Seberapa Penting Restorasi Gambut untuk Indonesia?
Upaya Restorasi Gambut © PantauGambut/CIFOR

Penulis: Fishya Elvin

Tanah gambut menjadi salah satu jenis tanah yang penting untuk kesuburan tanah dan juga memelihara lingkungan di sekitarnya. Menurut buku Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan Aspek Lingkungan Tanah, tanah gambut adalah tanah yang sangat bertekstur, terdiri dari endapan organik, tepatnya dari sisa-sisa tumbuhan atau hewan yang tertimbun selama bertahun-tahun dan membusuk. Tanah gambut memiliki banyak jenis lagi, dan tiap jenisnya dapat diklasifikasikan menjadi tanah yang subur dan tanah yang tidak, bergantung pada lapisannya.

Terlepas dari kesuburannya yang berdampak pada tumbuhan-tumbuhan di lahan tersebut, tanah gambut menjadi kebutuhan yang penting demi menjaga kestabilan lingkungan. Di tengah fenomena-fenomena yang merupakan dampak dari perubahan iklim, seperti perubahan cuaca yang kian ekstrim, manusia telah menyadari betapa pentingnya peran tanah gambut dalam hal tersebut.

Dinyatakan dalam analisis WRI, total emisi yang dapat dihindarkan dari kerusakan dan pengeringan lahan gambut mencapai sekitar 5.5-7.8 gigaton CO2 atau karbon dioksida, yang dimana hal tersebut setara dengan hampir seluruh gas rumah kaca (GRK) yang dihasilkan Amerika Serikat dalam setahun. Tindakan yang dapat dilakukan manusia untuk memulai kegiatan penyelamatan tanah gambut ini adalah dengan restorasi gambut.

Menurut kanal Pantau Gambut, restorasi gambut adalah sebuah proses yang dilakukan untuk mengembalikan fungsi ekologi lahan gambut serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang terkena dampak dari lahan gambut yang terdegradasi. Restorasi ini dilakukan dengan menjaga kandungan air dari lahan tanah gambut tersebut, agar tidak mengalami kekeringan dan dapat memantik kebakaran lahan. Untuk itu, Badan Restorasi Gambut atau BRG mengupayakan restorasi melalui pendekatan yang lebih kita kenal sebagai 3R, yang terdiri dari rewetting atau pembasahan gambut, revegetasi atau penanaman ulang, serta revitalisasi sumber mata pencaharian.

Apa saja yang telah dilakukan Indonesia untuk restorasi gambut ini?

  • Memetakan gambut

Tentunya langkah-langkah selanjutnya tidak dapat direalisasikan apabila pihak restorasi gambut tidak mengetahui letak dari lahan gambut itu sendiri. Gambut dipetakan menjadi beberapa bagian dan jenis, karena tiap jenis itu sendiri memiliki langkah restorasi yang berbeda pula. Pertama, lokasi gambut dibedakan menjadi lokasi gambut yang terdegradasi dan gambut yang tidak terdegradasi.

  • Mengklasifikasikan restorasi

Setelah gambut dipetakan, maka pihak restorasi gambut dapat mengklasifikasikan restorasi apa yang seharusnya dilakukan atau cocok dengan lahan yang tengah dikelola. Contohnya, jenis restorasi apa yang dilakukan? Siapa yang melakukannya? Berapa lama proses pelaksanaan restorasinya? Apakah lahan gambut harus melalui proses rewetting terlebih dahulu, atau bisa langsung digunakan untuk penanaman atau revegetasi?

  • 3R (rewetting, revegetasi, revitalisasi)

Rewetting atau pembasahan dilakukan untuk membasahi gambut agar tidak mudah kering sehingga menyebabkan oksidasi atau terbakar. Hal-hal yang sudah dilakukan dalam tahap ini adalah membangun sekat kanal atau canal blocking, penimbunan saluran atau backfilling, pembuatan sumur bor atau penahan air untuk menyimpan air di sungai atau kanal.

Selanjutnya, revegetasi adalah proses penanaman kembali lahan gambut dengan tanaman yang tidak mengganggu siklus air dalam ekosistem gambut. Hal ini dilakukan untuk memperkokoh sekat kanal dan membuat lahan gambut tidak terkikis oleh aliran air.

Terakhir adalah revitalisasi. Revitalisasi yang dimaksud di sini adalah dengan memberdayakan ekonomi masyarakat lokal. Setelah melalui proses yang cukup panjang, maka pihak restorasi gambut juga harus berkomunikasi dengan masyarakat setempat agar tetap menjaga keseimbangan ekosistem sebagai pihak yang hidup berdampingan dengan lahan gambut tersebut. Salah satu contoh tindakan yang menjaga ekosistem tersebut meliputi tidak menanam tumbuhan yang tidak ramah dengan lahan gambut tersebut.

Proses restorasi gambut memerlukan waktu yang panjang dan tidak singkat. Langkah-langkah yang sudah direncanakan harus dieksekusi dengan tepat, sehingga menghasilkan lahan gambut yang sehat. Dengan demikian, terjaganya ekosistem gambut dapat berpengaruh pada produksi gas rumah kaca Indonesia yang diminimalisir, sehingga lebih baik bagi lingkungan.

 

Referensi: Balai Penelitian Tanah | Media Indonesia | PantauGambut