Mendengar Vs. Mendengarkan, Apa Pengaruhnya dalam Kesehatan Mental?
Ilustrasi mendengar | Foto: Ivan Samkov/Pexels

Pernahkah Goodmates merasa terabaikan saat bercerita kepada teman? Barangkali, teman atau lawan bicara tersebut sedang memikirkan hal lain atau sibuk dengan sesuatu sehingga hanya memberi respon seadanya terhadapmu.

Mereka yang memberi respon seadanya atau mengabaikan lawan bicaranya saat berbicara, sebenarnya tidak benar-benar mendengarkan cerita lawan bicaranya. Sebaliknya, mereka hanya mendengar saja.

Lalu, apa perbedaan antara mendengar dan mendengarkan? Berikut penjelasan selengkapnya.

Perbedaan Mendengar dan Mendengarkan

Ilustrasi berbicara | Foto: Pexels

Mendengar adalah proses pasif dan respons fisiologis yang melibatkan persepsi kita tentang suara. Proses ini tidak membutuhkan perhatian yang terfokus.

Misalnya saat kamu menonton televisi, kamu masih dapat mendengar suara lalu lintas atau sirene di luar, anjing tetangga menggonggong, dan orang-orang tertawa di rumah.

Baca juga: Kiat Fokus Belajar dan Produktif Meski Sedang Berpuasa

Berbeda dengan mendengar, mendengarkan adalah proses aktif yang kamu lakukan secara sengaja, melibatkan pemahaman kata-kata dari suara yang terdengar, serta membutuhkan perhatian yang fokus. Pada proses ini, kamu mungkin mengembangkan respons emosional terhadap apa yang kamu dengar.

Misalnya saat kamu mendengarkan seseorang berbicara tentang masalah percintaan yang mereka alami. Kamu akan memusatkan perhatian penuh pada mereka dan mencoba memahami seperti apa pengalaman mereka, serta dampaknya terhadap mereka.

Manfaat dalam Kesehatan Mental

Ilustrasi mendengar musik | Foto: Andrea Piacquadio/Pexels

Menurut Kelly Workman, psikolog di Columbia University Medical Center, mendengar dan mendengarkan memiliki peran penting bagi kesehatan mental.

Pendengaran adalah indera penting yang membantu kita menavigasi dunia. Kehilangan pendengaran dapat berdampak besar pada kesehatan mental karena dapat menyebabkan kemarahan, penarikan diri dari pergaulan, perubahan harga diri, hingga depresi.

Selain itu, menggunakan bahasa isyarat dan memperhatikan bahasa tubuh adalah cara lain yang bisa kamu lakukan untuk mendengar tanpa indera pendengaran. Kamu dapat mencari perawatan kesehatan mental jika kamu mengalami depresi atau kesulitan penyesuaian karena kehilangan pendengaran.

Baca juga: Mirip Overthinking, Begini Keadaan Catastrophizing dan Cara Mencegahnya

Sementara itu, sebagai makhluk sosial, manusia memiliki kebutuhan universal akan koneksi dan rasa memiliki. Mendengarkan adalah hal yang memungkinkan kita untuk mengembangkan rasa ingin tahu, meningkatkan kasih sayang dan empati, serta meningkatkan koneksi.

Jika Goodmates tidak mendengarkan orang lain atau tidak mereka dengarkan, hal itu dapat berdampak negatif pada rasa terhubung dan memiliki. Tentunya, pengalaman itu membuatmu merasa tidak mendapat perhatian dan kesepian sehingga menyebabkan perasaan malu, cemas, dan depresi.

Mendengarkan dan terlibat dengan orang lain dapat memperkuat hubungan. Demikian pula kurangnya mendengarkan, dapat menciptakan ketegangan dan jarak dalam hubungan, mempersulit penyelesaian konflik, dan memengaruhi kesehatan mental dan kesejahteraan.

Maka dari itu, kita perlu berlatih dan mampu mendengarkan orang lain apabila kita ingin orang lain mendengar kita. Ada beberapa cara yang bisa kamu lakukan. Berikut tips menjadi pendengar yang baik.

1. Latihan Mindfulness

Mindfulness membantu kamu menjadi lebih hadir. Kamu dapat mempraktikkannya hanya dengan memusatkan perhatian dengan apa yang kamu lakukan saat ini.

Jika perhatianmu tertuju pada hal lain, kamu dapat secara perlahan mengarahkan kembali fokusmu ke orang tersebut. Caranya bisa dengan memperhatikan perubahan dalam suara mereka, kata-kata yang mereka gunakan, dan ekspresi nonverbal mereka.

Baca juga: Sering Begadang? Hati-Hati Sleep Deprivation!

2. Tunjukkan Rasa Ingin Tahu

Mengadopsi pola pikir ingin tahu memungkinkan kamu untuk benar-benar mendengarkan dan memahami lawan bicara. Dengan melakukan itu, kamu akan secara otomatis menjadi tertarik dengan apa yang lawan bicaramu katakan.

3. Hindari Penilaian dan Asumsi

Ketika kamu menilai dan mengasumsikan sesuatu, pada dasarnya kamu menutup pintu untuk informasi baru. Dengan begitu, kamu cenderung tidak memperhatikan dan mendengarkan lawan bicara. Melepaskan penilaian dan asumsi juga membantu kamu menjadi lebih penasaran.

4. Ajukan Pertanyaan

Mengajukan pertanyaan yang relevan menunjukkan bahwa kamu mendengarkan dan menanggapi dengan cara yang bijaksana. Jika kamu bingung harus bertanya apa, kamu dapat memikirkan pertanyaan siapa, apa, kapan, di mana, atau bagaimana.

5. Gunakan Bahasa Nonverbal

Menggunakan bahasa nonverbal, seperti melakukan kontak mata dan sesekali menganggukkan kepala, dapat mengkomunikasikan bahwa kamu mendengarkan dan memperhatikan.

6. Beri Saran Jika Perlu

Jangan mencoba memecahkan masalah atau memberi nasihat kecuali lawan bicaramu memerlukannya. Kita sering ingin membantu orang lain, itulah sebabnya kita cepat menawarkan solusi.

Namun, ini bisa jadi salah bagi sebagian orang karena mereka hanya ingin mendapat pemahaman dan kita mendengarkan cerita mereka saja.

7. Jauhkan Distraksi

Tindakan kecil seperti meletakkan ponsel menghadap ke bawah atau berpaling dari layar gadget dapat membantu kamu lebih fokus dan penuh perhatian. Dengan begitu, pembicaraanmu dan teman akan lebih bermakna.

Demikianlah langkah-langkah yang bisa kamu lakukan untuk menjadi pendengar yang lebih baik. Untuk itu, mulailah secara aktif mendengarkan orang-orang di sekitarmu agar dapat terhubung dan meningkatkan kualitas hubungan dengan mereka.

Referensi: Verywell Mind | Kompas