Gawat! Salju Abadi Puncak Jayawijaya Terancam Punah Akibat Perubahan Iklim
Puncak Jayawijaya yang bersalju | Foto: Gaet Lokal

Jayawijaya adalah pegunungan tertinggi di Indonesia yang ada di Papua dan terkenal karena memiliki lapisan es atau salju abadi di puncaknya. Adanya salju abadi di Jayawijaya menambah keunikan negara Indonesia sebagai negeri khatulistiwa.

Sayangnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) baru saja mengeluarkan sebuah prediksi bahwa salju di puncak pegunungan tersebut akan punah tiga tahun mendatang, yaitu di 2025.

Kepunahan salju abadi ini terjadi karena perubahan iklim yang terus mengikis luas wilayah salju abadi, setelah sebelumnya menyelimuti puncak gunung. Suhu bumi yang makin panas memicu pencairan lapisan es secara terus menerus.

Dalam artikel ini, GoodSide akan membahas lebih lanjut mengenai fenomena salju abadi dan kaitannya dengan perubahan iklim akibat global warming (pemanasan global).

Fenomena Salju Abadi 

Gunung Kilimanjaro, salah satu gunung dengan puncak bersalju di daerah tropis | Foto: Wikipedia

Seperti yang kita tahu, garis khatulistiwa melintasi Indonesia yang memiliki iklim tropis. Akibatnya, Indonesia tidak memiliki musim salju seperti negara subtropis yang tidak berada di jalur khatulistiwa atau ekuator.

Baca juga: Ketahui Perbedaan Universitas, Institut, hingga Politeknik Sebelum Mendaftar

Meski begitu, salju tetap eksis di salah satu bagian wilayah Indonesia, yaitu puncak Jayawijaya. Hal ini karena puncak tersebut memiliki ketinggian mencapai 4.884 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tingginya puncak Jayawijaya menyebabkan temperatur di daerah tersebut turun drastis.

Sebagai informasi, temperatur udara akan turun setiap 100 mdpl. Itu sebabnya, di atas puncak Jayawijaya, suhu udara lebih dingin 49 derajat Celcius dari suhu di permukaan laut. Oleh karena itu, salju muncul di permukaan puncak gunung meskipun deretan pegunungannya berada di wilayah tropis.

Tak hanya di Indonesia, ada juga gunung lain di daerah khatulistiwa yang memiliki salju. Beberapa di antaranya Gunung Kenya (Kenya), Gunung Kilimanjaro (timur laut Tanzania), dan Gunung Ruwenzori (Afrika).

Prediksi Kepunahan Salju Abadi

Rekaman citra satelit tentang kondisi lapisan es sekitar Puncak Jayawijaya, 3 November 1988 | Foto: Mongabay/NASA

Kembali jadi topik perbincangan prediksi akan punahnya salju abadi di puncak Jayawijaya sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Bahkan, citra satelit menunjukkan bahwa penyusutan lapisan es secara cepat sudah terjadi sejak 1970-an.

Melansir dari Mongabay, pada diskusi virtual bertajuk “The Last Glacier in Papua” yang terselenggara 2010, seorang peneliti mengatakan bahwa lapisan es di puncak pegunungan Papua bisa hilang dalam waktu 10 tahun.

Baca juga: Bertambah Tinggi, Begini Perjalanan Menara Eiffel di Industri Penyiaran Radio Prancis

Penyebab dari prediksi tersebut di antaranya karena perubahan suhu, curah hujan, dan fenomena iklim, seperti La Nino dan El Nina. Lebih lanjut, antara tahun 2010 hingga 2015, bagian tengah lapisan es yang sebelumnya menghubungkan dua sisi gunung juga mulai menghilang.

Sementara pada 21 Maret lalu, Dwikorita selaku Ketua BMKG mengungkapkan bahwa salju abadi di puncak Jayawijaya kini hanya tersisa satu persen. Jika dulu luas lapisan es tersebut mencapai dua ratus kilometer persegi, kini hanya tersisa dua kilometer persegi.

Dampak Kepunahan Salju Abadi

Perairan Papua | Foto: Kompas

Selain membuat Indonesia tak lagi punya wilayah bersalju, hilangnya salju abadi juga akan memicu naiknya permukaan air laut dan merubah sistem hidro meteorologi hingga curah hujan. Air gletser yang turun ke sungai juga akan memengaruhi kehidupan biota air tawar.

Baca juga: Bisa Suburkan Tanah, Micin Bermanfaat Bagi Tanaman

Meski begitu, ada juga dampak positif dari fenomena kepunahan ini, yaitu memberi habitat baru bagi spesies tanaman endemik. Tujuannya, untuk tumbuh serta meningkatkan produktivitas lahan.

Itulah artikel terkait prediksi kepunahan salju abadi di puncak pegunungan Jayawijaya yang makin dekat. Hal ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua akan dampak perubahan iklim yang makin nyata. Maka, aksi penyelamatan lingkungan sudah harus lebih giat terlaksana.

Referensi: CNN | Kompas | Mongabay