Program Roots, Kerja Sama Kemendikbud Ristek dan UNICEF Mencegah Bullying
Program Roots | Roots Indonesia

Pada 2021, Kemendikbud Ristek bekerja sama dengan UNICEF Indonesia dan beberapa mitra pelaksanaan program untuk melaksanakan program buatan UNICEF, yaitu Program Roots. Latar belakang dilaksanakannya program tersebut adalah banyaknya siswa yang mengalami perundungan atau bully pada masa sekolah.

Program Roots Indonesia telah diterapkan ke lebih dari 1.800 SMP dan SMA Sekolah Penggerak serta SMK Pusat Keunggulan yang melibatkan guru dan agen perubahan sebagai fasilitator.

Menilik Program Roots Indonesia

Menilik Program Roots Indonesia | Roots Indonesia
Menilik Program Roots Indonesia | Roots Indonesia

Bullying merupakan salah satu tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Mirisnya, tindakan ini masih sering terjadi di sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak-anak menuntut ilmu, terlebih lagi sekolah merupakan rumah kedua bagi anak untuk mengembangkan potensinya.

Kasus bullying semakin hari semakin bertambah tidak hanya secara langsung tetapi juga lewat digital yang dikenal sebagai cyber bullying yang memiliki dampak yang sama kepada mentalitas anak. Hal tersebut perlu diperhatikan oleh para pengawas seperti guru dan siswa lainnya, sebab bullying baik secara verbal dan non-verbal akan memberikan luka mendalam yang mempengaruhi psikisnya.

Dilansir dari website resmi Roots Indonesia, Pemerintah Indonesia telah menempatkan 'Perlindungan Anak' sebagai prioritas nasional. Sebagaimana tercantum pada Undang-Undang No. 35 Tahun 2014, pencegahan kekerasan termasuk bullying menjadi bagian dari perlindungan anak dan menjadi prioritas nasional.

Kehadiran Program Roots Indonesia yang dijalankan oleh Kementerian bersama UNICEF diharapkan dapat membentuk iklim yang aman dan nyaman untuk anak belajar dan menuntut ilmu. Tak hanya itu, program ini juga menjadi upaya penguatan karakter siswa didik.

Dikutip oleh Kompas, Program Roots Indonesia merupakan program pencegahan perundungan di sekolah yang dikembangkan oleh UNICEF Indonesia sejak 2017. Bersama pihak terkait, seperti pemerintah Indonesia, praktisi pendidikan, akademis, dan perlindungan anak dengan tujuan untuk menghindari perundungan sesama teman sebaya.

Program Roots Indonesia nanti akan memilih siswa yang memiliki pengaruh bagi siswa lain untuk menjadi agen perubahan yang tentunya akan memberikan dampak positif bagi lingkungan. Nantinya, terdapat 30 siswa yang terpilih di setiap sekolah untuk menyebarkan nilai positif yang menggambarkan tujuan dari Program Roots.

Lantas, apakah guru berperan? Ya, seperti yang disebutkan sebelumnya guru akan berperan sebagai fasilitator yang ditulis oleh website Cerdas Berkarakter akan melibatkan guru dengan memfasilitasi diskusi agen perubahan dalam pertemuan Roots. Selain itu guru juga dapat memberikan fasilitas sebagai tempat untuk para siswa melapor.

Detail dari Program Roots

Dilansir dari Direktorat Sekolah Menengah Pertama atau DITSMP, berikut merupakan detail dari Program Roots Indonesia:

1. Melakukan Survey

Para penggerak Program Roots akan melakukan survey sebagai tahap awal ke beberapa sekolah dengan memberikan pertanyaan mengenai keberadaan bullying di sekolah. Survey yang diajukan kepada guru dan murid ini bersifat rahasia sehingga para responden akan lebih nyaman memberikan jawaban.

2. Pemilihan Agen Perubahan

Nantinya penggerak akan memilih Agen Perubahan berdasarkan teori jejaring sosial dengan cara meminta para siswa untuk menuliskan sepuluh teman terdekatnya.

3. Pelatihan Agen Perubahan

Setelah terpilih, para agen akan diberikan pelatihan sebanyak 15 kali pertemuan dalam satu semester. Fasilitator juga akan berperan besar sehingga fasilitator yang terpilih harus dekat dengan agen perubahan.

4. Kampanye Anti Perundungan

Setelah selesai dengan pelatihan, nantinya para agen perubahan dapat merayakan acara puncak dengan mengikuti Kampanye Anti Perundungan. Nantinya acara ini akan diisi oleh ide-ide brilian dari para agen perubahan seperti pentas seni dan lainnya.

5. Evaluasi Program

Evaluasi ini akan didiskusikan oleh penggerak program. Nantinya dilihat apakah program ini berhasil atau tidak dengan melihat bagaimana angka kasus perundungan nantinya. Jika angka kasus turun, maka program disebut berhasil.

Bagaimana menurut kalian, Goodmates? Apakah Program Roots Indonesia sudah menjadi program yang berjalan efektif di lingkungan kalian? Jangan sungkan untuk segera melapor jika kamu menemukan kasus perundungan atau bullying di sekitar. Pertolonganmu akan sangat berharga bagi mereka.

Referensi: Cerdas Berkarakter | Roots Indonesia Kompas | DITSMP