Senang Berterus Terang? Hindari Menyakiti Perasaan Orang Lain
Ilustrasi Berbincang © Unsplash/Priscilla Du Preez

Terdapat dua jenis orang di dunia ini. Satu adalah tipe yang senang melakukan sugar coating atau menutupi fakta sebenarnya dengan kalimat manis. Di sisi lain, tipe satunya lagi adalah tipe orang yang langsung memberitahu fakta sebenarnya dengan singkat, padat, dan jelas.

Biasanya untuk jenis kedua ini, kita dapat langsung mengerti apa yang mereka maksud ketimbang berhadapan dengan orang yang berbelit-belit. Dengan begitu, kita tidak perlu memecahkan kode-kode sulit yang disampaikan oleh seseorang, yang membuat kita tidak mengerti apa yang mereka maksud. Sikap ini merupakan sikap yang dinamakan straightforward.

Straightforward atau berterus terang adalah sifat untuk menjadi asli, dan meskipun kadang-kadang mungkin menyakiti orang lain. Orang dengan sifat straightforward menganggap mereka hanya bersikap nyata pada semua orang di sekitarnya.

Bersikap lugas memungkinkan mereka untuk realistis. Ini juga akan memperkuat keberanian dan membebaskan mereka untuk menjadi diri mereka sendiri. Berhubungan dengan gaya hidup yang serba instan dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, sikap dan sifat seseorang dapat dipengaruhi oleh apa yang dilihatnya di internet.

Dengan banyaknya fitur reaksi, komentar, dan memberikan likes, seseorang dapat mempengaruhi kehidupan orang lain hanya dengan ketikan jari. Untuk itu, penting sekali untuk menyadari kebiasaan berbicara berterus terang di media sosial atau internet.

Biasanya, orang yang dianggap lebih tidak sopan dan tidak sabaran, masuk ke kategori orang yang straightforward. Mereka yang tidak berusaha menjelaskan perasaannya dengan berputar-putar cenderung tidak memikirkan orang lain, dan hanya menginginkan orang lain untuk mengerti dirinya. Kalau begitu, apakah memang menjadi straightforward adalah hal yang buruk?

Orang yang straightforward akan jujur dengan keadaan yang sebenarnya. Ketika temannya bertanya apakah pakaian yang dikenakan hari ini cocok dengannya, dibanding mengatakan hal yang ingin temannya itu dengar, ia akan memilih berkata yang sejujurnya. Kamu juga mungkin pernah berada di posisi ini dimana kamu berusaha untuk menjaga perasaan orang tersebut.

Itu juga merupakan salah satu bentuk usahamu agar pembicaraan tidak berlangsung buruk atau situasi berubah canggung. Nyatanya, menjadi straightforward nantinya bukan hanya melegakan bagimu, tetapi kamu juga dapat membantu orang lain untuk berkembang pada sesuatu yang di luar kemampuannya.

Bagaimana temanmu tahu kalau ia perlu mengubah pakaiannya yang tidak sesuai kalau kamu tidak memberitahukannya? Bersifat straightforward adalah hal yang bagus. Akan tetapi, ada beberapa hal yang dapat kamu perhatikan untuk meminimalisir menyakiti perasaan orang lain.

Berbicara jelas tetapi tetap sopan

Ilustrasi © Unsplash/Priscilla Du Preez
Ilustrasi © Unsplash/Priscilla Du Preez

Berkata secara jelas tetapi tetap sopan adalah kunci untuk menjalin hubungan dan memulai komunikasi dengan seseorang yang lebih baik. Selain merupakan solusi dan tips untuk orang-orang straightforward, berkata secara jelas dan sopan juga termasuk etika dalam berbahasa.

Coba tanyakan ke diri sendiri, “Apakah aku mengorbankan kejelasan maksudku untuk menjaga perasaannya?” atau “Apakah aku berbohong hanya untuk bersikap sopan?” untuk menghindari pernyataan sikap yang ambigu.

Menekankan sudut pandang kita sendiri

Terlepas dari langsung memberikan pendapat atau opini kita kepada orang lain yang bertanya pada kita tentang sesuatu dari dirinya. Kita bisa menempatkan diri sebagai orang tersebut dan menjelaskan pendapat kita.

Ingat, pendapat orang pastinya berbeda-beda, tetapi setiap orang bebas menyatakan pendapat. Untuk menjadi straightforward, kamu bisa menggunakan kalimat yang didahului dengan seperti, “Kalau aku sih…” atau “menurutku…” sebelum menyatakan pendapatmu. 

Hal tersebut dilakukan sebagai tanda bahwa tidak semua orang berpikir seperti kita, dan kenyataan yang kita utarakan bukanlah sesuatu yang sudah pasti. Dengan begitu, kita dapat menyampaikan pendapat dengan tetap ingin menjaga perasaan orang lain.

Tidak bertele-tele

Semakin panjang kamu ingin menjelaskan perasaanmu, semakin besar juga kesempatanmu untuk berbicara tanpa arah. Maka, hal itu membuat orang yang tengah berbicara denganmu menangkap maksud yang berbeda dari apa yang kamu kehendaki.

Setelah berkata jelas, sopan, dan menekankan kalau ini hanya berdasar pada opinimu saja, penting sekali untuk kamu pastikan bahwa kalimatmu tetap singkat. Biarkan mereka yang lebih banyak berbicara, dan tugas kamu untuk mendengarkan dengan baik.

Interaksi manusia dipenuhi oleh risiko terjadinya konflik. Kita tidak akan terlepas dari akhir yang tidak sesuai dengan rencana kita. Seseorang yang berterus terang menyimpan energinya untuk menyatakan fakta atau apa yang dirasakannya ketimbang menyembunyikan kesedihan atau kerisauannya.

Orang-orang yang menganggap dirinya itu straightforward dan terlalu agresif ketika berbincang dengan orang lain, nyatanya tidak seperti apa yang mereka pikirkan. Riset menunjukkan bahwa kebanyakan dari lawan bicara mereka tidak berpikir demikian.

Jadi hal itu hanyalah ketakutan mereka semata. Kita pasti dapat berkomunikasi dengan orang lain lebih mudah dengan berterus terang dan mulai berpikir bahwa kemauan kita tidak selamanya tidak dapat dimengerti orang lain. Jadi, apakah kamu termasuk ke seseorang yang straightforward?

Referensi: Personality and Social Psychology Bulletin | Psychology of language