Isu Quarter Life Crisis di Kalangan Muda
Ilustrasi Quarter Life Crisis | Sumber: freepik.com

#FutureSkillsGNFI

Apa Itu Quarter Life Crisis?

Apakah kamu pernah merasa tidak tahu akan menjadi apa untuk kedepannya? Apakah kamu pernah merasa tidak percaya diri ketika melihat temanmu sukses, sedangkan kamu merasa tidak ada kemajuan? Atau apakah kamu merasa tidak memiliki potensi apapun dalam diri kamu? Jika kamu merasakan ketiga contoh hal tersebut, itu artinya kamu sedang mengalami masalah Quarter Life Crisis. Isu ini memang menjadi marak diperbincangkan khususnya kalangan muda yang berusia 18-30 tahun. Meskipun begitu, ada saja yang masih awam dan menganggap remeh terhadap isu Quarter Life Crisis. Mereka yang mengalami isu ini merasa tidak memiliki arah, tujuan, dan khawatir terhadap kehidupannya di masa yang akan datang.

               Sumber: freepik.com

Menurut para ahli yang didefinisikan oleh Robbins dan Wilner (2001) Quarter Life Crisis sebagai krisis identitas yang terjadi akibat dari ketidaksiapan mereka pada saat proses transisi dari masa remaja menuju dewasa.

Quarter Life Crisis dapat mengakibatkan kesehatan mental terganggu dan bahkan yang lebih buruknya lagi masalah ini dapat mengakibakan seseorang merasa ingin mengakhiri hidupnya. Oleh karena itu, perlu adanya bantuan dan rasa peduli terhadap isu ini. Quarter Life Crisis tidak hanya memiliki sisi negatif saja, tetapi juga memiliki hal positifnya, yaitu seseorang akan lebih siap untuk menghadapi permasalahan dan mulai sadar jika ingin mencapai suatu keinginan perlu adanya usaha, serta akan lebih memahami diri sendiri.

Sumber: freepik.com
Ilustrasi seseorang merasa cemas | Sumber: freepik.com

Mengapa Isu Quarter Life Crisis bisa terjadi?

Isu ini bisa terjadi biasanya karena seseorang merasa shock karena baru saja melepas masa remajanya dan mulai memasuki kehidupan baru sebagai orang dewasa. Adapun beberapa hal yang menjadi penyebab isu ini bisa terjadi:

  • Melihat teman berhasil menggapai impiannya, sedangkan dirinya merasa tidak ada kemajuan.

Ketika seseorang sedang melihat media sosialnya, dia melihat postingan teman sebayanya yang berhasil menggapai impian. Disaat itulah dia merasa iri dan takut merasa tertinggal.

  • Bingung dengan rencana kedepannya akan menjadi seperti apa.

Sering kali banyak kalangan muda yang masih labil dengan rencana kedepannya. Sejak kecil ingin menjadi seorang dokter, saat remaja impiannya berubah ingin menjadi seorang jaksa, dan tibalah di masa dewasa impiannya kembali berubah inign menjadi seorang entrepreneur. Namun, mereka masih ragu apakah bisa menggapai tujuannya atau tidak sehingga menimbulkan kecemasan dalam dirinya.

  • Terjebak dalam situasi yang tidak disukai.

Situasi yang tidak mendukung akan menimbulkan bekurangnya motivasi.

  • Harus menjadi seseorang yang mandiri.

Saat proses transisi dari masa remaja menuju dewasa seseorang dituntut harus belajar mandiri dan tidak bergantung lagi kepada orang tua.

  • Masalah percintaan.

Contohnya, pertama kali mengalami putus cinta.

  • Masalah keuangan.

Masalah ini banyak juga dikhawatirkan tentang keuangan masa depan agar tercukupi.

Dari beberapa penyebab di atas adapun tanda-tanda seseorang mengalami Quarter Life Crisis:

  • Bingung dengan masa depannya.
  • Tidak memiliki motivasi.
  • Tidak memiliki teman diskusi atau curhat.
  • Takut tertinggal akan pencapaian.
  • Sulit membuat keputusan ketika dihadapkan dengan beberapa pilihan.
Ilustrasi kepedulian terhadap QLC | Sumber: freepik.com

Mengatasi Quarter Life Crisis

  • Berhenti membandingkan diri dengan orang lain.

Membandingkan-bandingkan kehidupan orang lain dengan kehidupan diri sendiri merupakan hal yang paling mudah menimbulkan permasalahan Quarter Life Crisis. Kita boleh saja membandingkan kehidupan orang dengan kehidupan diri sendiri. Dengan catatan sebagai motivasi untuk semangat lebih maju. Untuk mengatasinya bisa dengan cara tidak berlebihan bermain media sosial atau jika perlu istirahat sementara dari dunia media sosial karena kebahagiaan yang kita lihat di media sosial, belum tentu seperti itu di dunia nyata.

  • Olahraga, meditasi, dan berwisata.

Olahraga, meditasi, dan berwisata dapat mencegah stres, depresi, dan cemas. Hal ini juga, dapat membantu mengontrol emosi dan mendapat pikiran yang positif.

  • Membaca buku

Selain meningkatkan pengetahuan dan pola pikir yang kritis, dalam sebuah penelitian membaca buku juga dapat meredakan stres.

  • Belajar mencintai diri sendiri

Bersyukur, belajar memahami diri sendiri, dan memuji atas apa yang telah kita lalui merupakan sesuatu hal yang penting.

  • Bergabung dengan komunitas yang peduli isu Quarter Life Crisis.

Banyak seseorang yang mengatakan bahwa dirinya merasa sendirian dan kesepian. Oleh karena itu, bergabung dengan komunitas adalah hal yang tepat agar bisa berdiskusi mengenai Quarter Life Crisis.

  • Jangan ragu untuk konsultasi ke psikolog.

Psikolog akan membantu mengatasi masalah yang sedang dihadapi.

Quarter Life Crisis memang wajar terjadi di kalangan muda. Namun, bila masalah ini terus berlanjut dapat berdampak buruk juga. Jangan sampai menganggap remeh kepada orang yang mengalaminya. Semoga isu Quarter Life Crisis bisa tersebar luas kepada masyarakat yang masih belum mengetahui dan berharap semakin banyak masyarakat yang peduli terhadap isu ini.

 

Referensi: Alodokter