Menjaga Eksistensi Reog Ponorogo Melalui Unit Kegiatan Mahasiswa Sardulo Anorogo
Sumber: Instagram Sardulo Anorogo

#FutureSkillsGNFI

Reog adalah salah satu warisan budaya yang menjadi ikon dan kebanggaan seluruh masyarakat Indonesia khususnya Kabupaten Ponorogo. Reog Ponorogo telah diusulkan menjadi warisan budaya tak benda (WBtB) atau intangible culture heritage (ICH) kepada Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) atau UNESCO. Usulan tersebut disampaikan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kepada UNESCO dalam lokakarya pengusulan ICH UNESCO pada 15-16 Februari 2022 yang diselenggarakan di Jakarta.

Menjaga kelestarian budaya khususnya kesenian tradisional ditengah arus globalisasi bukanlah suatu hal yang mudah. Bahkan tak jarang pula generasi muda yang masih menggandrungi kesenian tradisional dianggap sebagai anak yang ketinggalan zaman oleh sebayanya. Kesenian daerah lainnya seperti Wayang, Jaranan, dan Ondel-ondel pun semakin jarang kita temukan di tengah masyarakat.

Akan tetapi kita tidak perlu mengkhawatirkan hal tersebut karena faktanya masih ada sekelompok orang yang menyukai dan menyadari bahwa semua itu perlu kita rawat eksistensinya. Di beberapa lembaga pendidikan seperti kampus kita bisa menemui sekelompok mahasiswa yang tergabung didalam organisasi dan unit kegiatan yang fokus pada kesenian tradisional. Salah satunya adalah UKM Sardulo Anorogo yang berada dibawah naungan Universitas Jember.

Sardulo Anorogo adalah Unit Kegiatan Mahasiswa tingkat universitas yang bergerak dalam pembelajaran, pelatihan, dan pementasan Reog Ponorogo di Universitas Jember. UKM Sardulo Anorogo mewadahi minat dan bakat mahasiswa khususnya di bidang kesenian tradisional Reog Ponorogo. UKM ini memiliki dua divisi peminatan yaitu kepenarian (jathil, warok, kelana sewandana, bujang ganong, dan dhadak merak) dan musik (gong, kenong, bonang, kendhang, slompret, dan angklung).

"Saat ini UKM Sardulo Anorogo diketuai oleh Andri Pristiawan Firdianto yang merupakan mahasiswa S1 Jurusan Akuntansi, Universitas Jember. Bertindak sebagai pembina UKM Sardulo Anorogo adalah Bapak Jarkasi dan Bapak Suharto. UKM Reog Sardulo Anorogo didirikan pada tahun 1993 yang berawal dari keikutsertaan Universitas Jember dalam Pekan Kesenian Mahasiswa di Propinsi Bali," ujar Arif Nur Widyatama, salah satu pengurus utama Sardulo Anorogo.

Terdapat berbagai kegiatan baik rutin yang dilakukan oleh UKM ini seperti kegiatan latihan mingguan yang biasa dilakukan di lapangan utama kampus dan boleh ditonton oleh siapapun. Selain itu, UKM ini juga tergolong aktif mengikuti kejuaraan. "Dua tahun yang lalu kami sempat mendapatkan prestasi peringkat tiga nasional di ajang Festival Nasional XXVI Grebeg Suro yang memperebutkan Piala Presiden," ucap Arif.

Sardulo Anorogo terbuka pada seluruh mahasiswa Universitas Jember baik yang sebelumnya sudah memiliki kemampuan dalam seni reog maupun mereka yang belum pernah memaikan kesenian ini. Setidaknya terdapat dua pendekatan dalam perekrutan anggota baru yang diselenggarakan rutin setiap tahun, yang pertama adalah dengan rekruitmen terbuka dengan proses seleksi administrasi bagi mereka yang belum pernah bermain reog dan pendekatan khusus dengan mengajak secara langsung Seniman Reog dari kalangan mahasiswa untuk bersama melestarikan kebudayaan ini di lingkungan kampus.

"Kami disini sangatlah terbuka bagi siapapun selama dia memiliki komitmen dan minat dalam kesenian Reog, siapapun dan dari latar belakang apapun boleh bergabung bersama kami disini. Nantinya akan ada proses diklat bersama bagi calon anggota baru sebelum resmi menjadi bagian dari UKM kesenian Sardulo Anorogo," ujar Arif, mahasiswa sosiologi yang juga menjadi pengurus UKM.

Sejatinya masih banyak generasi muda baik secara individu maupun kelompok yang memiliki minat dan bakat dalam kesenian tradisonal. Dengan pendekatan tertentu, kita bisa mempopulerkan kebudayaan ini agar tidak tenggelam oleh pengaruh gaya hidup dan tren yang berasal dari luar.

Menjaga warisan budaya merupakan kewajiban kita bersama. Kesenian yang lahir dari kebudayaan setiap daerah di Indonesia adalah simbol keberagaman dan persatuan bangsa kita. Mari kita dukung dan jaga bersama eksistensi budaya kita sebagai identitas kebhinekaan Negara Indonesia. Salam Budaya!

 

Referensi: Wawancara | Sardulo Anorogo