Pemeratan Pendidikan, Gerbang Awal Merdeka Belajar
Ilustrasi kuliah | Foto: Zhen Chung

#FutureSkillsGNFI

Pendidikan berasal dari kata “pendidikan” dalam Bahasa Inggris sepadan dengan kata “Education”yang secara etimologi diserap dari Bahasa Latin “Eductum”. Kata Eductum sendiri terdiri dari dua kata yaitu E yang bermakna perkembangan dari dalam keluar atau dari sedikit ke banyak, dan Duco yang bermakna sedang berkembang. Sehingga secara etimologis pendidikan adalah proses pengembangan dalam diri individu. Hal ini sejalan dengan pendapat Priatna bahwa pendidikan merupakan usaha pengembangan kualitas diri manusia dalam segala aspek. Kemudian pendidikan secara luas diartikan juga sebagai proses perubahansikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakanmanusia melalui upaya pengajaran dan latihan.

Pengertian pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara atau biasa dikenal dengan Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, Beliau menggemukakan pendapatnya mengenai pengertian pendidikan, yakni tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun yang dimaksud, pendidikan adalah menuntun segala sesuatu atau semua kekuatan kodrat yang terdapat di dalam diri anak (peserta didik itu sendiri, supaya mereka sebagai manusia serta juga sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan juga dapat mencapai kebahagiaan setinggi-tingginya.

Pendidikan memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Konstitusi telah menjamin hak atas pendidikan bagi warga negara Indonesia melalui pasal 31 UUD 1945 yang menyebutkan bahwa

(1) Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan;

(2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Amanat konstitusi ini kemudian di atur lebih lanjut melalui Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang mana pasal 1 angka (1) ketentuan ini mendefinsikan pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Definisi ini tentunya menekankan peran negara untuk memenuhi hak atas pendidikan warga negara demi terciptanya kualitas sumber daya manusia yang baik di Indonesia. Namun, dalam praktiknya kualitas pendidikan di Indonesia hingga saat ini masih rendah. Berdasarkan angka Programme for International Student Assessment (PISA) pada 2018 Indonesia menempati peringkat ke-74 dari 79 negara.

1. Pemerataan Pendidikan

Pemerataan pendidikan telah lama menjadi perhatian terutama di negara-negara berkembang, yang tidak terlepas dari semakin diakuinya peran penting pendidikan dalam pembangunan bangsa. Pemerataan pendidikan mencakup dua aspek penting, yaitu pemerataan akses pendidikan dan pemerataan sosial dalam pendidikan. Pemerataan akses pendidikan berarti semua penduduk usia sekolah memiliki akses pendidikan, sedangkan jika semua kelompok dapat menikmati pendidikan secara merata, maka kesempatan pendidikan juga adil.

Iwan Syahril
Iwan Syahril - Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

 

Dilansir dari GTK Kemendikbud.go.id - Iwan Syahril menjelaskan terkait pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia serta peran pemerintah.“Tantangan kita bukan hanya peningkatan kualitas tapi bagaimana bisa melakukan distribusi kualitas secara lebih merata. Pada saat ini memang banyak terobosan yang telah dilakukan, tapi tentunya yang utama kuncinya adalah kolaborasi dengan pemerintah setempat. Jadi itu kerjanya bareng-bareng,” kata Dirjen GTK Kemendikbud Iwan Syahril, Jakarta, Minggu (2/8/2020).

Kepemimpinan pendidikan adalah salah satu cara untuk mengakselerasi pemerataan pendidikan di Indonesia.

“Lalu kemudian kalau strateginya sudah jelas bareng-bareng, lalu kemudian apa yang bisa dilakukan? Yang pertama, menguatkan kepemimpinan pendidikannya. Kepemimpinan pendidikan ini menurut saya adalah hal yang penting dalam bagaimana meningkatkan kualitas distribusi yang lebih merata,” jelas Iwan Syahril.

“Karena kalau hanya fokus kepada peningkatan kualitas guru, tapi kepemimpinannya tidak kita bentuk dengan baik, itu kita akan susah. Karena sekolah di mana pun di Indonesia pemimpin itu penting,” tambahnya.

Iwan Syahril percaya kalau pemimpin di sekolah sudah bisa memahami bagaimana mengajar dengan baik dan kemudian bisa menjadi teladan, contoh, mentor, pelatihan untuk guru-guru yang lain maka itu dapat mempercepat peningkatan kualitas guru dan tenaga kependidikan di daerah-daerah yang tertinggal

Dirjen GTK Kemendikbud mendedahkan adopsi teknologi dalam menciptakan inovasi pembelajaran yang bermuara pada pemerataan kualitas pendidikan.

“Yang kita pikirkan saat ini adalah bagaimana teknologi bisa menjadi solusi yang mendobrak. Mendobrak akses yang tadinya susah. Mendobrak sebuah tantangan yang tadinya sulit untuk dilakukan tapi bisa ditembus dengan teknologi,” terang Iwan.

“Tapi teknologi bisa memudahkan misalnya bagaimana akses terhadap konten-konten yang tadinya susah, harus dijemput secara fisik, itu sekarang bisa dilakukan dengan teknologi. Seperti kayak sekarang webinarWebinar ini bentuk latihan guru pun sekarang bisa dengan melakukan webinar tanpa perlu memikirkan harus naik pesawat dari Maluku Utara ke Jakarta. Ini terjadi dengan sangat cepat, luar biasa seringnya,” sambungnya.

Adopsi teknologi yang luar biasa membentuk sebuah pola belajar baru dan harapan meski susahnya akses ke sebuah tempat tapi dapat disediakan konten-konten terbaik dan didukung oleh guru-guru yang sudah dilatih dengan baik. “Jadi nanti yang kita bayangkan segampang kayak di aplikasi apapun yang ada, teman-teman bisa mengeksplorasi banyak hal dengan sangat mudah, gampang banget mau akses konten apa aja ada dan bayangkan ini ada di seluruh Indonesia. Semua materi yang keren-keren itu pada ekosistem aplikasi yang bisa diakses oleh siapa saja,” jelas Iwan Syahril.

Kemendikbud pun sedang memperjuangkan semua sekolah di Indonesia bisa mendapatkan akses internet dengan baik. “Dengan demikian daerah-daerah yang sulit dijangkau secara fisik, logistik, itu bisa dibantu. Mudah-mudahan bisa lebih cepat ya berkembangnya dari sebelumnya,” ungkap Dirjen GTK Kemendikbud Iwan Syahril.

2. Merdeka Belajar

Nadiem Makarim - Medikbudristekdikti

Program Merdeka Belajar menurut Mendikbud akan menjadi arah pembelajaran ke depan yang fokus pada meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sebagaimana arahan bapak presiden dan wakil presiden. Merdeka Belajar merupakan permulaan dari gagasan untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional yang terkesan monoton. Merdeka Belajar menjadi salah satu program untuk menciptakan suasana belajar di sekolah yang bahagia suasana yang happy, bahagia bagi peserta didik maupun para guru. Makanya tag-nya merdeka belajar. Adapun yang melatarbelakangi diantaranya banyak keluhan para orangtua pada sistem pendidikan nasional yang berlaku selama ini. Salah satunya ialah keluhan soal banyaknya siswa yang dipatok dengan nilai-nilai tertentu. Ditambahkan pula bahwa program Merdeka Belajar merupakan bentuk penyesuaian kebijakan untuk mengembalikan esensi dari asesmen yang semakin dilupakan. "Konsepnya, mengembalikan kepada esensi undang-undang kita untuk memberikan kemerdekaan sekolah menginterpretasi kompetensi-kompetensi dasar kurikulum, menjadi penilaian mereka sendiri,

Program pendidikan “Merdeka Belajar” meliputi empat pokok kebijakan, antara lain:

 1) Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN);

 2) Ujian Nasional (UN);

3) Rencana Pelaksanaan Pembelajaan (RPP), dan

4) Peraturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) zonasi.

Bila dicermati dari isi pokok kebijakan merdeka belajar jelas lebih difokuskan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, meskipun pada perkembangan selanjutnya berdimensi juga ke jenjang pendidikan tinggi (Dikti) melalui program “Kampus Merdeka”. Pastinya program “Merdeka Belajar” bukanlah sebuah kebijakan yang secara tiba-tiba muncul, melainkan melalui serangkaian proses yang panjang dan matang, setelah beberapa waktu lalu pasca dilantik menjadi Mendikbud banyak melakukan kajian komprehensif dengan mengundang dan mendatangi para pakar pendidikan, pengawas, kepala sekolah, guru-guru, organisasi profesi guru dan lain sebagainya, untuk mendengar berbagai masukan terkait permasalahan praktik pendidikan.

Dengan hadirnya program Kemendikbudristekdikti yang terbaru yakni “Merdeka Belajar” diharapkan seluruh anak Indonesia bisa mendapatkan pendidikan yang layak, untuk tercapainya merdeka belajar berawal dari pengelolaan kurikulum, pimpinan sekolah yang terbaik, pendidik atau guru yang berkompetensi maka tidak mustahil kalau 100 Tahun Indonesia di 2045 nanti akan menjadi Generasi Emas.

Referensi : Kemendikbud I Merdeka Belajar