Angka Putus Sekolah Masih Tinggi, Permasalahan Pendidikan Saat Ini
Ilustrasi Pendidikan | Foto: Freepik

#FutureSkillsGNFI

Anak putus sekolah ialah kondisi dimana anak mengalami keterlantaran yang disebabkan oleh sikap dan perlakuan orang tua yang tidak memberikan perhatian layak terhadap proses tumbuh kembang anak. Orang tua seperti ini juga tidak memperhatikan hak-hak anak untuk menempuh penidikan yang layak.

Putus sekolah merupakan permasalahan pendidikan yang sedang digeluti oleh Indonesia hingga saat ini. Pada awal tahun 2022 ini, Sekjen Kemendikbudristek menyebutkan Angka Putus Sekolah (APS) untuk anak SD saja meningkat 10 kali lipat dibanding tahun 2019. Hal ini menyebabkan penurunan jumlah peserta didik.

Selain itu melansir dari Databoks, per 31 Desember 2021 angka anak putus sekolah mencapai 75.303 orang anak. Jenjang Sekolah Dasar memegang angka tertinggi, yakni 38.716 orang. Jenjang SMP mengalami kenaikan dari yang sebelumnya (tahun 2020) 11.378 orang menjadi 15.042 orang.

Anak-anak Sekolah Dasar berhak mendapatkan pendidikan
Anak-anak Sekolah Dasar berhak mendapatkan pendidikan | Foto: Unsplash

Meski demikian, secara tren angka anak putus sekolah cenderung menurun selama enam tahun terakhir. Angka putus sekolah jenjang Sekolah Dasar masih tergolong yang paling tinggi dalam tiga tahun berturut-turut.

Hal ini tentu tidak dapat didiamkan. Terlebih, pemegang angka tertinggi anak putus sekolah ialah anak Sekolah Dasar yang harus menerima kenyataan pahit bahwa dirinya tak bisa melanjutkan pendidikan.

Faktor-Faktor Penyebab Angka Putus Sekolah

Beberapa penelitian telah dilakukan dalam mendalami hal ini. Salah satunya pada tahun 2018 Sabarudin dkk. menyatakan faktor-faktor penyebab putus sekolah di Desa Wanseriwu disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal meliputi minat atau kemauan dan kepercayaan pada diri sendiri. Sedangkan faktor eksternal terdiri dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, faktor ekonomi, dan pemahaman orang tua terhadap pentingnya pendidikan.

Penelitian lain dilakukan Utami dan Rosyid pada tahun 2020. Dinyatakan bahwa faktor penyebab dari siswa putus sekolah di wilayah Duri Kepa, Jakarta Barat disebabkan pula oleh dua faktor, yakni faktor Internal dan Eksternal.

Faktor internal meliputi motivasi yang rendah terhadap sekolah, dan kesulitan mengikuti pelajaran. Adapun faktor eksternal, meliputi permasalahan keluarga, kurangnya perhatian orang tua, dan bekerja.

Peran Orang Tua dalam Menyikapi Angka Putus Sekolah

Pendidikan informal atau pendidikan di lingkungan keluarga sangat berpengaruh dalam mengurangi faktor internal putus sekolah. Dalam penelitian yang dilakukan di Kelurahan Argasunnya Kota Cirebon tahun 2021 oleh Adawiyah, ada beberapa peran orang tua dalam menumbuhkan minat belajar siswa, yakni:

1) Memahami pentingnya pendidikan, dengan mengetahui pentingnya pendidikan maka orangtua akan mendukung anaknya untuk bersekolah sesuai dengan anjuran pemerintah yang berlaku.

2) Membimbing anak, Membimbing ini bisa berupa dampingan orangtua saat anak sedang belajar dirumah, seperti mengerjakan Pekerjaan Rumah (PR).

3) Motivasi, dalam wawancara yang sudah dilakukan banyak cara yang dilakukan orangtua dalam memotivasi anaknya seperti memberikan nasihat, semangat dan juga hadiah kepada anaknya.

4) Fasilitas, Fasilitas yang memadai dapat menumbuhkan semangat belajar anak menjadi lebih baik.

Pemerintah dalam Menyikapi Angka Putus Sekolah

Meskipun penting, tak semua orang tua dapat memberikan hal-hal yang disebutkan di atas bagi anaknya. Di sinilah peran pemerintah melalui lembaga kepemerintahan setempat untuk mengendalikan hal tersebut.

Peran pemerintah dalam hal ini diwujudkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 75 tahun 2016 tentang Komite Sekolah. Orang tua melalui Komite sekolah dapat memberikan masukan terhadap program dan kebijakan sekolah serta mengawasi pelayanan pendidikan sebagai upaya peningkatan mutu. Orang tua juga dapat menggalang dana melalui upaya kreatif dan inovatif sebagai upaya membantu sekolah dalam pencapaian Standar Nasional Pendidikan (SNP).

Dalam beberapa penelitian tentang keterlibatan orang tua di sekolah, beberapa temuan menujukkan bahwa keterlibatan orang  tua dalam tata kelola sekolah mampu meningkatkan kinerja sekolah. Hal ini diwujudkan melalui penyedian sumber daya yang dibutuhkan sekolah serta meningkatkan parenting skill orang tua.

Di sisi lain, faktor yang harus diperhatikan oleh pemerintah adalah faktor eksternal. Di antaranya meliputi faktor ekonomi dan bekerja.

Selvia dan Yeniwati dalam penilitiannya pada tahun 2020 menyatakan terdapat hubungan searah antara kemiskinan dan pekerja anak. Di mana kemiskinan mempengaruhi pekerja anak namun pekerja anak tidak mempengaruhi kemiskinan. Selain itu, dinyatakan pula bahwa tinggi rendahnya pekerja anak akan mempengaruhi perkembangan angka putus sekolah di Indonesia.

Pemerintah telah berkomitmen mengambil langkah strategis dalam hal ini. Dilansir dari laman Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, dalam peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak atau World Day Against Labour 2021, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah mengungkapkan pemerintah telah melakukan penarikan pekerja anak dari berbagai jenis pekerjaan terburuk sejak 2008. Dalam periode 2008 sampai dengan 2020 terdapat 143.456 pekerja anak yang telah ditarik dari sekitar 1,5 juta pekerja anak yang berumur 10-17 tahun berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2019.

Pemerintah juga meratifikasi Konvensi ILO Nomor 138 mengenai usia minimum untuk diperbolehkan bekerja dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1999. Selain itu, pemerintah juga memasukkan substansi teknis yang ada dalam Konvensi ILO tersebut dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Pemberantasan Angka Putus Sekolah (APS) pada akhirnya merupakan tugas yang harus diemban bersama. Bukan hanya pemerintah, namun juga peran orang tua dalam melaksanakan pendidikan di lingkungan keluarga. Jika semua pihak sudah memiliki kesadaran dan ikut andil, maka tujuan nasional pendidikan di Indonesia akan terwujud.

 

Referensi: KOMPAS | Databoks | Jurnal 1 | Jurnal 2 | Jurnal 3 | Kemdikbud | Jurnal 4 | SetKab RI