapa aktor yang berperan menjadi salah satu bagian dari NSP. Warga menduga bahwa "Snowdrop" mendewakan NSP dan mendukung NSP.

Padahal, pada masa itu NSP menjadi pemicu yang meninggalkan rasa takut dan juga trauma bagi masyarakat Korea Selatan. NSP sendiri disebut sebagai sosok yang kerap menutupi adanya kasus pembunuhan.

Lagu nasional yang diputar sebagai pengiring drama

Mengutip dari detik, masyarakat Korea menyebutkan salah satu alasan "Snowdrop" kembali menuai kontra adalah diputarnya lagu nasional pada adegan, saat pemeran pendukung dari Badan Perencanaan Keamanan Nasional mengejar mata-mata. Mereka mengklaim adanya rasa tidak nyaman pada saat lagu tersebut diputar pada saat adegan tersebut. 

Adanya petisi yang sampai saat ini masih dibuka, telah menghasilkan cukup banyak impact. Salah satunya dikabarkan ada banyak sponsor yang mundur dari "Snowdrop" setelah mengetahui petisi tersebut.

Referensi: CNN Indonesia Sindo News | Detik