Pecel Tumpang, Kuliner Khas Kediri yang Punya Sejarah
Ilustrasi pecel | Foto: jurnaljatim

Pecel adalah salah satu makanan tradisional Indonesia yang konsepnya mirip dengan salad di luar negeri. Di Indonesia sendiri ada banyak jenis pecel. Salah satunya pecel tumpang, makanan khas kediri, Jawa Timur.

Terdiri dari sayuran rebus yang diletakkan dalam satu wadah kemudian ditaburi dengan dressing atau saus yang kental seperti saus kacang, pecel menjadi semakin nikmat. Bila kita berkunjung ke Kediri, di sepanjang jalan akan mudah ditemukan penjual pecel tumpang.

Selain itu, di pasar tradisionalnya akan mudah pula ditemukan penjual tempe busuk, sesuatu yang jarang ditemukan di pasar tradisional lain di Indonesia. Lantas, apa hubungannya pecel tumpang dengan tempe busuk?

Sambal tumpang, keunikan utama pecel khas Kediri

Sambal Tumpang | @iya.2074/Instagram
Sambal Tumpang | Foto: @iya.2074/Instagram

Di sinilah letak keunikan utama pecel tumpang yang menjadi favorit banyak orang. Meski sekilas terlihat serupa dengan saus bumbu kacang, ternyata pecel tumpang tidak menggunakan bahan dan metode yang serupa dalam pembuatan sausnya. Hal ini karena saus pecel tumpang atau yang umum disebut dengan sambal tumpang, menggunakan “tempe busuk” sebagai bahan dasar utamanya.

Tempe busuk atau tempe segar yang sudah didiamkan selama beberapa hari ini diolah dengan cara direbus, kemudian dihaluskan bersama bawang merah, bawang putih, ketumbar, dan cabai yang sebelumnya juga direbus.

Setelah semua bahan halus, semua dimasukkan kembali ke dalam air rebusan untuk kemudian ditambahkan santan dan lengkuas saat sudah mendidih. Voila, jadilah sambal tumpang yang otentik!

Sejarah sambal tumpang

Pecel | Foto: Agita Prasetyo/Pexels
Pecel | Foto: Agita Prasetyo/Pexels

Di balik keunikannya, ternyata sambal tumpang juga memiliki sejarah. Dilansir dari kompas, menurut Heri Priyatmoko, seorang dosen Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, sambal tumpang tercatat dalam Serat Centhini salah satu karya sastra Jawa yang terbit pertama kali pada tahun 1814.

Dalam tulisan peninggalan tersebut, diceritakan bahwa pada zaman dahulu banyak tokoh yang melakukan perjalanan mengelilingi desa-desa di Jawa untuk mengumpulkan berbagai pengetahuan, terutama pengetahuan tentang kuliner. Itu artinya, sambal tumpang sendiri sudah eksis sejak lebih dari dua abad lalu. Wah, lama sekali, bukan?

Di masa sekarang, pecel tumpang biasa disajikan dengan daun pisang yang dipincuk atau dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai corong atau mangkuk. Bisa juga menggunakan piring rotan yang dilapisi dengan selembar daun pisang.

Potongan sayuran segar berupa sawi, kacang panjang, dan tauge direbus dan disiram dengan saus tumpang lalu ditambah dengan rempeyek. Rempeyek yang biasa digunakan adalah rempeyek ikan yang renyah dan lebar.

Nasi pecel pudakit, menjadikan pecel tumpang sebagai kuliner malam 

Nasi Pecel Pudakit | Foto: @infokediri/Instagram

Salah satu tempat yang menjual pecel tumpang di Kota Kediri bernama Nasi Pecel Pudakit. Terletak di dekat stasiun kota di Jalan Doho, tempat ini buka mulai pukul 9 malam hingga 4.30 pagi dan menjadi salah satu tujuan kuliner malam yang selalu ramai pembeli. 

Dibanderol mulai harga Rp8 ribu, Nasi Pecel Pudakit tak hanya menawarkan nasi pecel tumpang. Ada juga pecel biasa yang menggunakan saus kacang. Selain itu, terdapat berbagai macam lauk yang dihargai mulai Rp2 ribu. Variasi lauk yang disediakan berupa sate usus, sate kulit, perkedel kentang, hingga ayam goreng. 

Nasi pecel tumpang khas Kota Kediri merupakan bukti nyata sebuah tradisi yang berhasil dilestarikan secara turun temurun, hingga bertahan lebih dari dua abad lamanya. Keberadaannya juga menunjukkan teknologi pangan masyarakat tradisional yang cemerlang, guna mengurangi food waste atau makanan yang terbuang. 

Untuk itu, jika Goodmates berkesempatan mengunjungi Kota Kediri, jangan lupa untuk mencicipi kelezatan pecel tumpang yang tak hanya enak, tetapi juga ekonomis. Selamat mencoba pecel tumpang!

Referensi: Cookpad | Kompas | TravelingYuk