Personal Boundaries, Batas Pribadi dalam Diri
Ilustrasi © Unsplash/Ben White

Apakah kamu pernah mendengar istilah personal boundaries? Dalam setiap interaksi manusia, terdapat dinding tak kasat mata yang dinamakan batasan. Batas tersebut adalah hal yang dimiliki dalam diri seseorang, sebagai penanda, penjaga, dan limit agar tidak dilampaui oleh apapun.

Perasaan tidak nyaman yang muncul ketika berinteraksi dengan seseorang bisa menjadi pertanda bahwa batas milikmu sudah dilampaui. Maka, akan berdampak pada mental bahkan fisikmu. Batas itulah yang kemudian disebut-sebut sebagai personal boundaries.

Personal boundaries atau batasan pribadi adalah batasan dan aturan yang kita tetapkan untuk diri kita sendiri dalam sebuah hubungan. Seseorang dengan personal boundaries yang sehat adalah orang yang dapat berkata “tidak” ketika mereka tidak nyaman saat berinteraksi dengan orang lain. Akan tetapi, ada pula orang yang menjaga jarak atau malah terlalu ikut campur dalam hal hubungan emosional dan fisik dengan orang lainnya.

Hal-hal itulah yang dinamakan batasan pribadi. Meskipun begitu, seseorang dapat mengetahui batas-batas dalam dirinya sendiri dengan mempelajari beberapa ciri umum personal boundaries yang dimiliki seseorang untuk menentukan mana yang sehat dan mana yang buruk. Kamu hanya perlu menyadari dan mulai mengenal beberapa hal di bawah ini.

Mengetahui bahwa pendapat kita memiliki nilai

Personal boundaries yang sehat adalah dengan mengetahui bahwa setiap orang memiliki hak untuk berpendapat. Maka, apapun keputusan pribadimu harus dihargai oleh orang lain.

Dengan begitu, kamu berhak berkata “tidak” ketika terdapat sesuatu yang di luar persetujuanmu. Kamu juga tidak akan sungkan untuk meminta pertolongan orang lain ketika kamu membutuhkan sesuatu.

Membagikan informasi personal secukupnya

Membagikan informasi personal secara berlebihan memang tidak baik untuk kehidupan seseorang, tetapi menutup diri dengan tidak membagikan informasi apapun juga tidak kalah buruk. Menetapkan boundaries sangat berperan besar untuk menentukan privasi yang kamu bagikan secara cukup, berlebihan, atau malah kurang.

Apabila kamu memiliki kepribadian yang sangat terbuka dan kamu sangat aktif dalam membagikan informasi personal, maka akan ada banyak orang lain yang akan ikut campur dalam masalahmu, begitu juga sebaliknya.

Di samping itu, ketika kamu terlalu menutup diri, protektif, dan memilih untuk sama sekali tidak membagikan privasimu. Maka, akan sulit bagimu untuk memiliki hubungan yang mendalam dengan orang lain karena kepribadianmu yang sangat tertutup.

Mengetahui yang diinginkan dan dibutuhkan

Pisahkan hal apa yang menjadi keinginanmu, dan apa yang menjadi kebutuhanmu. Jangan membuat dirimu bergantung pada keputusan orang lain yang kadang kamu tidak sukai dan berakhir merugikan dirimu. Dengan begitu, kamu akan lebih untuk memberikan keputusan dan menetapkan personal boundaries.

Menerima kata “tidak”

Katakan Tidak © Unsplash/Isaiah Rustad
Katakan Tidak © Unsplash/Isaiah Rustad

Kalau kamu bisa berkata tidak, maka orang lain memiliki hak untuk berkata tidak pula. Dengan menghargai keputusan orang lain, maka orang lain akan menghargai keputusanmu juga. Menetapkan personal boundaries diawali dengan bagaimana kamu menghargai batasan orang lain terlebih dahulu.

Batas yang dimiliki seseorang pastinya berbeda-beda, dipengaruhi oleh dengan siapa kamu berinteraksi dan dengan budaya apa yang dianut di tempat tinggalmu. Untuk itu, sisihkan sedikit waktumu untuk menemukan batas-batas yang sehat. Pada awalnya, mungkin hal tersebut tidaklah mudah.

Dengan berlatih, seseorang akan dengan mudah melakukannya. Hargai diri sendiri terlebih dahulu, karena tidak ada yang memiliki hak untuk membuatmu tidak nyaman ataupun melampaui limit yang kamu tetapkan. Dengan membuat garis dan menerapkannya, kamu bisa lebih mencintai diri sendiri.

Referensi: PubMed | Springer | PsycNet | Healio