Saatnya Beralih dari Pembalut Sekali Pakai ke Bahan Jangka Panjang
Sustainable Fabric © Unsplash/Divazus Fabric Store

Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Beberapa hal juga pasti sudah kamu jalani dalam mengupayakan lingkungan yang sehat, termasuk mendaur ulang sampah, mengurangi penggunaan plastik, meminimalisir penggunaan kendaraan berbahan bakar yang menciptakan polusi udara, dan lain-lain. Pencemaran lingkungan pun dapat dikurangi. Lalu, apalagi yang dapat dilakukan?

Mengubah gaya hidup menjadi gaya hidup yang eco friendly merupakan salah satu cara untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus menyehatkan tubuh kita sendiri. Gaya hidup ini bisa diterapkan oleh siapa saja, tanpa terkecuali perempuan.

Menstruasi yang dialami perempuan setiap bulannya membuat perempuan harus siap sedia menggunakan pembalut sebagai kebutuhannya. Diketahui dari Zero Waste Nusantara, satu perempuan dapat menghasilkan sampai 300 pembalut setiap tahunnya.

Dengan kuantitas yang sebegitu banyaknya, pembalut sekali pakai merupakan salah satu limbah yang berdampak buruk bagi lingkungan. Hal ini dikarenakan gas metana yang menguar dari pembalut tersebut ketika dibuang.

Dilansir dari Mongabay.co.id, berdasarkan penelitian dari University of Exeter, metana adalah salah satu unsur dalam gas rumah kaca yang menyebabkan kenaikan temperatur di permukaan Bumi. Hal itu akan menyebabkan dampak pemanasan lebih jauh karena kekuatan metana 25 kali lipat dalam menyebabkan pemanasan global dibandingkan karbon dioksida.

Selain itu, pembalut sekali pakai juga berdampak buruk bagi lingkungan karena memiliki kandungan plastik dan pemutih di dalamnya. Bahan dasar plastik membuatnya sulit terurai, dan bahan pemutih tentunya dapat mencemari lingkungan di sekitarnya.

Plastik memang sangat berguna bagi kehidupan manusia, tetapi menciptakan banyak masalah sejak digunakan sampai proses penguraiannya. Oleh karena itu, diperlukan alat yang memiliki fungsi yang sama dengan pembalut sekali pakai, tetapi lebih ramah lingkungan.

Saatnya beralih ke bahan ramah lingkungan

Fabric Waste © Unsplash/Vuk8691
Fabric Waste © Unsplash/Vuk8691

Terdapat beberapa bahan yang cocok digunakan sebagai pembalut sekali pakai, yang kini toko-tokonya juga sudah bisa kamu temukan di internet ataupun toko dalaman perempuan secara langsung.  Kamu dapat mengganti pembalut sekali pakaimu dengan dalaman bahan yang bisa digunakan secara berulang.

Tidak seperti pembalut yang sekali pakai langsung buang, tetapi dalaman jangka panjang dapat kamu pakai berulang-ulang dengan mencucinya kembali. Bahan-bahan dalaman yang nyaman dapat menjadi prioritasmu dalam mencari dalaman yang tepat untuk beralih dari pembalut sekali pakai.

Pertama, terdapat bahan kapas organik atau organic cotton. Berdasarkan International Journal of Home Science, kapas organik ini baik untuk kulit dan memiliki daya serap yang tinggi. Bahannya halus dan tiap mempercepat bakteri-bakteri yang muncul di bahan yang lembab karena menyerap cairan.

Selain itu, berbeda dengan bahan atau jenis kapas lainnya, kapas organik dibudidayakan tanpa penggunaan bahan kimia dalam pupuk yang berbahaya, sehingga proses pembuatannya pun tidak berdampak buruk bagi sekitarnya. Mulai dari proses, pembuatan, dan penguraiannya pun kapas ini tidak bermasalah. Ia dapat terurai dengan mudah ketika dibuang.

Selain kapas organik, ada juga bahan bernama wol yang dapat menyerap cairan menstruasi dengan baik. Sayangnya, daya serap yang tinggi ini membuatnya sangat rentan ketika terkena air dan kamu harus berhati-hati pada reaksi alergi kulit yang kebanyakan tertuju pada bahan wol. Akan tetapi, bahan ini juga tetap dapat menjadi pertimbangan perempuan bagi kamu yang ingin mencari dalaman menstruasi jangka panjang yang memiliki bahan alami.

Sudah banyak komunitas-komunitas peduli alam yang sudah memulai gerakan dan usaha meninggalkan pembalut sekali pakai ke celana dengan bahan ramah lingkungan yang bisa kamu temui dimana saja. Untuk itu, tinggal kita yang perlu memotivasi diri untuk berubah ke gaya hidup yang ramah lingkungan!

Referensi: The Jakarta Post | Research Gate | National Geographic