Playing Victim Adalah Mental Toxic, Ketahui Tanda dan Penyebabnya!
Ilustrasi | Foto: Pexels.com

Turun Naik Hubungan dengan Sesama Manusia

Manusia sebagai makhluk sosial, tentu memerlukan orang lain di dalam hidupnya. Misalnya, untuk mendapatkan secangkir teh, mereka perlu petani teh, pemanennya, pabrik yang mengolahnya jadi teh kemasan, hingga rangkaian distributor sampai akhirnya teh tersebut sampai di tangan.

Tapi sayangnya, tidak selamanya hubungan dengan sesama manusia berjalan. Entah karena jarang berinteraksi atau justru terlalu over dalam berinteraksi. Interaksi sesama manusia berbentuk dua arah, yakni bergantian sebagai komunikator dan komunikan.

Ada kalanya, proses komunikasi yang berjalan lancar, ujungnya menimbulkan kontra. Dari banyaknya kontra yang ada, playing victim adalah salah satu istilah yang kini populer.

Meski jamak digunakan, nyatanya banyak yang belum mengetahui maknanya. Agar kamu lebih paham mengenai istilah ini, berikut ulasannya untuk kamu. Simak sampai akhir, ya!

Pengertian Playing Victim

Proses interaksi antar manusia menimbulkan banyak sifat dan berbagai kondisi manusia. Tentu saja, sifat tersebut tidak semuanya baik, salah satunya playing victim. Lantas, apa itu playing victim?

Playing victim adalah tindakan melemparkan kesalahan, rumor, atau hal-hal kurang menyenangkan ke orang lain atas konflik yang terjadi. Meskipun belum tentu dia akan merugi dalam masalah tersebut.

Umumnya pelakunya adalah mereka yang salah, karena ia takut bertanggung jawab, merasa harus menarik simpati, atau ingin mendapat validasi.

Playing victim adalah salah satu tindakan manipulatif yang memiliki tujuan memengaruhi atau mengontrol tindakan, perasaan, serta pikiran orang lain agar membenarkan tindakannya.

Tindakan playing victim akan membuat orang berada di dekatnya resah atau merasa bersalah.

Tanda Playing Victim

Playing victim adalah salah satu perilaku toxic yang harus kita hindari. Sebab, tindakan tersebut membuat orang lain tidak nyaman berada dekat pelakunya. Berikut beberapa tanda playing victim yang harus kita waspadai:

#1 Selalu Fokus dengan Masalah, Bukan Solusi

Salah satu tanda utama playing victim adalah kecenderungan pelakunya yang hanya fokus terhadap masalah, bukan solusinya.

Pelaku playing victim adalah orang yang pesimis dan tidak dapat membuat perubahan. Ketika menghadapi masalah, kebanyakan orang akan langsung mengatur napas dan mencari celahnya.

Pelaku playing victim bertindak sebaliknya. mereka lebih senang meromantisasi masalah dan enggan menerima pertolongan. Daripada mendapatkan solusi yang baik, hal yang menjadi fokus tindakan ini adalah cara agar seseorang menyorotnya. Padahal, hal tersebut justru akan menjauhkan seseorang dari orang-orang di sekitarnya.

#2 Enggan Bertanggungjawab

Pelaku playing victim adalah salah satu orang toxic. Mereka cenderung enggan bertanggung jawab terhadap tugas yang ada.

Ketika seseorang memberi kepercayaan, mereka akan menarik ulur atau menghindar. Atau, ketika diberikan tanggung jawab atau kepercayaan, biasanya pelaku tindaka ini akan melakukan beberapa hal berikut:

  • Menyalahkan rekannya;
  • Mengada-ada alasan;
  • Terkesan enggan diberi tanggung jawab;
  • Ketika terjadi kesalahan, mereka enggan mengakui dan melemparkannya ke orang lain.

Selain itu, perlu kamu ketahui juga bahwa ada beberapa ciri orang yang tidak bertanggung jawab dalam hal keuangan.

#3 Memiliki Mental Blok

Tanda selanjutnya dari orang-orang playing victim adalah kebiasaan mereka menanamkan pikiran negatif di dalam otaknya.

Mereka selalu beranggapan bahwa dunia tidak pernah berpihak kepada dirinya.

Ketika melihat temannya sukses, dia akan membela diri bahwa fokus orang berbeda-beda. Padahal dia sendiri tidak pernah berusaha.

Ketika gagal dalam proyek tertentu, dia akan menyalahkan sistem, perekrut, dan sebagainya.

Mereka yang memiliki mental playing victim biasanya percaya dengan kalimat berikut:

  • Saya selalu mengalami hal-hal buruk;
  • Kenapa saya harus mencoba memecahkan masalah yang tidak mungkin saya selesaikan?
  • Tidak ada yang peduli dengan saya.

 

#4 Krisis Kepercayaan Diri

Playing victim akan menimbulkan perasaan-perasaan buruk pada pelakunya, salah satunya turunnya kepercayaan diri.

Ketika perilaku ini sudah meracuni pikiran, maka mereka akan sulit menemukan pandangan positif terhadap diri mereka sendiri.

Saat akan bertindak, orang dengan victim mentality akan merasa takut, merasa tidak pantas, dan selalu merasa kurang daripada orang lain.

Kita tahu, bahwa di dunia ini memang tidak ada yang sempurna. Tapi, membatasi diri sendiri adalah tindakan yang salah.

#5 Selalu Merasa Lemah

Ciri berikutnya adalah kecenderungan untuk merasa lemah. Ketika memang korban dalam konflik, wajar jika dia merasa lemah.

Tetapi, jika mental yang sama dipertahankan, maka itu berubah menjadi sifat toxic.

 

#6 Emosi Cenderung Meledak-ledak

Tanda selanjutnya dari tindakan ini yaitu kecenderungan untuk menunjukkan emosi yang meledak-ledak.

Dengan begitu, mereka akan merasa menguasai keadaan.

Orang-orang playing victim selalu berusaha memanipulasi orang lain dan perasaannya sendiri. Mereka akan menciptakan perasaan palsu seperti:

  • Marah kepada sistem, rekan, dan dunia karena tidak berjalan sesuai dengan keinginannya.
  • Merasa sakit hati dengan orang yang pedulikan, tetapi tidak peduli dengannya. Padahal, bentuk kepedulian berbeda-beda.
  • Marah ketika melihat orang lain sukses.
  • Merasa hidupnya tidak pernah berubah.

 

#7 Egois

Selanjutnya, tanda playing victim adalah egois. Pelakunya akan selalu merasa benar dan teraniaya.

Padahal, jika adalah masalah, solusi yang paling baik adalah sama-sama menurunkan ego dan bicara dengan kepala dingin.

 

#8 Kerap Merasa Terpojokkan

Kebiasaan orang playing victim adalah merasa dirinya tersudutkan oleh lawan bicaranya.

Kendati lawan bicara berusaha mencari jalan keluar, fokus orang yang playing victim adalah mencari celah yang mengindikasikan bahwa dia terpojokkan.

Penyebab Playing Victim

Playing victim adalah sifat bentukan yang hadir setelah seseorang mengalami berbagai dinamika hidup.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang memiliki sifat tidak terpuji ini, diantaranya:

  • Kepribadian yang manipulatif dan narsis.

Hal ini menyebabkan seseorang haus perhatian dan merasa lebih penting daripada orang lain.

  • Pernah merasa kecewa yang sangat mendalam.

Meski perasaan kecewa adalah hal yang menyakitkan, “membalas dendam” dengan membuat diri sendiri sebagai korban tidak dibenarkan.

  • Biasanya, pelakunya adalah mereka yang memiliki trauma masa lalu.

Luka batin yang dia alami mengubah struktur kimia di dalam otak sehingga cara berpikirnya mengalami pergeseran.

  • Memiliki dendam kepada orang lain.

 

Contoh Playing Victim

Selain hipokrit, playing victim adalah salah satu perilaku yang sebaiknya kita hindari.

Sebab, kebiasaan ini sangat mengganggu dan bisa membuat orang-orang sekitarnya menjauh. Contohnya bisa kita lihat dalam ilustrasi berikut.

Wahyu memiliki kedai kopi. Kedai tersebut selalu menggunakan kopi arabika karena memiliki citarasa yang sedikit asam dan warna yang tidak pekat.

Di kedai tersebut, dia memiliki empat karyawan, yaitu Arini dan Dian sebagai waitress, Linda sebagai kasir, dan Zaki sebagai barista.

Pada miinggu kedua bulan Juli, mereka kehabisan kopi untuk bahan baku menu. Zaki memberi tahu Wahyu mengenai hal tersebut.

Wahyu pun memintanya untuk memesan di e-commerce tempat biasa mereka beli.

Ternyata, Zaki justru meminta Linda yang melakukannya dengan dalih Linda lah yang memegang keuangan di kedai. Padahal, Zaki yang lebih tahu jenis kopi.

Ketika pesanan kopi bahan baku datang, Wahyu memeriksa kopi tersebut dan sadar bahwa yang datang adalah kopi robusta. Dia pun memanggil karyawannya ke ruangan.

Di sana, Zaki berkilah bahwa dia tidak tahu-menahu mengenai pembelian karena Linda yang ambil alih.

Dia cenderung melimpahkan kesalahan kepada Linda. Padahal, Linda hanya berusaha membantunya.

 

Cara Menghadapi Playing Victim

Berikut adalah beberapa cara menghadapi playing victim:

  • Cara pertama menghadapinya adalah menyadarkan mereka bahwa dia bukan korban melainkan pejuang.

Pejuang akan berusaha, tidak suka dikasihani.

  • Memberikan opsi pilihan yang mudah. Meski bisa jadi cukup alot, tidak ada salahnya mencoba.
  • Memberitahukan secara langsung bahwa sifat mereka membuat orang lain tidak nyaman.

Meski frontal, jika orang di sekitarnya tegas, pelakunya akan berhenti berpura-pura dan menunjukkan dirinya yang sebenarnya.

  • Tidak mengikuti permintaannya dan tetap berpikir dengan kepala dingin.
  • Menjaga jarak dengan mereka agar tidak timbul masalah atau memperbesar masalah.

 

Jangan Sampai Menjadi Pelaku Playing Victim!

Playing victim merupakan tindakan kurang terpuji. Dari ulasan di atas, sebagian besar menunjukkan bahwa sifat tersebut membuat orang di sekitarnya tidak nyaman. Semoga kita bisa menghindari sifat ini ya, supaya kesehatan mental juga tetap terjaga.

 

Sumber : Finansialku.com