Perbedaan Angka pada Data Deforestasi Indonesia
Deforestasi © Unsplash/Luoman

Deforestasi merupakan suatu peristiwa hilangnya hutan alam beserta dengan atributnya yang diakibatkan oleh penebangan hutan. Berdasarkan definisinya itu sendiri, deforestasi berhubungan dengan sektor kehutanan, yang merupakan bagian dari lingkungan hidup manusia. Hal tersebut membuktikan bahwa hutan adalah hal yang vital untuk kehidupan manusia.

Deforestasi kini menjadi sebuah kata yang cukup umum di masyarakat. Menjadi salah satu penyebab dari fenomena akan perubahan iklim membuat deforestasi menjadi sebuah fokus. Tidak jarang, kini banyak orang yang memberikan banyak perhatian ke hutan-hutan di Indonesia.

Hal ini terjadi karena berbagai alasan yang umumnya berasal dari sektor kehutanan. Dimulai dari pemahaman masyarakat terhadap penyebab deforestasi dapat meminimalisir terjadinya hal ini. Masyarakat dan pemerintah kemudian dapat mengidentifikasi cara yang paling tepat untuk menekan deforestasi.

Hutan menjadi sebuah habitat bagi banyak flora dan fauna, serta tentunya memberikan manfaat bagi manusia yang banyak hajat hidupnya bergantung pada hasil hutan. Mulai dari kebutuhan material maupun jasa. Namun, keuntungan yang tinggi dari penggunaan lahan kehutanan di Indonesia tersebut mengakibatkan perlindungan ekosistem hutan menjadi kegiatan yang kurang menguntungkan dan mendorong aktivitas deforestasi.

Kurang meratanya pemahaman masyarakat terkait deforestasi ini menyebabkan banyaknya ketidaktahuan masyarakat akan apa yang terjadi dengan hutan di Indonesia. Selain itu, diketahui pula bahwa data-data yang menyajikan kondisi deforestasi Indonesia terlihat berbeda-beda. Hal ini disebutkan oleh Kepala Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, Kiki Taufik, yang dilansir oleh Kompas.

Keterbukaan data angka deforestasi Indonesia

Hutan yang Terkikis © Unsplash/Paralaxis
Hutan yang Terkikis © Unsplash/Paralaxis

Sudah banyak lembaga di dunia yang memonitor serta menganalisis angka deforestasi Indonesia. Rangkuman dari Greenpeace total deforestasi Indonesia sepanjang 2001-2020 versi KLHK seluas 14 juta hektar. Lalu, ada University of Maryland yang menyatakan bahwa total deforestasi Indonesia seluas 9 juta hektare, European Commission Joint Research Centre (EC JRC) yang menyatakan seluas 22 juta hektare, Atlas Nusantara (Tree Map) seluas 10 Juta hektare, dan Map Biomass seluas 13 juta hektare.

Data yang didapatkan oleh kelima lembaga yang memonitori perhutanan Indonesia itu dianalisis dengan citra satelit Landsat. Kendati demikian, analisis lanjutan yang dilakukan oleh masing-masing lembaga ternyata dilakukan dengan metodologi yang berbeda-beda. Hal inilah yang kemudian menyebabkan data deforestasi Indonesia yang berbeda-beda pula.

Oleh karena itu, keterbukaan data serta kolaborasi antar lembaga sangat diperlukan untuk mengoptimalkan data yang dimiliki. Hal ini penting agar tidak terjadi lagi perdebatan data dan klaim yang tentunya berakhir dengan miskonsepsi dan kebingungan publik.

Data terakhir yang dikemukakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan deforestasi di Indonesia pada 2012-2020 seluas 4,96 juta hektare. Ini menunjukkan masih terdapat deforestasi yang cukup besar meski sejak 2011 pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang moratorium hutan dan lahan gambut. 

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi angka deforestasi yang dapat dilakukan oleh publik. Meskipun begitu, sedari awal memang diperlukan terlebih dahulu data yang tepat untuk mengusung langkah terbaik selanjutnya bagi perhutanan Indonesia.

Dengan pemahaman yang baik tentang pemicu deforestasi dan degradasi hutan, maka baik masyarakat maupun pemerintah telah memperkuat nilai hutan. Selain itu, kita juga telah meningkatkan apresiasi baru terhadap peran hutan dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Berdasarkan ulasan dari Stern (2008), pencegahan deforestasi merupakan salah satu dari empat ‘elemen kunci’ dari kerangka iklim internasional di masa mendatang.

Referensi: CIFOR | Kompas | London School