Metaverse: Masa Depan Dunia Digital Umat Manusia
Ilustrasi metaverse | Foto: Jessica Lewis/Unsplash

Belakangan ini, istilah metaverse tengah menjadi sorotan dan ramai dibicarakan publik. Terlebih lagi setelah pendiri Facebook, Mark Zuckerberg mengumumkan perubahan nama perusahaan induknya menjadi Meta pada Oktober 2021 lalu.

Sejumlah perusahaan besar dan para investor bahkan mulai ikut ambil bagian untuk membangun dan berinvestasi di dunia virtual tersebut. Meta yang mengklaim dirinya sebagai pelopor metaverse jelas paling gencar dalam proyek besar ini, diikuti Microsoft, Nvidia, Roblox, Epic Games hingga Apple.

Metaverse sendiri digadang-gadang akan menjadi masa depan dari dunia digital, sama halnya dengan internet yang telah mengubah kehidupan manusia sejak kehadirannya. Terobosan ini mengombinasikan teknologi virtual reality (VR) dengan augmented reality (AR).

Apa itu metaverse?

Secara etimologi, metaverse berasal dari dua kata, yaitu 'meta' yang artinya 'melampaui' dan 'verse' yang artinya 'alam semesta'. Bisa dikatakan, metaverse merupakan ruang atau alam semesta berisikan materi yang melampaui semua hal yang kita lihat dalam dunia ini.

Mengambil konsep dunia virtual tiga dimensi, para pengguna (dalam versi digital) nantinya bisa berkumpul secara real time di metaverse. Setiap orang bisa merancang avatar dirinya sendiri untuk berinteraksi satu sama lain, dan berjalan-jalan selayaknya di dunia nyata.

Di samping itu, metaverse pun disebut sebagai kelanjutan dari teknologi humanistik yang ada sekarang. Kehadirannya dapat mengaburkan batas antara dunia fisik dan digital di masa depan, sekaligus memungkinkan terciptanya representasi dari apa saja yang ada di dunia nyata.

Walaupun baru populer sekarang, istilah metaverse sebetulnya sudah muncul dalam novel fiksi ilmiah Neal Stephenson berjudul Snow Crash (1992) dan Ernest Cline dengan judul Ready Player One (2011). Dalam kedua novel itu, metaverse dideskripsikan seperti alam semesta virtual yang dihubungkan dengan teknologi VR.

Seperti apa cara kerja metaverse?

Video game Fortnite | Foto: engadget.com

Cara kita untuk terhubung dengan metaverse sama halnya dengan cara kita terhubung ke internet. Akan tetapi, metaverse di sekitar kita akan diproyeksikan melalui perangkat yang digunakan. Sebuah alat seperti VR headset yang dipasang di kepala atau kacamata pintar adalah gambaran awal dari wujud alat bantu untuk bisa terjun ke dalam metaverse.

Lewat perangkat tersebut, avatar metaverse pengguna dapat berjelajah dengan bebas, berpindah dari satu tempat virtual ke tempat lainnya. Tak hanya itu, bisa juga berinteraksi dengan beragam hal di dunia sana, hingga berjumpa dengan avatar pengguna lain terlepas dari lokasi mereka saat itu.

Contoh paling sederhana yang menggambarkan bagaimana metaverse bekerja dapat terlihat pada video game Fortnite atau Sandbox. Permainan realitas virtual itu menerapkan prinsip-prinsip metaverse di mana para avatar pemain dapat bertarung satu sama lain, juga menghadiri acara yang diadakan dalam metaverse tertentu secara real time.

Bagaimana prospek metaverse ke depannya?

Konsep metaverse memang masih berada di tahap pengembangan, tetapi prospeknya dinilai sangat menggiurkan. Di masa depan, metaverse boleh jadi akan sangat mirip dengan dunia nyata kita dalam berbagai aspek, bahkan menggantikan aktivitas-aktivitas yang selama ini dilakukan secara nyata seperti bekerja atau berolahraga.

Penggunaan mata uang digital seperti kripto pun akan semakin marak, sebab kita tentunya tidak bisa bertransaksi dengan uang fisik di dunia digital. Lebih lanjut, metaverse juga bisa menjadi faktor penyokong terbesar untuk pertumbuhan ekonomi virtual.

Kehadiran proyek metaverse juga berpotensi untuk menciptakan berbagai peluang kerja baru bagi generasi mendatang. Melansir dari The Next Cartel, sejumlah pekerjaan diprediksi akan lahir di era metaverse. Sebut saja metaverse cyber security, metaverse planner sampai metaverse tour guide.

Bagaimana Goodmates, menarik sekali bukan? Siap tidak siap, metaverse akan menjadi masa depan dunia digital yang tidak bisa kita hindari. Yang terpenting, kita sebagai calon pengguna harus tetap bijak dalam memanfaatkan kecanggihan tersebut.

Referensi: CNBC Indonesia | Finextra | Republika Online