Selamat Tinggal FOMO, Selamat Datang JOMO!
Ilustrasi seseorang yang sedang mengalami FOMO. | Sumber: Shane/Unsplash

Rasanya gak pengen ketinggalan informasi apa-apa, selalu merasa ada sesuatu yang menyenangkan atau hal penting yang bakal terlewat. Jadi pengen tahu terus, “lagi ada apa ya? si a si b sedang apa ya?”

Belum lagi semenjak pandemi dan semuanya beraktivitas dari rumah, lihat update instastory temen SMA langsung kepo “dia lagi apa ya?” geser sedikit lihat instastory teman SD langsung penasaran “Bagus banget spot fotonya, ini di mana, ya?”

Hmm, jangan-jangan kamu sedang mengalami FOMO?

FOMO atau singkatan dari Fear Of Missing Out, melansir penjelasan oleh Healthy Matters, merupakan sebuah kebutuhan kompulsif untuk tidak melewatkan peristiwa atau momen penting yang menarik. Istilah FOMO ternyata sudah ada sejak lama, bahkan pada tahun 2013, Oxford English Dictionary menambahkan definisi FOMO sebagai perasaan cemas atau khawatir atas kemungkinan tidak diikutsertakan dalam peristiwa menarik yang terjadi di tempat lain yang dialami orang lain.

Mengutip Cohive Space, istilah ini pertama kali diproduksi oleh Patrick J. McGinn melalui tulisannya di Harvard Business School. Kalau Kawan pernah mengalami FOMO, jangan khawatir,  Kawan gak sendirian kok. Sebuah studi bahkan memperkirakan sekitar 70 persen dari semua orang dewasa di negara maju pernah mengalami FOMO.

Ubah FOMO jadi JOMO, Joy Of Missing Out

meditasi dapat menjadi salah satu cara mendapatkan JOMO. | Sumber: Надя Кисільова/Unsplash
Meditasi dapat menjadi salah satu cara mendapatkan JOMO. | Sumber: Надя Кисільова/Unsplash

Nah, kalau FOMO adalah perasaan takut ketinggalan ini-itu, JOMO adalah kebalikannya. Dikutip dari Psychology Today, JOMO merupakan antidot atau semacam penangkal untuk FOMO. JOMO adalah praktik saat Kawan menikmati apa yang sedang dilakukan saat ini tanpa membandingkan dengan kehidupan orang lain atau memikirkan apa yang sedang orang lain lakukan di luar sana. JOMO akan berperan seperti benteng yang melindungi Kawan dari perasaan FOMO.

Kabar baiknya, JOMO dapat dilatih lo Kawan. Merangkum penjelasan oleh Good Therapy, ada beberapa tips untuk melatih JOMO dalam diri kita. Salah satunya dengan punya batasan waktu menggunakan media sosial, Kawan bisa menggunakan aplikasi-aplikasi reminder untuk tetap fokus dan set-time saat membuka media sosial. Media sosial memang bukan sumber masalah utama, tapi media sosial juga dapat menjadi salah satu potensi FOMO kita terbentuk.

Dikutip dari Psychology Today, Kawan juga dapat membuat waktu tech-free untuk diri sendiri, selain memberi batasan waktu dalam menggunakan media sosial, Kawan juga boleh kok meng-unfollow akun-akun yang memberikan negative vibes. Tetap ingat ya, semua hal yang ada di media sosial biasanya sudah ‘dipoles’. Seperti etalase toko, media sosial mungkin hanya menampilkan sisi yang bagus-bagus saja.

Disconnect to reconnect. Kapan terakhir kali Kawan memiliki waktu bersama diri sendiri? Atau menghabiskan waktu bersama keluarga? Dikutip dari Psychology Today, JOMO dapat dilatih dengan menikmati pengalaman hidup yang nyata, daripada sibuk scrolling menikmati drama-drama di media sosial, cobalah untuk be present, live the moment, sepenuhnya sadar bahwa Kawan sedang berada di sini pada waktu ini.

Kawan juga dapat melakukan meditasi untuk mengurangi kecemasan dan menjernihkan pikiran. Dikutip dari Psycom, salah satu cara meditasi dapat dilakukan dengan fokus merasakan kelima indera kita. Suara burung yang bersahutan, hembusan angin yang menerpa wajah, bau khas tanah sehabis hujan. Sambil melakukan meditasi, Kawan dapat melakukan teknik mengatur pernapasan agar lebih fokus dan rileks.

Change thoughts, be grateful. Mengutip penjelasan oleh Good Therapy, FOMO dapat disebut bagian bentuk dari distorsi kognitif, di mana terdapat pola pikir irasional seperti Kawan percaya ada orang yang sebenarnya tidak menyukai Kawan saat Kawan tidak diundang ke acaranya. Kondisi ini dapat menyebabkan depresi dan kondisi kesehatan mental lainnya.

Teknik terapi perilaku kognitif dapat membantu seseorang mengenali distorsi kognitif saat itu terjadi, dan membantu mengubah pikirannya menjadi lebih positif. Kawan juga dapat melatih rasa syukur, misalnya sesederhana menuliskan 3 hal yang Kawan syukuri hari itu. Menurut psikologi, bersyukur dapat memberikan perasaan yang lebih positif.

Last but not least, Kawan tidak selalu harus mengikuti setiap acara atau harus melakukan sesuatu hanya karena takut ketinggalan hal-hal penting. Melatih diri sendiri berani untuk menolak dan berkata ‘tidak’ juga merupakan salah satu bentuk self-love dan self-care lo.

Melansir dari Psycom, Kawan dapat mencoba teknik “play the tape” seperti bertanya pada diri sendiri apa yang Kawan rasakan apabila tetap berada di rumah? Dan apa yang akan dirasakan bila pergi ke acara tersebut? Untuk mempermudah, Kawan dapat menuliskan pro dan kontra saat akan memutuskan sesuatu.

Bye-bye FOMO, says hi to JOMO!

Referensi: Forbes | Boston Magazine | Healthy Matters | Good Therapy | Psychology Today | Psycom | Nesslabs | Very Well Mind | Connection by Finsa