Pandemi Masih Berlangsung, Bagaimana Situasi Pendidikan Sekarang?
Ilustrasi Belajar Daring | Foto: pexels.com/August de Richelieu

#FutureSkillsGNFI

Pandemi Covid-19 telah berlangsung lebih dari dua tahun semenjak merebak di Indonesia pada awal Maret 2020. Situasi ini memengaruhi hampir seluruh sektor kehidupan manusia, termasuk sektor pendidikan. Ketidakpastian akan usaiya pandemi membuat berbagai langkah pencegahan penularan lebih jauh perlu diambil demi menghindari situasi yang kian memburuk.

Berbagai kebijakan telah dirumuskan dan diterapkan guna mencegah penyebaran Covid-19, seperti penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), protokol kesehatan 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun), bekerja dari rumah, wajib tes antigen untuk bepergian ke luar kota, dan masih banyak lagi.

Kebijakan serupa pun diterapkan di dunia pendidikan, yaitu pembelajaran jarak jauh (daring) atau belajar dari rumah. Jadi, guru memberikan pengajaran kepada murid melalui kanal daring, seperti WhatsApp dan Google Education.

Guru yang biasanya memberikan materi pembelajaran kepada siswa di depan ruangan kelas akan beralih ‘ruangan’ ke dunia maya dengan mengadakan sesi sinkronus melalui platform video conference atau merekam sesi pengajaran lalu mengunggahnya di platform pembelajaran. Hal ini sesuai dengan kebijakan dalam Surat Edaran No. 4 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19).

Ilustrasi Belajar Daring | Foto: pexels.com/August de Richelieu

Harapannya, murid dapat berperan aktif menanggapi materi dan tugas yang diberikan agar tercapai kompetensi pembelajaran. Jadi, murid tidak hanya menerima materi dan mengerjakan tugas, namun turut memberikan tanggapan kepada guru, baik berupa pertanyaan maupun evaluasi atas sesi pembelajaran. Situasi ini akan mudah apabila ada kerjasama antara guru dan murid untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Namun sayangnya, kenyataan tidaklah semudah itu. Situasi yang memengaruhi berbagai aspek pembelajaran harus ditanggapi dari berbagai aspek pula, seperti ketersediaan gawai atau laptop, kuota internet dengan jaringan memadai, bimbingan dari orang tua dan/atau wali murid dalam mendukung proses pembelajaran di rumah, kemmpuan guru dalam mengoperasikan Learning Management System (LMS) untuk mendukung proses penyampaian materi dengan baik, dan kompetensi guru dalam menyampaikan materi dengan baik walaupun di tengah segala keterbatasan yang ada.

Senada dengan pengalaman dari Supami Wihardjanti, guru matematika di SMPN 3 Teras Boyolali Jawa Tengah, yang merasakan berbagai dilema selama memberikan pengajaran pada masa pembelajaran daring.

Berbagai kendala seperti kesulitan akses internet yang memadai, kurangnya kesiapan guru untuk pembekalan pembelajaran daring, dan kurangnya kesiapan murid selama pembelajaran daring, turut memberikan hambatan dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Sebagai guru, Ibu Supami merasakan kendala yang dialami para murid karena mayoritas murid yang mengenyam pendidikan di SMPN 3 Teras merupakan kalangan menengah ke bawah sehingga faktor ekonomi membatasi anak menerima fasilitas gawai dan/atau laptop serta internet yang memadai untuk mengikuti pembelajaran daring.

Ibu Suparmi mengatakan, “Pada waktu pertama pembelajaran daring memang terasa sulit, baik kesiapan dari guru, siswa, maupun sekolah. Pada guru, otomatis harus bisa sedikit paham tentang IT. Demikian pula siswa, kendala utamanya ada pada sarana pembelajaran, seperti ketiadaan gawai dan laptop serta kesulitan menerima sinyal. Kalau kita menggunakan gawai, otomatis harus mengeluarkan uang untuk kuota internet. Hal ini masalah bagi siswa dari keluarga kurang mampu dan dari daerah yang sulit sinyal."

"Kemudian, saya rasa anak murid kurang responsif dengan pembelajaran. Pada aspek sekolah, sekolah seharusnya mampu menyediakan tim khusus pembelajaran daring sehingga guru tidak harus repot dengan urusan teknis. Selain itu, sekolah seharusnya bisa memfasilitasi kuota internet untuk mendukung pembelajaran,” ujarnya saat ditanya perihal kesiapan pembelajaran daring berkaca dari pengalamannya.

Seiring menurunnya kasus terinfeksi Covid-19 dan urgensi meningkatkan kualitas pembelajaran, maka beberapa waktu belakangan ini mulai diterapkan kebijakan pembelajaran bauran dan/atau Pembelajaran Tatap Muka (PTM) pada wilayah tertentu yang sudah berzona kuning hingga hijau. Jadi, sekian persen PTM dan sisanya pembelajaran masih secara daring.

Pada pelaksanaan PTM ini muncul pula kendala yang harus murid hadapi, seperti lamanya waktu pembelajaran daring memengaruhi motivasi murid untuk belajar serta inefisiensi sistem pembelajaran. Maka, guru harus bisa menumbuhkan minat belajar anak dengan memberikan pembelajaran yang menyenangkan dan mendorong dukungan orang tua untuk membantu pengajaran anak di rumah.

Problematika ini tidak serta merta membuat kita menyerah dengan keadaan karena aspek pendidikan sangat penting bagi kesiapan anak nantinya di masyarakat. Lebih luas, memberikan kontribusinya pada negara. Dukungan dan bantuan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk menyukseskan proses pembelajaran yang ideal bagi anak.

 

Referensi: Balai Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Kelautan, Perikanan, Teknologi Informasi dan Komunikasi