Privacy Sandbox, Usaha Google Perketat Keamanan Data Pengguna
Privacy sandbox Google | Foto: DWilliam/Pixabay

Siapa yang tidak mengenal Google? Perusahaan raksasa yang bergerak di bidang teknologi internet ini tengah mengoptimalkan usahanya dalam menjaga keamanan data pengguna dengan Privacy Sandbox.

Pertama disebut pada Agustus 2019, privacy sandbox adalah inisiatif dari Google agar pihak ketiga dapat mengakses informasi pengguna tanpa mengorbankan keamanan privasi.

Layaknya win-win solution, ide ini memungkinkan pihak ketiga seperti pengembang aplikasi atau pengiklan untuk tetap bisa memiliki alat guna mengembangkan produknya tanpa harus mengorbankan privasi yang sudah diberikan pengguna.

Privacy sandbox hentikan penggunaan cookies

Ilustrasi | Foto: knerri61/Pixabay

Guna mewujudkan tujuan utama tersebut, Google akan menghentikan dukungan cookies pihak ketiga pada browser nya, Chrome. Cookies sendiri merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut kumpulan informasi tentang aktivitas seorang pengguna saat mengunjungi sebuah situs web.

Bagi pihak ketiga, cookies penting untuk mengenal perilaku pengguna dan menargetkan iklan yang sesuai. Dilansir dari BBC, penggunaan cookies di browser Google Chrome akan dihapus di tahun 2023.

Sebagai gantinya, pada 25 Januari lalu, Google meluncurkan teknologi bernama Topics untuk diuji coba selama beberapa pekan. Teknologi baru ini dirancang untuk melindungi privasi pengguna tanpa menghentikan iklan web. 

Diganti dengan teknologi baru

Ilustrasi | Foto: ThisIsEngineering/Pexels

Topics akan memantau perilaku pengguna saat berselancar di Google dan menyusun lima kategori yang paling diminati. Kategori yang ditawarkan memiliki cakupan yang luas seperti teknologi, animasi, kebugaran, gaya hidup, dan seterusnya.

Pihak Google menganggap Topics sebagai alternatif yang cocok untuk menggantikan cookies. Meski kompetitor Google seperti Apple Safari dan Firefox sudah menghentikan penggunaan cookies bagi pihak ketiga secara bertahap lebih dulu, Google merupakan perusahaan pertama yang mengembangkan teknologi untuk tetap bisa mendukung pengiklan.

Alih-alih mengamati dan mengumpulkan perilaku satu individu, dengan teknologi yang baru ini, Google akan mengelompokkan pengguna dalam kelompok-kelompok yang memiliki ketertarikan sama. Cara ini diklaim 95 persen sama efektifnya dengan teknologi sebelumnya.

Privacy sandbox diterapkan di Android

Smartphone Android | Foto: Zain Ali/Pexels

Baru-baru ini, dalam blog resminya, Google menyatakan akan memperluas kebijakan Privacy Sandbox. Selama ini, sudah diterapkan di Chrome ke sistem Android untuk lebih mengendalikan jumlah data pengguna yang pihak ketiga kumpulkan. 

Secara garis besar, pihak pengiklan menggunakan ID Google untuk menyajikan iklan yang sesuai dengan kebiasaan pengguna dalam menggunakan aplikasi tertentu. Misalnya, menampilkan iklan yang sesuai dengan barang yang pengguna beli di toko online.

Dengan kebijakan baru ini, pengguna akan diberikan opsi untuk “keluar” dari pelacakan sehingga pihak pengiklan tidak mendapatkan data untuk menyajikan iklan yang sudah dipersonalisasi.

Tetap membutuhkan iklan

Ilustrasi | Foto: Christina Morillo/Pexels

Selama ini, Google mengandalkan iklan untuk lebih dari separuh pendapatannya. Langkah untuk melindungi privasi pengguna tentunya memiliki dampak yang besar, tidak hanya bagi jumlah pendapatan, namun juga bagi industri periklanan.

Untuk itu, Google berencana mempertahankan sistem ini setidaknya selama dua tahun untuk melihat bagaimana sistem ini dapat memberi perubahan. Ben Galbraith, senior director di Google menyampaikan bahwa pihaknya percaya para pengguna membutuhkan akses yang gratis terhadap produk-produk yang mereka sajikan.

Pernyataan ini menggambarkan bahwa pengguna dan pengiklan sejatinya memiliki hubungan simbiosis mutualisme dan tampaknya, Google berusaha menjembatani hubungan ini dengan konstruksi yang lebih aman.

Keamanan data merupakan hal yang penting untuk diperhatikan bagi pengguna internet, termasuk kita semua. Data yang bocor atau diumbar begitu saja tanpa proteksi dapat menyebabkan maraknya kejahatan kriminal seperti penipuan, phising, hingga peretasan.

Meski masih memiliki kekurangan, langkah Google menggunakan privacy sandbox patut diapresiasi sebagai trigger untuk membuat banyak orang menyadari pentingnya mengamankan data saat berselancar di dunia maya.

Referensi : BBC | Projasaweb | Tech CrunchCNN Business | The Conversation