Menilik Perbedaan Antara MRT, LRT, dan KRL
Ilustrasi KRL | Foto: Paramayuda/ANTARA FOTO

Jenis transportasi umum di Indonesia, khususnya di ibu kota sudah semakin variatif. Salah satu jenis transportasi favorit masyarakat ialah moda transportasi berbasis rel, seperti MRT, LRT, dan KRL.

Ketiga transportasi ini berfungsi memindahkan banyak orang dengan ruang jangkau dalam kota atau lintas kota yang berdekatan. Sekilas, ketiga transportasi ini terlihat tidak ada bedanya.

Namun, secara umum kereta ini dapat Goodmates bedakan dari segi daya tampung, sistem perlintasan, rute, dan sumber daya listrik. Untuk lebih lengkapnya, berikut GoodSide rangkum perbedaan antara MRT, LRT, dan KRL.

Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line

Ilustrasi KRL | Foto: Paramayuda/ANTARA FOTO

KRL merupakan kereta listrik paling tua di antara kedua kereta listrik lainnya. Wacana elektrifikasi jalur kereta api di Jakarta dan sekitarnya sudah ada sejak 1917. Adapun peresmian pertama KRL pada 1925 dan seiring dengan itu KRL telah mendapat modernisasi hingga seperti saat ini.

Untuk segi daya tampung, KRL memiliki kapasitas yang paling besar dengan daya tampung mencapai 2.000 penumpang. Selain itu, keunggulan KRL terletak pada rute perjalanan terbanyak yang tersebar di Jabodetabek.

KRL memiliki 2 jalur lintasan, yaitu layang dan atas tanah dengan kecepatan mencapai 90 km/jam. Kereta juga lengkap dengan 8 sampai 10 gerbong. Adapun sumber daya listriknya mengambil dari atas kereta atau Listrik Aliran Atas (LAA).

Light Rail Transit (LRT)

Ilustrasi LRT | Foto: LRTJakarta.co.id

Selanjutnya ada LRT, kereta listrik ini pertama kali beroperasi di Palembang pada 2018. Pembangunan proyek LRT di Palembang ialah dalam rangka memudahkan para tamu negara dan atlet yang berlomba di Asian Games 2018. Tidak lama setelah itu, pemerintah melakukan uji coba LRT Jakarta pada Juni 2019.

Berbeda dengan KRL yang mampu menampung banyak penumpang, LRT memiliki daya tampung sebanyak 600 penumpang dalam satu rangkaian kereta dengan dua hingga empat gerbong. LRT lebih fleksibel untuk di jalanan yang macet karena beroperasi di jalur layang.

Meskipun kapasitasnya lebih kecil dari MRT dan KRL, tapi kecepatannya melebihi kereta atau bus dengan jalur khusus pada umumnya. Kecepatan LRT sekitar 90 km/jam dan memiliki 18 stasiun di Jabodetabek. Desain kereta ini langsung oleh perusahan PT Inka (Parsero) di Madiun Jawa Timur.

Mass Rapid Transit (MRT)

Ilustrasi MRT | Foto: Ricardo/JPNN.com

Setelah menunggu puluhan tahun lamanya, akhirnya Indonesia memiliki kereta listrik tercepat yang mampu melintas di bawah tanah. Selain melintas di bawah tanah, kereta ini juga memiliki jalur lintasan layang sebanyak 6 gerbong.

Jalur bawah tanah MRT menggunakan bor raksasa (tunnel boring machine) sepanjang 6 km, sedangkan untuk stasiunnya terbuat dengan kedalaman setinggi 4 jerapah yang tertumpuk. Sama halnya dengan KRL, MRT mengambil daya listrik dari atas kereta.

Kelebihan MRT terletak pada kecepatannya yang mencapai 110 km/jam. Tentunya hal ini dapat membantu penumpang untuk tiba tepat waktu. Kereta ini hanya memakan waktu sekitar 2 hingga 3 menit untuk tiba di stasiun berikutnya.

Daya tampung MRT masih lebih banyak daripada LRT, yakni sekitar 1.950 penumpang. Sayangnya, jarak antar stasiun atau pemberhentiannya cukup pendek. Rute MRT terbagi menjadi dua berdasarkan jenis perlintasannya, yakni perlintasan layang (rute Lebak Bulus-Sisingamangaraja) dan bawah tanah (rute sisingamangaraja-Bundaran HI).

Saat ini, pemerintah masih berusaha agar sistem pembayaran ketiga transportasi ini dalam satu kartu. Bagi Goodmates yang ingin menikmati ketiga kereta ini, kamu dapat menggunakan kartu elektronik bank sebagai tiketnya. Sebagian stasiun juga melayani pembelian tiket secara tunai dan non tunai melalui gerai yang tersedia.

Referensi: Tirto |CNN Indonesia| Katadata | Megapolitan Kompas