Sayangi Diri Sendiri, Stop jadi People Pleaser!
Ilustrasi seorang people pleaser. | Sumber: Kelly Sikkema/Unsplash

Susah menolak ajakan teman untuk hangout bareng, padahal sebenarnya ingin rebahan di rumah saja. Sulit mengatakan “tidak” saat dimintai bantuan, padahal sebenarnya sedang sibuk sekali. Pernah mengalami hal-hal tadi? Hmm, jangan-jangan kamu seorang people pleaser..

Mengutip penjelasan oleh Very Well Mind, people pleaser biasanya menempatkan kebutuhan orang lain di atas kebutuhan diri sendiri. Seorang people pleaser biasanya baik hati dan suka menolong. Meski begitu, people pleaser juga biasanya mengalami kesulitan seperti sulit mengadvokasi diri mereka sendiri dan mengarah pada pengorbanan diri yang bisa berbahaya.

Orang dengan people pleaser dikaitkan dengan kepribadian “sociotropy” yaitu perasaan terlalu peduli untuk menyenangkan orang lain dan mendapatkan persetujuan mereka sebagai cara untuk mempertahankan hubungan. Perilaku ini bisa menjadi gejala beberapa kondisi kesehatan mental salah satunya seperti kecemasan atau depresi.

Gak cuman itu, menjadi people pleaser dalam jangka waktu lama juga dapat membawa efek lain terhadap diri kamu. Merangkum penjelasan oleh WebMD, kamu mungkin akan sedikit ‘lost’ dengan diri sendiri, menjadi bingung apa yang sebenarnya bisa benar-benar bikin kamu senang.

Selain itu, kamu juga bisa mengalami burn out karena tekanan untuk berusaha menyenangkan semua orang. Belum lagi ada kemarahan yang kamu pendam karena merasa orang-orang seperti memanfaatkan kamu. Kamu juga bisa kesusahan menikmati kebahagiaan-kebahagiaan kecil karena stres tersebut.

Berhenti menjadi people pleaser dengan cara ini

Memberikan batasan waktu seperti penggunaan jam kerja juga dapat membantu berhenti menjadi seorang people pleaser. | Sumber: Ella Jardim/Unsplash
Ilustrasi jam kerja yang dapat dijadikan batasan. | Sumber: Ella Jardim/Unsplash

Merangkum penjelasan oleh Very Well Mind, terdapat beberapa cara yang dapat kamu coba untuk berhenti menjadi seorang people pleaser. Pertama, kamu dapat menentukan batasan yang kamu miliki dengan jelas.

Misalnya, kamu memiliki batasan jam untuk menerima panggilan telepon. Apabila ada seseorang yang ingin menelepon di luar jam tersebut, kamu dapat mengkomunikasikan bahwa kamu memiliki batasan waktu sendiri. Dengan begini, kamu memiliki kontrol atas diri kamu sendiri.

Tentukan juga prioritas yang kamu miliki. Sebelum memutuskan untuk membantu sesuatu, coba pikirkan terlebih dahulu sebelum menjawab. Sebuah penelitian menemukan bahwa memberi jeda waktu sejenak sebelum membuat keputusan dapat meningkatkan akurasi keputusan yang diambil.

Kamu dapat membuat daftar pro dan kontra atau sesederhana menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti berapa lama waktu yang akan dibutuhkan? Apakah ini benar-benar sesuatu yang ingin kamu lakukan? Apakah kamu memiliki waktu untuk mengerjakannya? Seberapa stres nantinya apabila kamu mengatakan “iya”?

Memulai sesuatu biasanya memang tidak mudah, apalagi merubah sesuatu yang telah menjadi kebiasaan kita. Maka dari itu mulailah dari hal kecil dan secara pelan-pelan saja. Kamu bisa memulai dengan berani berkata “tidak” pada permintaan-permintaan sederhana.

Menjadi baik dan senang membantu mungkin memang hal baik. Namun, apabila berlebihan dalam usaha menyenangkan orang lain, hal ini dapat membuat Goodmates lelah secara emosional lo.

Bedakan antara menjadi baik dan menjadi seorang people pleaser. Kalau Goodmates melakukan sesuatu karena takut tidak akan disukai orang apabila mengatakan “tidak”, bisa jadi kamu merupakan seorang people pleaser.

Jangan lakukan sesuatu hanya karena kamu takut akan penolakan atau hanya menginginkan persetujuan dari orang lain. Ingatkan dirimu,  pada akhirnya mustahil dapat menyenangkan semua orang.

Referensi: WebMD | Very Well Mind | Psychology Today