Pengaruh Pola Makan terhadap Triple Burden of Malnutrition di Indonesia
Hidup sehat dengan pola hidup yang sehat

#FutureSkillsGNFI

Saat ini, Indonesia sedang menghadapi permasalahan gizi yang mendapatkan perhatian serius dari pemerintah, yaitu Triple Burden of Malnutrition. Sebagian dari kamu mungkin kurang familiar dengan istilah satu ini. Triple Burden of Malnutrition merupakan kondisi kelebihan berat badan atau obesitas, bersamaan dengan kejadiaan kekurangan gizi dan defisiensi mikronutrien.

Menurut HMIG UNDIP berdasarkan hasil kajian yang telah dibuat menyatakan bahwa 30,8% balita di Indonesia mengalami stunting dan perlu perhatian khusus karena akan menimbulkan dampak yang berkepanjangan, yaitu berkurangnya produktivitas pada usia muda dan rentan terapapr penyakit tidak menular (PTM).

Pada permasalahan defisiensi zat gizi mikro, sering terjadi anemia yang berdampak pada keterlambatan tumbuh kembang dan gangguan perilaku lainnya. Selain itu, maraknya restoran cepat saji yang menyediakan menu ekonomis berpeluang untuk mengonsumsi lebih banyak makanan cepat saji yang tinggi akan kalori. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan faktor risiko terjadinya kelebihan berat badan.

Kurangnya kesadaran kita sebagai masyarakat Indonesia terhadap permasalahan gizi menyebabkan kurang terjaganya pemenuhan asupan gizi per hari, maka perlu adanya pengoptimalan asupan gizi dengan mengonsumsi aneka ragam makanan dengan kandungan gizi tertentu, seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan sebagainya. Pemenuhan asupan gizi seimbang ini bisa didapatkan ketika mengonsumsi daging, sayur, dan buah-buahan.

Menurut Menteri Kesehatan, Triple Burden of Malnutrition menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia karena besarnya jumlah penduduk usia produktif di Indonesia mengalami gangguan kesehatan, khususnya PTM dan kurangnya perilaku hidup sehat. Permasalahan ini dapat menyebabkan menurunnya kontribusi penduduk usia produktif dalam pembangunan bangsa Indonesia.

Dari beberapa faktor penyebab Triple Burden of Malnutrition pada masyarakat Indonesia, mari kita mengenal lebih dekat dengan masalah yang timbul tersebut.

1. Kelebihan Berat Badan (Overweight atau Obesitas)

Kelebihan berat badan adalah kondisi seseorang memiliki berat badan berlebih atau melebihi berat badan normal karena ketidakseimbangan antara asupan gizi dan pengeluaran energi sehingga mengalami kelebihan asupan energi yang disimpan dalam bentuk cadangan lemak pada tubuh.

Obesitas atau overweight merupakan salah satu penyakit multifaktorial yang disebabkan faktor internal (genetik, kelaianan endokrin, dan gender) dan faktor eksternal (gaya hidup, tingkah laku, pola makan, dan status sosial).

Saat ini, prevalensi status gizi meningkat, khususnya pada usia remaja karena berubahnya pola makan yang lebih menggemari makanan tinggi kalori dibandingkan konsumsi sayuran dan buah.

Selain itu, aktivitas fisik remaja mulai menurun karena kebnayakan remaja lebih menyukai aktivitas menonton film dan memainkan mobile game yang tidak banyak bergerak. Hal ini berhubungan pula dengan kejadian sedentary lifestyle, jenis gaya hidup seseorang yang kurang beraktivitas fisik berat dan dapat berakibat kecacatan hingga kematian (WHO, 2022).

2. Gizi Kurang (Stunting dan Wasting)

Gizi kurang adalah keadaan seseorang mengalami kekurangan asupan nutrisi, seperti protein, karbohidrat, lemak, dan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh. Adapun faktor yang perlu kita ketahui sebagai penyebab risiko gizi buruk, yaitu:

  • Perilaku ibu terhadap makanan yang dikonsumsi berkaitan dengan kebiasaan makan, kebudayaan masyarakat, keprcayaan, dan pemilihan makanan
  • Sanitasi lingkungan sekitar
  • Status sosial dan ekonomi rumah tangga
  • Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
  • Pemberian ASI eksklusif yang tidak sesuai dengan anjuran
  • Pemenuhan MP-ASI pada anak yang tidak terpenuhi dengan baik

3. Defisiensi Mikronutrien

Defisiensi mikronutrien adalah kondisi seseorang saat konsumsi zat gizi mikro yang tidak memenuhi jumlah yang memadai sehingga menimbulkan berbagai penyakit yang memengaruhi mental dan IQ.

Pada umumnya, penyakit yang sering terjadi karena defisiensi mikronutrien adalah defisiensi zat besi dan KVA (Kekurangan Vitamin A) yang banyak menyerang anak–anak, terutama bayi dan balita. Hal ini menganggu pertumbuhan mereka.

Berapa Angka Prevalensi Triple Burden of Malnutrition di Indonesia?

Berdasarkan data Riskesdas 2018, terdapat 25,7% remaja usia 13-15 tahun dan 26,9% remaja usia 16-18 tahun dengan status gizi pendek dan sangat pendek. Selain itu terdapat 8,7% remaja usia 13-15 tahun dan 8,1% remaja usia 16-18 tahun dengan kondisi kurus dan sangat kurus.

Sedangkan prevalensi berat badan lebih dan obesitas sebesar 16,0% pada remaja usia 13-15 tahun dan 13,5% pada remaja usia 16-18 tahun. Data tersebut menunjukkan bahwa kondisi zat gizi pada remaja di Indonesia perlu adanya perbaikan. Berdasarkan Baseline Survey UNICEF pada tahun 2017, ditemukan ada perubahan pola makan dan aktivitas fisik pada remaja.

Lalu, Bagaimana Cara Mengatasi Triple Burden of Malnutrition?

United Nation Children’s Fund (UNICEF) mencanangkan sebuah konsep untuk mengatasi Triple Burden of Malnutrition, yaitu “Put children’s nutrition first”. Konsep ini dapat dijadikan acuan dalam mengimplementasikan berbagai program yang membantu mencegah dan mengatasi permasalahanTriple Burden of Malnutrion.

  1. Memberdayakan keluarga, anak – anak, dan remaja untuk memenuhi asupan makanan bergizi
  2. Mendorong pemasok makanan untuk memproduksi makanan yang tepat bagi seluruh kalangan usia, khususnya anak - anak
  3. Membangun pola hidup makan sehat untuk anak – anak
  4. Memobilisasi sistem pendukung untuk meningkatkan status gizi anak, meliputi sistem pendidikan, sanitasi lingkungan, kesehatan, serta perlindungan sosial
  5. Melakukan pengumpulan, analisis, dan penggunaan data berkualitas seacra teratur untuk membantu tindakan dan kemajuan untuk tujuan yang berkelanjutan

 

Referensi: Kementerian Kesehatan | Gizi FK Undip

National Heart, Lung, and Blood Institute. Overweight and Obesity. 2018 Manafe D. RI Hadapi Masalah Kesehatan Triple Burden. November 2016

Pramudita SR, Siti RN. Gambaran Aktivitas Sedentari dan Tingkat Kecukupan Gizi pada Remaja Gizi Lebih dan Gizi Normal. Media Gizi Indonesia 2018; Vol. 12(1):1–6

Sunuwar, dkk. Prevalence and factors associated with double and triple burden of malnutrition among mothers and children in Nepal: evidence from 2016 Nepal demographic and health survey. BMC Public Health. 2020;20:405.

The Committee on World Food Security. Nutrition and Food systems. A report by the high level panel of experts on food security and nutrition. 2017

UNICEF. The State of The World’s Children 2019. Children, Food and Nutrition: Growing well in a changing world. New York: UNICEF. 2019.