Masuk Sastra Jepang UGM, Jadi Bisa Nonton Anime Tanpa Subtitle?
Ilustrasi: Kelas Sastra Jepang UGM | Foto: Elok Yuniar Shofriyah

#FutureSkillsGNFI

Tahukah kalian bahwa minat masyarakat Indonesia terhadap kebudayaan asing kian meningkat dari tahun ke tahun? Kini, untuk menunjang kebutuhan itu, terdapat berbagai program studi unik di Indonesia yang memiliki fokus untuk mempelajari kebudayaan asing.

Salah satu program studi unik tersebut adalah Sastra Jepang yang terdapat di Universitas Gadjah Mada (UGM). Program studi yang berpusat di lantai 4, Gedung Soegondo Fakultas Ilmu Budaya UGM, ini didirikan pada September 1989.

Nah, agar dapat lebih mengenal program studi ini, yuk kenalan langsung dengan Oktaviana Dwi Prastika atau kerap disapa Okta. Ia adalah mahasiswa Sastra Jepang UGM yang masuk pada 2020. Menurut pengakuan Okta, alasannya memutuskan untuk masuk karena ia jatuh cinta sama budaya pop Jepang. Kemudian, ia mempunyai cita-cita ingin kerja di bidang yang sejalan dengan hobinya agar merasa lebih enjoy menjalaninya.

Mata Kuliah yang Sugee (Keren)!

Program Studi Sastra Jepang UGM menawarkan mata kuliah yang menekankan pada kompetensi Empat Bidang Ilmu Kejepangan (EBIK), yaitu minat bahasa, budaya, sastra, dan sejarah Jepang.

Banyak mata kuliah program studi ini yang menarik untuk diikuti, lo. Beberapa mata kuliah yang diantarkan dalam program studi ini adalah Menyimak dan Berbicara, Tata Bahasa, Kanji, Pengantar Studi Kejepangan, Membaca, Mengarang, Sejarah Hubungan Indonesia-Jepang, dan lain sebagainya.

Bagi kamu yang tertarik pada bidang ilmu kejepangan, tentu mata-mata kuliah ini akan membantu untuk memahami bidang tersebut dengan baik, bahkan menjadikan salah satu atau beberapa di antara sebagai mata kuliah favorit.

“Mata kuliah kesukaanku itu Berbicara atau Kaiwa soalnya saat di kelas, mahasiswa dibebaskan membuat skrip percakapan asal masih sesuai tema yang ditentukan. Nah, di mata kuliah ini, kreativitas dan jiwa ngesimp-ku keluar. Di mata kuliah ini, aku bisa ‘ngesimp berkedok tugas’. Ngesimp tuh seperti fangirling gitu, contohnya aku bikin skrip memakai nama-nama idol atau oshi, terus aku bisa roleplay jadi oshi dan lain sebagainya,” terang Okta.

Prospek Kerja yang Oke

Program Studi Sastra Jepang UGM meluluskan sekitar 25‒35 orang per tahunnya. Sebagai mahasiswa Sastra Jepang, mereka dituntut untuk dapat menguasai bahasa Jepang secara lisan dan tulis serta memiliki pengetahuan mengenai kesusastraan, sejarah, dan kebudayaan Jepang secara teoretis dan praktis.

Dengan bekal tersebut, lulusan Sastra Jepang diharapkan siap menjalankan berbagai macam profesi yang berkaitan dengan bidang kejepangan, misalnya sebagai akademisi, penerjemah, birokrat, wirausahawan, konsuler, pelaku industri kreatif, jurnalis, dan sebagainya.

Okta menyatakan bahwa banyak lulusan Sastra Jepang UGM yang kini bekerja di perusahaan Jepang. Selain ada yang berprofesi sebagai pengajar di Jepang, adapula yang menjadi pengajar di Indonesia. Banyak pula yang bekerja di perusahaan Jepang yang terletak di Indonesia, contohnya sebagai interpreter perusahaan. Mengingat Sastra Jepang UGM memiliki jumlah mahasiswa yang tidak banyak, berkisar antara 30-an orang saja, tracking lulusannya pun cukup mudah.

Jadi, Bisa Nonton Anime Tanpa Subtitle?

Ini nih yang telah ditunggu-tunggu. Bukan menjadi rahasia umum bahwa banyak orang memandang mahasiswa Sastra Jepang pastilah bisa menonton anime tanpa subtitle. Lalu, bagaimana tanggapan Okta sebagai mahasiswa Sastra Jepang UGM dalam menanggapi hal itu?

Ia mengatakan, “Aku kurang bisa menjawab karena sejak masuk Sastra Jepang, aku jarang nonton anime, tapi 90% kemungkinan iya, terutama anime yang pakai bahasa sehari-hari. Kalau anime isekai (tentang berpindah dunia atau reinkarnasi di dunia lain) yang banyak istilah-istilah aneh ya agak susah."

“Sejak masuk Sastra Jepang, aku lebih sering menonton video VTuber (Virtual YouTuber–content creator yang membuat konten di YouTube sebagai karakter 2D atau 3D untuk berinteraksi dengan viewers) berbahasa Jepang dan Inggris," tambahnya.

Selain itu, terdapat fakta unik yang dikemukakan oleh Okta. Ia mengira mahasiswa Sastra Jepang itu semuanya adalah wibu (orang yang terobsesi dengan budaya Jepang berlebihan), tapi ternyata isinya kebanyakan kpopers! Ikut terkaget-kaget?

Kesimpulannya, mahasiswa Sastra Jepang bisa dapat saja menonton anime tanpa subtitle, tetapi tergantung tema animenya dan kemampuan bahasa Jepang yang dimiliki setiap mahasiswa ya.

Jika tema animenya ringan, bisa saja menontonnya tanpa subtitle. Kemudian, yang bisa dipahami pun tidak hanya anime, tetapi juga karya berbahasa Jepang lainnya, seperti video VTuber, film, novel, dan lainnya.

Kemampuan ini juga berlaku bagi orang lain yang sudah memiliki kemampuan bahasa Jepang yang bagus di luar mengikuti pembelajaran di Program Studi Sastra Jepang.

 

Referensi: Wawancara