Monyet Bermata Hantu Kembali Ditemukan di Mekong
Popa Langur © Mongabay

Berita mengejutkan datang dari dataran Mekong. Spesies kera yang memiliki karakteristik unik ditemukan di wilayah Mekong, Myanmar. Spesies kera ini sering disebut sebagai Popa Langur yang merupakan salah satu spesies kera yang terancam punah, tetapi ditemukan kembali di lereng bukit curam gunung berapi yang sudah punah di Myanmar.

Tidak seperti kera pada biasanya, Popa Langur memiliki lingkaran putih di sekitar matanya yang membuat sebagian orang menganggapnya cantik. Meskipun begitu, ada pula yang menganggapnya menyeramkan. Kera ini juga kerap disebut sebagai kera hantu, dikarenakan wajahnya yang seram.

Warna kera ini yang cenderung keabu-abuan pucat membuatnya dapat menyatu dengan dahan-dahan di lereng bukit curam gunung berapi. Namun, matanya yang dilingkupi lingkaran putih membuatnya tetap menonjol dan terlihat menyeramkan. Terlebih ketika kera ini memperhatikan dalam diam.

Monyet bermata hantu ditemukan dalam misi lingkungan

Kera ini ditemukan oleh grup konservasi dari World Wildlife Fund (WWF) dalam misi menjaga keberagaman lingkungan dan habitat di beberapa daerah, terhitung dari Vietnam, Kamboja, Laos, Thailand, dan Myanmar. Menjelajahi gunung di Mekong yang sudah lama punah, WWF kembali menemukan kera Popa. Tentunya, nama kera tersebut diberikan atas habitat mereka yang berada di Gunung Popa.

Uniknya, Popa Langur menjadi satu-satunya mamalia baru yang ditemukan di situs tersebut. Selain Popa Langur, ditemukan lusinan reptil, katak, dan kadal air yang baru diidentifikasi. Dikutip dari Aljazeera, ikan dan 155 spesies tanaman berikut spesies bambu sukulen juga ditemukan di sana.

Wilayah Mekong memang dikenal sebagai salah satu situs dengan keanekaragaman hayatinya, dengan menjadi rumah bagi harimau, gajah Asia, saola, dan ribuan spesies lainnya.

Oleh karena itu, di antara banyaknya spesies yang baru ditemukan di area ini, Popa Langur dapat diidentifikasi oleh grup konservasi berdasarkan kecocokan genetik tulang. Spesimen Popa Langur sebelumnya dikumpulkan di Museum Sejarah Alam Inggris dari satu abad yang lalu.

Tentunya, karakteristik pembeda utama Popa Langur dengan jenis kera lainnya adalah cincin putih lebar di sekitar mata kera dan kumisnya yang mengarah ke depan. Diperkirakan hanya ada 200 sampai 250 Popa Langur yang bertahan hidup di alam liar. Akhirnya, kera ini menjadi kandidat untuk terdaftar sebagai spesies yang sangat terancam punah.

Monyet bermata hantu terancam punah

Spesies Monyet yang Terancam © Mongabay
Spesies Monyet yang Terancam © Mongabay

Menghadapi data ini, Popa Langur harus ditanggapi dengan serius. Kita harus berhadapan dengan kenyataan, sumber daya manusia dan keuangan cagar alam yang sangatlah terbatas untuk perlindungan spesies dari perburuan dan perambahan pertanian.

Untuk itu, lembaga Flora and Fauna International (FFI) telah memberikan rekomendasi komprehensif untuk mitigasi ancaman dan untuk rencana penggantian kerugian keanekaragaman hayati. Mitigasi tersebut mencakup perlindungan dan pemantauan spesies Popa Langur, serta dukungan keuangan jangka panjang untuk meningkatkan pengelolaan suaka margasatwa yang menaunginya.

Hal ini akan banyak membantu mengimplementasikan upaya konservasi lokal, termasuk kampanye kesadaran dan penjangkauan, sampai bekerja sama dengan Departemen Kehutanan Myanmar. FFI juga mendukung kegiatan penelitian lebih lanjut di daerah tersebut, termasuk proyek-proyek yang berfokus pada Popa Langur.

Berita penemuan Popa Langur ini memang seharusnya dirayakan, tetapi kamu juga harus menyadari bahwa Popa Langur adalah spesies yang dalam bahaya. Tersisa hanya 200 sampai 250 ekor di alam liar, Popa Langur dikategorikan sebagai kera yang sangat terancam punah. Kepunahan kera ini bisa disebabkan oleh hancurnya habitat dari Popa Langur ataupun perburuan liar.

Dikutip dari Mongabay, habitat Popa Langur yang sementara ini paling aman adalah di Gunung Popa itu sendiri. Hanya saja, kini Gunung Popa juga perlahan-lahan berubah menjadi lahan agrikultur yang membuat habitat Popa Langur terus terkikis, belum lagi menghadapi angka perburuan liar yang tinggi.

Ditemukannya monyet bermata hantu menjadi pengingat bagi kita semua. Untuk itu, kita harus bisa menjaga lingkungan sedari dini untuk tempat keberlangsungan hidup hewan-hewan yang terancam punah agar tetap lestari.

Referensi: Mongabay | Aljazeera | Zoores