Quarter Life Crisis, Penyebab Overthinking di Malam Hari
ilustrasi seseorang alami quarter life crisis. | Sumber: Anthony Tran/Unsplash

Pasti ada di antara Goodmates yang pernah merasa mulai kehilangan arah dengan hubungan yang kamu jalani, bingung dengan career path yang kamu punya, sering merasa khawatir dengan masa depan, atau belum tahu rencana ke depan.  Bisa jadi kamu mengalami quarter life crisis, yang sering menjadi penyebab overthinking di malam hari.

Pasalnya, pengalaman yang kamu rasakan tadi merupakan sebagian dari tanda-tanda quarter life crisis. Berdasarkan penjelasan oleh 7 Summit Pathways, quarter life crisis merupakan periode ketidakpastian, stres, dan pencarian jati diri yang dialami banyak anak muda saat mereka mulai memasuki babak baru dalam hidupnya.

Quarter life crisis biasa dialami oleh seseorang yang sedang berada di usia 20-an hingga 30-an tahun. Menghadapi perubahan memang tidak akan pernah terasa mudah, dibutuhkan waktu adaptasi dan penerimaan yang cukup hingga diri ini siap. Masa transisi inilah yang dapat membuat seseorang merasa overwhelmed.

Melalui sebuah survei pada tahun 2017 lalu, Linkedin melakukan survei pada ribuan orang yang berusia 25-33 tahun untuk mengetahui pernahkah mereka mengalami quarter life crisis. Hasilnya menunjukan, 75 persen dari usia 25-33 tahun pernah mengalami quarter life crisis dengan rata-rata dialami oleh mereka yang berusia 27 tahun.

Quarter life crisis memiliki empat tahapan. Tahapan pertama adalah fase merasa terjebak. Kamu mungkin merasa terjebak atau tidak yakin dengan pekerjaan atau dengan hubungan yang sedang kamu jalani saat ini.

Tahapan kedua adalah perpisahan. Banyak orang yang mengalami QLC membuat mereka meninggalkan pekerjaan, kelompok sosial atau pasangan dan melewati masa perpisahan dan kesepian.

Tahapan ketiga adalah waktunya refleksi, kalibrasi ulang, dan pencarian jati diri. Orang yang mengalami QLC akan mulai mencoba menemukan apa yang sebenarnya mereka inginkan di fase ini.

Terakhir adalah tahapan pemahaman. Menjelang akhir QLC, kebanyakan orang mulai muncul dengan pemahaman yang lebih baik, motivasi yang lebih besar dan pandangan yang lebih positif untuk masa depan mereka.

Siap hadapi Quarter Life Crisis dengan cara ini

ilustrasi planner. membuat plan dapat berguna hadapi quarter life crisis. | Sumber: Estée Janssens/Unsplash
ilustrasi planner. membuat plan dapat berguna hadapi quarter life crisis. | Sumber: Estée Janssens/Unsplash

Kabar baiknya, meski terasa menantang dan melelahkan, fase ini dapat kita lewati, kok. Merangkum penjelasan oleh Lifehack, berikut beberapa cara yang dapat kamu coba.

Jika saat berpergian, umumnya kita akan pergi dengan penuh persiapan. Mulai dari perbekalan, peta hingga susunan rencana. Begitu juga untuk menghadapi QLC. Kamu dapat menyusun rencana hidup untuk 5 tahun ke depan. Mulailah dengan mengidentifikasi 3 nilai teratas yang kamu miliki kemudian buat bucket list yang ingin kamu capai.

Tentukan prioritas yang ingin dicapai dalam 12 bulan ke depan, tulis apa saja yang kamu perlukan untuk bantu mewujudkan hal itu secara spesifik. Dengan melakukannya secara rutin dan konsisten dapat mengurangi risiko terkena QLC.

Saat menyusun rencana, kamu dapat menggunakan metode SMART, Buatlah rencana yang specific (spesifik), measureable (terukur), achievable (dapat dicapai), realistic (realistis), dan time-bound (terikat waktu).

Berhenti membandingkan diri. Tanpa kita sadari, hal ini mungkin tak jarang kerap kita lakukan. Sesederhana pikiran yang timbul setelah tidak sengaja stalking laman Linkedin seorang teman sebaya kemudian membandingkannya dengan pencapaian diri sendiri. Media sosial juga dapat membuat kamu memiliki ekspektasi untuk hidup sesuai standar milik orang lain. 

Sudah banyak penelitian yang menunjukan pengaruh menggunakan media sosial dengan kesehatan mental. Padahal layaknya etalase di toko, media sosial bisa jadi hanya menunjukan sisi-sisi keindahannya saja.

Saat menghadapi QLC, kamu mungkin ingin istirahat sejenak dari media sosial. Ketika kamu berhenti membandingkan diri, kamu juga mulai berhenti merasa tertekan dengan tekanan sosial dari sekitar yang kamu dapatkan.

Dengan mengubah lingkungan sekitarmu dan melakukan detoksifikasi pikiran juga dapat membantu kamu mengubah pola pikir dan lebih fokus pada hal-hal positif lainnya. Misalnya, istirahat selama beberapa waktu dari media sosial atau acara-acara televisi yang dapat memberi pengaruh negatif.

Terakhir, alih-alih fokus terhadap hasilnya, nikmati prosesnya. Mustahil membuat perubahan dalam semalam. Kamu harus sabar untuk menjalani prosesnya yang membutuhkan waktu. Fase proses inilah yang biasanya banyak memberikan pelajaran dan pengalaman berharga untuk hidupmu.

Seperti sebuah pepatah yang berbunyi, there is no storm last forever. This, too, shall pass. Keep going, Goodmates, soon you will get there!

Referensi: Lifehack | 7 Summit Pathways | Linkedin