Merasa Baik-Baik Saja? Hati-hati Topeng Smiling Depression
Ilustrasi Senyum © Unsplash/Tim Mossholder

Depresi berhubungan dengan kesehatan mental seseorang. Pastinya, kamu juga sudah tidak asing lagi dengan kata tersebut. Depresi mengacu pada suasana hati atau keadaan emosional yang menekan sehingga mengakibatkan penurunan suasana hati atau semangat.

Seseorang yang mengalami depresi dapat ditunjukkan dari bagaimana mereka bertingkah laku. Adapun tingkah laku dari gejala depresi, seperti hilangnya minat beraktivitas, perubahan pola tidur dan makan, meningkatnya intensitas perasaan bersalah dan putus asa, kelelahan, gelisah, sampai sulit berkonsentrasi. Tidak jarang, seseorang yang mengidap depresi juga memiliki pikiran untuk bunuh diri.

Meskipun depresi dijelaskan sebagai suatu kesedihan yang dialami oleh seseorang, gejala depresi yang dialami setiap orang pastilah berbeda-beda. Ada yang mengidap gejala yang ringan atau sampai yang berat. Gejala-gejala tersebut harus tetap diperhatikan dan harus segera berkonsultasi dengan psikolog apabila terasa semakin parah.

Jangan sampai gejala-gejala tersebut kamu tutupi dengan bersikap baik-baik saja. Nyatanya, manusia yang sehari-harinya tersenyum dan dapat melakukan pekerjaannya secara maksimal, bisa saja mengidap depresi yang kerap disebut smiling depression.

Mengenal smiling depression

Smiling depression atau “masked depression” adalah keadaan dimana seseorang mungkin hidup dengan depresi yang tidak diketahui karena orang tersebut terlihat bahagia. Bahkan, sebagian dari mereka kehidupannya terlihat sempurna.

Oleh karena itu, smiling depression adalah hal yang sulit diketahui. Mengapa demikian? Pengidapnya menunjukkan perilakunya yang biasa, dengan menjadi seseorang yang aktif, memiliki keluarga dan pergaulan sosial yang sehat dan seimbang, cenderung ceria, optimis, dan yang terpenting adalah mereka terlihat bahagia.

Dikutip dari Indian Journal of Community Health, penyebab seseorang mengalami smiling depression ini memang tidak jauh berbeda dengan penyebab depresi itu sendiri. Smiling depression dapat disebabkan oleh banyak faktor, seperti perubahan yang besar pada hidup seperti putusnya sebuah hubungan, atau kegagalan dalam pekerjaan.

Ekspektasi kita yang melampaui kenyataan juga dapat menjadi faktor pemicu depresi. Tekanan sosial juga dapat mempengaruhi, dengan bagaimana kita hidup di antara stigma dan stereotip yang ada di tengah-tengah masyarakat, menjadikan kita “dibentuk” sesuai dengan stigma atau stereotip tersebut.

Ditambah, adanya media sosial di masa sekarang ini juga turut menjadi faktor awal mulanya depresi dalam diri seseorang. Dengan adanya normalisasi dari tindakan-tindakan tersebut, seseorang menjadi lebih terbiasa untuk bersembunyi di balik topeng smiling depression.

Smiling depression: bukan tanda emosi di depan orang lain

Menyendiri © Unsplash/Noah Siliman
Menyendiri © Unsplash/Noah Siliman

Smiling depression adalah salah satu bentuk perilaku manusia yang membuat kita sebagai insan manusia lainnya tidak bisa menilai seseorang dari luarnya saja. Di tengah situasi dunia yang berantakan dan kacau, kita banyak berhadapan dengan situasi saat kita merasa sendiri.

Merasa tanpa adanya dukungan keluarga, teman atau hal-hal lainnya yang membuat kita bisa diselimuti depresi. Menunjukkan gejala-gejala depresi dan tidak selalu berkata, “Aku baik-baik saja” bukan suatu pertanda bahwa seseorang itu lemah.

Berpikir bahwa dunia ini lebih baik tanpa diri kita atau berpikir masih ada orang yang kondisinya lebih buruk dari kita juga adalah pemikiran yang seharusnya dihindari. Semua perasaan yang dirasakan seseorang tentunya valid. Pada dasarnya, semua orang memang tengah menghadapi perangnya masing-masing, sehingga kita tidak bisa menilai orang dilihat dari luarnya saja.

Hal penting yang perlu diketahui adalah pemikiran untuk bunuh diri biasa terjadi bagi pengidap depresi, tetapi kebanyakan tidak memiliki motivasi maupun energi yang cukup untuk melakukannya.

Dikutip Indian Journal of Psychiatry, dalam kasus smiling depression, kasus bunuh diri lebih tinggi dan lebih sulit untuk dicegah dikarenakan mereka memiliki energi dan motivasi untuk melakukannya. Inilah yang membuat depresi jenis ini lebih berbahaya ketimbang depresi yang biasanya.

Banyak orang yang tidak sadar bahwa mereka tengah mengalami smiling depression, sehingga mereka tidak meminta pertolongan. Apabila kamu menyadari beberapa tanda-tandanya, jangan ragu untuk segera periksa kepada orang yang ahli dalam kesehatan mental.

Referensi: Research Gate | Indian Journal of Community Health | PubMed