Merasa Stuck Dengan Kehidupan? Mungkin Kamu Terkena Languishing
Ilustrasi orang yang sedang mengalami languishing. | Sumber: Falaq Lazuardi/Unsplash

Pernah gak Kawan merasa kurang bersemangat mengerjakan rutinitas? Rasanya masih banyak energi yang tersisa tapi tidak ada motivasi untuk mengerjakan apapun. Atau kehilangan antusias pada kegiatan yang disukai? Hobi kesukaan juga enggak berhasil bikin Kawan bersemangat.

Kawan tidak memiliki tanda-tanda mengalami penyakit mental tertentu, tetapi juga tidak dalam kondisi kesehatan mental yang baik. Ada sesuatu yang terasa salah, tetapi apa itu?

Mari berkenalan dengan languishing

Ilustrasi seseorang yang mengalami languishing. | Sumber: Anthony Tran/Unsplash

Shemiah Derrick, seorang konselor profesional, dikutip dari Very Well Mind, menjelaskan languishing sebagai sikap apatis, perasaan gelisah, dan kurangnya minat dalam hidup atau pada hal-hal yang biasanya membuat kita bahagia.

Melansir dari The New York Times, languishing bukanlah sebuah penyakit mental seperti depresi. Tetapi, seseorang yang mengalami languishing tidak berada dalam kesehatan mental yang baik. Mereka tidak berfungsi secara maksimal dan kehilangan motivasi untuk melakukan sesuatu.

Hal ini juga ditegaskan oleh Leela R. Magavi, MD seorang psikiater dewasa, remaja, dan anak yang dikutip dari Very Well Mind, Magavi menyebutkan languishing merupakan serangkaian emosi, mencakup perasaan stagnan, monoton dan kekosongan, tetapi bukan merupakan penyakit mental.

Bagaimana menghadapi languishing?

Hadapi languishing dengan flourishing. | Sumber: Hanny Naibaho/Unsplash
Hadapi languishing dengan flourishing. | Sumber: Hanny Naibaho/Unsplash

 

Menurut Lisa Feldman Barrett, seorang ahli saraf, dikutip dari Ideas.Ted.Com, dengan lebih jelas mengidentifikasi perasaan yang kita alami atau memberikannya kategori, dapat mengurangi penderitaan dan meningkatkan kesejahteraan. Dengan menerima suatu emosi dan tidak menyangkalnya, dapat menjadi langkah pertama bagi kita untuk menghadapi emosi tersebut.

Meski manusia seperti sudah diatur secara otomatis menjawab “aku baik-baik saja” saat ditanya “apa kabar?”, dengan jujur mau mengakui kita sedang mengalami languishing, dapat menyadarkan orang lain yang mungkin tidak menyadari dirinya juga mengalami languishing. Hal ini dapat membantu kita, bahwa kita tidak sendirian menghadapi languishing.

Terdapat beberapa cara untuk menghadapi languishing, dikutip dari Better Up, menurut Dr. Martin Seligman, seorang peneliti, terdapat lima komponen yang dapat membantu seseorang berubah dari languishing menjadi flourishing, yaitu menggunakan model PERMA (Positive emotions, Engagement, Relationships, Meaning, and Accomplishments).

Flourish merupakan kebalikan dari languishing. Flourishing adalah perasaan ketika kita memiliki keyakinan dan kemampuan untuk berfungsi secara optimal serta memiliki perasaan positif. Berbeda dengan languishing, flourish membuat kita merasakan terhubung kembali baik kepada kehidupan, karir dan hubungan di sekitar kita.

Begini cara memulai PERMA

me time dapat menjadi salah satu cara melawan languishing. | Sumber: Thought Catalog/Unsplash
Me time dapat menjadi salah satu cara melawan languishing. | Sumber: Thought Catalog/Unsplash

Dengan berusaha meningkatkan perasaan positif dapat membantu Kawan terlepas dari languishing. Seperti, melakukan journaling atau meditasi. Kawan dapat menuliskan tiga hal yang sangat disyukuri setelah seharian berkegiatan sebelum tidur, hal ini dapat membantu memberikan perasaan lebih nyaman dan positif.

Selain meningkatkan perasaan positif, dengan tidak menyangkal dan mengidentifikasi emosi, kemudian memberikannya label juga dapat membantu. Kawan kini dapat membedakan mana perasaan sedih atau mana yang languishing.

Berikanlah waktu rehat sejenak bagi diri sendiri atau me-time. Set boundaries. Menurut Derrick, otak kita sama seperti sebuah mesin, apabila overheating kita akan mengalami burnout. Untuk memperbaikinya, kita perlu ‘mematikannya’, ambil jeda sejenak dan menyiapkan rencana terbaik untuk kembali memulai.

Selanjutnya, apabila telah merasa cukup memberikan waktu pada diri sendiri, Kawan dapat memulai kembali terhubung bersama orang terkasih di sekitar. Menjaga hubungan pertemanan atau kembali terhubung dengan teman lama dapat membuat Kawan merasa lebih hidup.

Kemudian, daripada melakukan sesuatu secara terus menerus seperti sebuah mesin yang diprogram bekerja otomatis, berusahalah untuk menemukan makna dalam kegiatan yang Kawan jalankan.

Terakhir dari model PERMA yaitu accomplishments. Kawan dapat membuat small goals setiap harinya. Dengan membagi suatu tantangan menjadi target-target kecil kemudian fokus mengerjakannya secara satu per satu. Hal ini diharapkan dapat menambah antusias dan mengembalikan energi.

Jangan lupa juga untuk selalu merayakan kemenangan baik besar maupun kecil. Kawan bisa melakukan ini dengan membuat daftar apa saja yang telah dikerjakan setiap harinya meski itu terasa seperti hal yang biasa dikerjakan. Ini akan membuat Kawan merasa lebih baik melihat seberapa banyak berhasil mengerjakan sesuatu dalam sehari.

Referensi: The New York Times | IDEAS.TED.COM | Very Well Mind | Better Up