Penguatan Pemandu Wisata, Upaya Dongkrak Pariwisata Sumedang Selama Pandemi
Sultan Kerajaan Sumedang Setelah Kegiatan Pengabdian Masyarakat | Foto: Dok. Pribadi

Sumedang merupakan salah satu kabupaten terletak di provinsi Jawa Barat. Daerah ini mungkin sudah tidak asing didengar oleh masyarakat, terutama mengenai salah satu oleh-olehnya yang terkenal di kalangan semua orang, yaitu tahu sumedang.

Namun, ciri khas dari daerah ini tidak hanya tahunya saja, melainkan wisata sejarah dari yang kaya dan bisa menjadi daya tarik. Sumedang memiliki banyak sekali destinasi wisata sejarah maupun religi.

Destinasi wisata sejarah dan religi yang ada di Sumedang antara lain Museum Prabu Geusan Ulun, Makam Pangeran Santri, Makam Pangeran Kornel, Makam Cut Nyak Dien, Gunung Kunci, Makam Prabu Geusan Ulun, dan makam-makam lainn yang ada di daerah Sumedang.

Akan tetapi, pandemi COVID-19 yang telah berjalan hampir dua tahun lamannya ini tentu memberikan dampak terhadap destinasi-destinasi pariwisata yang ada di Sumedang. Maka dari itu, Universitas Indonesia mengadakan sebuah program pengabdian masyarakat untuk mendongkrak pariwisata yang ada di Sumedang.

Program pengabdian masyarakat dari Universitas Indonesia bertajuk “Program Penguatan Teknik Pemandu Wisata sebagai Upaya Mendongkrak Pariwisata Sumedang selama Pandemi Covid-19”. Program tersebut dijalankan oleh enam mahasiswa Universitas Indonesia di antaranya Agung Fajarudin, Tiara Ariestasari, Maharani Nurhayati, Iqbal Maulana, Vania Gita Anya Tamara, dan Edgar Veron Amadeus beserta tiga dosen pembimbing, yaitu Jajang Gunawijaya, R. Cecep Eka Permana, dan Irfan Nugraha.

Program tersebut memang lebih ditujukan untuk meningkatkan kualitas dari para pemandu wisata dan kuncen di Sumedang. Program diadakan selama dua hari, yaitu pada 10-11 Desember 2021 lalu. Program diadakan di Museum Prabu Geusan Ulun karena lokasinya strategis, yaitu di tengah-tengah dari wilayah Sumedang.

Terdiri dari beberapa program


Suasana pelaksanaan program | Sumber: Dokumentasi Pribadi

Dengan adanya program ini diharapkan dapat menanamkan pengetahuan dasar terkait profesionalisme pemandu wisata Sumedang. Dalam program tersebut diadakan beberapa kegiatan.

Pada hari pertama (10/12/2021), dilakukan pemberian materi yang dipandu oleh pakar wisata dari Universitas Indonesia, yaitu Dr. Jajang Gunawijaya M.A. Pada kegiatan ini, Dr. Jajang memberikan materi kepada para pramuwisata dan juru kunci dari situs-situs yang ada di Sumedang.

Selama melaksanakan kegiatan pertama, terlihat besarnya antusiasme dari para peserta yang dapat dilihat dari banyaknya peserta berpartisipasi pada kegiatan. Mereka datang dari berbagai situs dan destinasi wisata yang ada di Sumedang, baik yang jaraknya dekat maupun jauh dari Museum Prabu Geusan Ulun.

Pada hari kedua (11/12/2021), rangkaian kegiatan yang dilakukan pada program ini antara lain melakukan tes kepada para pramuwisata dan juru kunci terkait dengan materi yang telah diberikan pada hari pertama. Setelah tes tersebut berakhir, kegiatan berikutnya adalah penyampaian aspirasi terkait permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh para pramuwisata dan juru kunci.

Penyampaian aspirasi pramuwisata dan juru kunci Sumedang


Peserta program | Sumber: Dokumentasi Pribadi

Pada kesempatan tersebut, beberapa pramuwisata dan juru kunci mengungkapkan beberapa hal menarik selama menjadi pramuwisata dan juru kunci. Salah satu juru kunci yang menyampaikan aspirasinya adalah Toto Satori dari Makam Eyang Pancer.

Dalam kesempatan itu, Toto menyoroti beberapa permasalahan yang belum ada jalan keluarnya terkait dengan kepariwisataan di Sumedang. Beberapa poin permasalahan yang disampaikan oleh Toto di antaranya terkait permasalahan keuangan. Tidak adanya kepastian pemberian insentif untuk para juru kunci dari pemerintah selama bertahun-tahun, dan masih adanya ketidaksinambungan informasi terkait sejarah dari situs-situs yang ada di Sumedang.

Selain itu, masih banyaknya objek wisata yang belum dikelola dengan baik, kurangnya kemampuan berbahasa asing dari para pramuwisata dan juru kunci sehingga diharapkan adanya pembekalan materi terkait bahasa asing untuk para pemandu wisata. Toto juga berharap adanya pelatihan lanjutan berjangka panjang serta bertaraf internasional untuk membangkitkan pariwisata di Sumedang.

Berdasarkan poin-poin yang telah disampaikan oleh Toto diketahui bahwa sebenarnya Sumedang memiliki potensi wisata sejarah yang bagus. Namun sayangnya, belum dikelola dengan baik dan masih banyak permasalahan yang dihadapi.

Tentu saja penyampaian aspirasi oleh para pramuwisata dan juru kunci tersebut dilakukan langsung di depan Radya Anom Lucky Djohari Soemawilaga sebagai Sultan dari Keraton Sumedang. Dalam kegiatan tersebut, Radya Anom menyampaikan beberapa tanggapannya terkait dengan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh para pramuwisata dan juru kunci.

Menurut Radya Anom, ia merasa sangat prihatin terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh para juru kunci, terutama yang berada di Jatigede. Ia menyampaikan pentingnya kesadaran kolektif terhadap kebudayaan.

Radya Anom juga menekankan bahwa tugas untuk memperbaiki situs wisata tidak hanya dapat dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga membutuhkan dukungan penuh dari masyarakat dan yang terpenting terkait kesadaran akan kebudayaan. Terakhir, Radya Anom mengungkapkan janjinya untuk mengawal keberlangsungan situs-situs bersejarah yang ada di Sumedang.


Tim program dan mahasiswa | Sumber: Dokumentasi Pribadi

Setelah kegiatan penyampaian aspirasi tersebut berakhir, berakhir pula kegiatan program pengabdian masyarakat yang telah dilaksanakan selama dua hari. Dengan adanya kegiatan program ini, diharapkan dapat membantu memajukan kegiatan pariwisata yang ada di Sumedang.

Tidak hanya itu, program ini juga menjadi sebuah jembatan sekaligus media bagi para pramuwisata dan juru kunci untuk menyampaikan aspirasinya secara langsung kepada sultan dari Keraton Sumedang. Tentu saja aspirasi tersebut diterima baik oleh Radya Anom sehingga bisa dicarikan solusi bersama.

Dengan demikian, untuk ke depannya diharapkan pariwisata di Sumedang dapat terus maju dan berkembang. Maka, Sumedang dapat dikenal baik oleh masyarakat lokal maupun masyarakat internasional.