Panda di Tiongkok Tak Lagi Terancam Punah, Bagaimana Kondisi Satwa Lainnya?
Panda © Unsplash/Bruce Hong

Siapa yang tidak tahu panda? Hewan besar berbulu berwarna hitam dan putih menggemaskan ini pasti disukai oleh banyak orang. Sayangnya, hewan yang merupakan hewan endemik dari Tiongkok ini memiliki status yang terancam punah.

Dilansir dari Al Jazeera, panda terancam punah karena kurangnya perhatian pemerintah untuk kelangsungan hidup hewan ini. Sebagai hewan endemik, panda merupakan harta nasional yang berharga, tetapi Tiongkok juga meminjamkannya ke negara lain sebagai alat diplomatik. Tentunya, panda hidup di Tiongkok karena lingkungan negara itu sendiri yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan seekor panda.

Kabar baiknya, berkat usaha pemerintah untuk meningkatkan kondisi kehidupan panda dengan menjaga habitat mereka berujung manis. Kini status panda tidak lagi terancam punah, tetapi hanya rentan. Hal ini dikarenakan terdapat 1800 ekor panda di alam liar, yang membuatnya tidak lagi tergolong terancam punah.

Konservasi panda digalakkan, penangkaran dilakukan di kebun binatang, habitatnya diperluas, dan mengembalikan hutan bambu, sebagai sumber pangan utama panda. Bambu 99 persen makanan mereka. Tanpa tumbuhan tersebut, panda akan kelaparan.

Peran pemerintah dalam konservasi panda

Panda © Unsplash/Lukas W
Panda © Unsplash/Lukas W

Ternyata, menurut laporan BBC, status panda sudah berubah sejak 2016. Namun, pemerintah Tiongkok menolak untuk menggunakan status ‘rentan’ tersebut karena takut dianggap melonggarkan konservasi. Akhirnya, baru di tahun ini status panda disebarluaskan dengan total 1800 ekor yang tersebar di alam luas.

Tentunya berita baik ini disambut baik oleh audiens yang merupakan pembaca berita media Tiongkok dan audiens seluruh dunia. Diharapkan, kondisi panda bisa menjadi contoh untuk satwa-satwa lainnya yang terancam punah juga.

Peran pemerintah Tiongkok pada saat ini sangat besar. Mereka telah berhasil memperluas hutan di negara paling berpenghuni ini sebanyak 18 persen dari luas negara Tiongkok sepenuhnya.

Kelangkaan satwa di Indonesia

Di sisi lain, Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak satwa endemik. Namun, tidak jarang pula satwa endemik tersebut langka dan terancam punah. Penyebab kelangkaan ini dapat disebabkan oleh banyak hal, mulai dari habitat yang rusak sampai perburuan liar.

Pertama, ada harimau sumatra yang merupakan harimau dengan loreng hitam rapat yang menyerupai sidik jari manusia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2017 tersisa 68 ekor harimau sumatra. Alasan utama kelangkaan satwa ini adalah perburuan dan perdagangan ilegal.

Selanjutnya ada badak. Hewan ini tersisa 80 ekor pada tahun 2017 akibat perburuan liar dan habitat yang rusak. Badak diburu untuk diambil culanya sebelum akhirnya dijual di situs perdagangan ilegal untuk menjadi senjata atau hiasan.

Lalu, gajah sumatra yang memiliki warna kulit yang lebih terang dibanding warna gajah Asia lainnya, kupingnya pun juga kemerahan. Menurut data BPS, gajah sumatera tersisa 362 ekor lagi di tahun 2017. Hal ini disebabkan oleh perburuan gajah untuk mendapatkan gading dan juga pemasangan racun dan listrik di sekitar habitat hidup mereka.

Hewan selanjutnya adalah komodo, yang hanya bisa ditemui di pesisir pantai Nusa Tenggara Timur. Hewan ini terancam punah akibat aktivitas perburuan, sampai habitat komodo yang semakin mengecil karena permukiman manusia dan pembangunan tempat wisata. BPS menghitung 5964 ekor komodo yang tersisa di tahun 2017.

Menilik dari kondisi Tiongkok yang dapat memulihkan kondisi dan status hewan endemik mereka, seharusnya suatu negara dengan satwa terancam punah dapat meningkatkan konservasi. Caranya, dengan lingkungan penangkaran yang dijaga ketat guna menghindari perburuan liar.

Selain itu, kita juga harus menjaga kelestarian habitat mereka. Menghancurkan habitat mereka sama saja seperti menghancurkan rumah sekaligus sumber makanan mereka, yang membuat rentang hidup satwa menjadi relatif lebih singkat.

Referensi: Katadata | Al Jazeera | BBC